Gempa M5,3 Guncang Garut, BPBD Perintahkan Pemantauan ke Pesisir

- Rabu, 05 Agustus 2026 | 20:00 WIB
Gempa M5,3 Guncang Garut, BPBD Perintahkan Pemantauan ke Pesisir

PARADAPOS.COM - Gempa bumi bermagnitudo 5,3 yang berpusat di perairan selatan Jawa Barat, tepatnya 79 kilometer Barat Daya Kabupaten Pangandaran, mengguncang wilayah Garut pada Rabu (5/8) malam. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut langsung merespons dengan memerintahkan pemantauan menyeluruh, terutama di kawasan pesisir, untuk mendeteksi potensi kerusakan dan dampak lanjutan. Guncangan dirasakan cukup kuat oleh warga, memicu kepanikan singkat di sejumlah titik perkotaan.

Respons Cepat BPBD dan Instruksi Pemantauan Lapangan

Menyusul rilis resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), jajaran BPBD Garut tidak tinggal diam. Kepala Pelaksana BPBD Garut, Aah Anwar Saefuloh, menegaskan bahwa pihaknya telah menggerakkan seluruh elemen kebencanaan, mulai dari tingkat kabupaten hingga ke jajaran kecamatan dan desa/kelurahan. Instruksi utamanya sederhana namun krusial: lakukan verifikasi kondisi di lapangan masing-masing.

"Iya melakukan pemantauan menindaklanjuti informasi gempa bumi berdasarkan rilis BMKG dengan magnitudo 5,3," ujarnya saat dikonfirmasi di Garut, Kamis. Pernyataan ini menegaskan bahwa langkah antisipatif diambil segera setelah data resmi diterima, bukan menunggu laporan masuk dari masyarakat.

Fokus Utama: Pesisir dan Wilayah Rawan

Perhatian khusus diarahkan pada area pesisir pantai. Meski episentrum berada di laut, potensi dampak seperti likuifaksi atau kerusakan infrastruktur di zona dekat garis pantai tetap menjadi prioritas pemeriksaan. Anwar menuturkan, berdasarkan informasi BMKG, gempa tersebut berpusat di 79 km Barat Daya Kabupaten Pangandaran dengan kedalaman dangkal, hanya 18 kilometer. Kedalaman ini menjelaskan mengapa guncangannya terasa signifikan hingga ke Garut.

Getaran yang terasa jelas ini membuat pihaknya bergerak cepat. "Gempa tersebut cukup dirasakan oleh masyarakat Kabupaten Garut," kata Anwar, menggambarkan intensitas kejadian yang tidak bisa dianggap remeh. Oleh karena itu, setiap laporan dari lapangan menjadi sangat vital untuk memetakan skala kerusakan secara akurat.

Instruksi Tegas dan Laporan Warga

Dalam arahan internalnya, Anwar meminta seluruh jajaran untuk segera melaporkan apabila ada kerusakan bangunan, korban jiwa, maupun kondisi lainnya akibat bencana gempa bumi tersebut. "Informasikan apabila terdapat dampak di wilayah masing-masing, seperti kerusakan bangunan, korban jiwa, maupun kondisi lain yang berkaitan dengan kejadian gempa," tegasnya. Instruksi ini memastikan tidak ada informasi yang terlewatkan dan penanganan dapat dilakukan secara terukur.

Di sisi lain, kesaksian warga menggambarkan situasi yang mencekam sesaat setelah guncangan. Sejumlah warga di wilayah perkotaan Garut merasakan guncangan gempa Pangandaran cukup kuat, bahkan secara spontan berlarian keluar bangunan. Salah satunya adalah Agus (55), seorang warga Jalan Cimanuk, Kecamatan Garut Kota. "Saya sedang duduk di ruang tamu, tiba-tiba goyang, ternyata gempa, saat itu langsung keluar," tuturnya. Kesaksian ini mengonfirmasi bahwa refleks evakuasi mandiri terjadi secara alami di tengah kepanikan.

Secara kronologis, BMKG merilis gempa magnitudo 5,3 pada 5 Agustus 2026 pukul 21.55 WIB. Lokasi persisnya berada di koordinat 8.12 Lintang Selatan, 107.91 Bujur Timur, atau 79 km Barat Daya Kabupaten Pangandaran dengan kedalaman 18 kilometer. Data ini menjadi acuan utama bagi BPBD dan masyarakat untuk memahami karakteristik gempa yang terjadi.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar