BMKG: 117 Wilayah di Sulut Masuk Kategori Hari Tanpa Hujan, 13 Lokasi Kering Lebih dari 60 Hari

- Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:50 WIB
BMKG: 117 Wilayah di Sulut Masuk Kategori Hari Tanpa Hujan, 13 Lokasi Kering Lebih dari 60 Hari

PARADAPOS.COM - Manado, 6 Agustus 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebagian besar wilayah Sulawesi Utara (Sulut) masih mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kriteria pendek hingga sangat panjang. Data terbaru per 1 Agustus 2026 menunjukkan 56 lokasi berstatus HTH pendek, 48 lokasi HTH panjang, dan 13 lokasi lainnya masuk kategori sangat panjang dengan durasi lebih dari 60 hari tanpa hujan. Kepala Stasiun Klimatologi Sulawesi Utara, Aris Yunatas, mengungkapkan bahwa kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat prediksi curah hujan rendah akan mendominasi wilayah tersebut hingga awal September mendatang. Dominasi HTH dan Curah Hujan Rendah "Untuk HTH kriteria pendek terjadi di 56 lokasi, kriteria panjang di 48 lokasi, serta 13 lokasi HTH sangat panjang dengan durasi lebih dari 60 hari," jelas Aris Yunatas saat dihubungi dari Manado, Kamis (6/8/2026). Pernyataan ini merujuk pada hasil pemutakhiran data yang dilakukan pihaknya pada awal bulan ini. Akumulasi curah hujan pada Dasarian III Juli 2026 sendiri tercatat berada pada kriteria rendah hingga tinggi. Menariknya, curah hujan tertinggi justru terpantau di Tabukan Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, dengan akumulasi mencapai 298 milimeter. Angka ini menjadi pengecualian di tengah dominasi kondisi kering yang melanda sebagian besar kabupaten/kota lain di Sulut. Prediksi Cuaca hingga September 2026 Melihat ke depan, prospek cuaca di Sulawesi Utara masih belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang signifikan. BMKG memprediksi wilayah ini akan didominasi curah hujan rendah dengan akumulasi di bawah 50 milimeter per dasarian. Peluang terjadinya kondisi ini terbilang sangat tinggi, mencapai 80 hingga 90 persen, dan diprakirakan berlangsung mulai Dasarian I Agustus hingga Dasarian I September 2026. Artinya, masyarakat perlu bersiap menghadapi masa kering yang cukup panjang. Prediksi ini sejalan dengan peringatan dini yang telah dikeluarkan sebelumnya terkait puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026. Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis Terkait peringatan dini Dasarian I Agustus 2026, BMKG menyatakan bahwa secara umum cuaca di Sulawesi Utara tidak berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat. Namun demikian, ada satu pengecualian yang perlu diwaspadai pada tanggal 2 Agustus, di mana sebagian wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Sementara itu, untuk Peringatan Dini Curah Hujan Tinggi (PDCHT) periode 1–10 Agustus 2026, BMKG mencatat nihil atau tidak ada wilayah yang masuk kategori tersebut. Hal ini semakin menegaskan bahwa potensi hujan lebat dalam waktu dekat sangat minim. Situasi berbeda justru terjadi pada Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis (PDKM). Status waspada diberlakukan untuk Kota Bitung dan Kabupaten Minahasa. Sementara itu, status siaga kekeringan meteorologis berlaku di sejumlah daerah, yaitu Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Kota Bitung, Kota Manado, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten Minahasa Utara, dan Siau Tagulandang Biaro. Dinamika Atmosfer dan Laut Berdasarkan pemantauan terbaru terhadap dinamika atmosfer dan laut pada Dasarian III Juli 2026, BMKG mendeteksi fenomena El Nino masih berintensitas kuat. Anomali Suhu Permukaan Laut (SST) di wilayah Nino 3.4 tercatat mencapai 2.45, angka yang cukup signifikan dan berkontribusi pada berkurangnya pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi Utara. Di sisi lain, Indian Ocean Dipole (IOD) atau Dipole Mode Samudra Hindia berada pada fase netral dengan nilai 0.715. Kondisi ini berarti IOD tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap curah hujan di wilayah Indonesia bagian barat. Pola angin di atas Indonesia saat ini didominasi oleh angin timuran dan angin selatan yang kekuatannya lebih tinggi dibanding kondisi normalnya. Terdapat pula belokan angin di sekitar wilayah ekuator yang turut memengaruhi distribusi uap air. Sementara itu, anomali SST di perairan Indonesia umumnya terpantau normal hingga lebih dingin, dengan pengecualian di perairan utara Papua dan barat Sumatra yang relatif lebih hangat. Kondisi SST tersebut diprediksi akan bertahan hingga November 2026 sebelum akhirnya mulai menghangat kembali pada Desember 2026. Artinya, potensi kekeringan masih akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan. BMKG pun telah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat dan pemerintah daerah di Sulawesi Utara untuk mengantisipasi dampak musim kemarau ini, terutama dalam hal ketersediaan air bersih dan pencegahan kebakaran hutan serta lahan.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini