Rupiah Menguat ke Rp17.923 per Dolar AS di Tengah Meredanya Ketegangan Geopolitik dan Data PDB Kuartal II yang Solid

- Kamis, 06 Agustus 2026 | 09:50 WIB
Rupiah Menguat ke Rp17.923 per Dolar AS di Tengah Meredanya Ketegangan Geopolitik dan Data PDB Kuartal II yang Solid

PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Kamis, 6 Agustus 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah naik 10 poin atau 0,06 persen ke level Rp17.923 per USD, sementara data Yahoo Finance mencatat penguatan lebih tinggi yakni 17 poin ke Rp17.915 per USD. Penguatan ini didorong oleh meredanya ketegangan geopolitik global, terutama optimisme pembukaan kembali Selat Hormuz, serta data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 yang melampaui ekspektasi pasar. Hari ini terasa ada sedikit kelegaan di pasar keuangan domestik. Setelah beberapa pekan dibayangi ketidakpastian konflik Timur Tengah, sentimen pelaku pasar mulai berbalik positif. Hal ini tercermin dari laju rupiah yang perlahan tapi pasti merangkak naik, meski pergerakannya masih fluktuatif di tengah dinamika global yang belum sepenuhnya mereda. Data Beragam dari Tiga Sumber Utama Menariknya, pergerakan rupiah hari ini tercatat berbeda tipis di masing-masing platform data. Jika Bloomberg menempatkan rupiah di level Rp17.923 per USD, Yahoo Finance justru mencatat posisi yang sedikit lebih kuat, yakni Rp17.915 per USD. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang diterbitkan Bank Indonesia menunjukkan angka Rp17.919 per USD. Perbedaan kecil ini sebenarnya hal yang lumrah terjadi, mengingat masing-masing lembaga memiliki metode perhitungan dan waktu transaksi yang berbeda. Namun, yang jelas, dari ketiga sumber tersebut terlihat bahwa tekanan terhadap rupiah mulai berkurang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Optimisme Pembukaan Kembali Selat Hormuz Salah satu katalis utama penguatan rupiah hari ini datang dari kabar positif di panggung geopolitik internasional. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengamati bahwa pasar sedang diliputi optimisme terkait potensi dibukanya kembali Selat Hormuz. Kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak global perlahan mereda. “Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS di tengah penurunan harga minyak mentah dunia akibat meningkatnya optimisme bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka kembali,” ucapnya dikutip dari Antara di Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026. Optimisme ini bukan tanpa dasar. Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyatakan bahwa AS dan Iran berpotensi mencapai kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Kesepakatan itu diharapkan dapat memulihkan kebebasan navigasi bagi kapal-kapal komersial, sebuah perkembangan yang dinanti-nantikan pasar. Dampaknya langsung terasa di harga komoditas. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang pekan lalu masih bertengger di level 86 dolar AS per barel, kini telah turun signifikan ke posisi 74,60 dolar AS per barel. Penurunan harga minyak ini otomatis meredakan kekhawatiran akan meningkatnya tekanan inflasi global. Sentimen Domestik yang Menopang Di sisi dalam negeri, fundamental ekonomi juga ikut memberikan angin segar bagi pergerakan rupiah. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 yang ternyata lebih kuat dari perkiraan banyak analis. Perekonomian Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy), melampaui ekspektasi pasar yang sebelumnya hanya memproyeksikan angka 5,1 persen. Capaian tersebut tentu menjadi kabar baik di tengah ketidakpastian global. Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) tercatat mencapai Rp3.576,2 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp3.396,6 triliun. Meski demikian, Lukman Leong mengingatkan agar pelaku pasar tidak serta-merta berpuas diri. Menurutnya, data PDB yang kuat kali ini tidak otomatis menjamin keberlanjutan pertumbuhan di masa mendatang. Namun, ia mengakui bahwa penurunan harga minyak yang berkelanjutan dapat menjadi penyelamat. “PDB kuartal II yang lebih kuat tidak mengartikan akan kembali kuat ke depannya. Namun, apabila harga minyak turun terus, ini akan meredakan tekanan pada fiskal dan rupiah, dan bisa mendukung pertumbuhan ke depannya,” kata Lukman. Dengan kombinasi faktor eksternal yang membaik dan data domestik yang solid, pergerakan rupiah ke depan akan sangat bergantung pada konsistensi penurunan harga minyak dan bagaimana pasar mencerna kebijakan lanjutan dari bank sentral AS.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar