PARADAPOS.COM - Jakarta: Beban utang kerap menjadi tekanan psikologis yang mengganggu ketenangan hidup, membuat tidur tidak nyenyak, dan menjadikan penghasilan terasa cepat habis sebelum sempat dialokasikan untuk pembayaran kewajiban. Dalam ajaran Islam, praktik utang-piutang sejatinya diperbolehkan sebagai bagian dari muamalah, namun agama ini juga memberikan tuntunan spiritual berupa doa khusus bagi mereka yang sedang dililit kesulitan finansial. Salah satu doa yang diriwayatkan langsung dari Rasulullah SAW diyakini memiliki keutamaan besar, bahkan disebut mampu membantu melunasi utang meskipun sebesar gunung, apabila diamalkan dengan sungguh-sungguh dan penuh keyakinan.
Dalam keseharian, tidak sedikit orang yang merasa risau ketika memiliki tanggungan. Pikiran menjadi tidak fokus, produktivitas menurun, dan terkadang muncul perasaan putus asa. Padahal, dalam tradisi Islam, ada solusi spiritual yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk menghadapi situasi semacam ini. Doa ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan bentuk ikhtiar batin yang mengharapkan pertolongan Allah SWT dalam urusan rezeki dan pelunasan utang.
Doa yang Diajarkan Rasulullah SAW untuk Melunasi Utang
Doa yang dimaksud bersumber dari riwayat Sayidina Ali bin Abi Thalib RA dan tercatat dalam kitab monumental karya Imam An-Nawawi, Al-Adzkar. Dalam riwayat tersebut, doa ini pada mulanya disampaikan kepada seorang mukatab, yaitu budak yang sedang berusaha mencicil kemerdekaan dirinya. Saat orang tersebut mengeluhkan beratnya beban utang yang ditanggung, Sayidina Ali RA kemudian memberikan wejangan yang menenangkan.
"Maukah kamu aku ajarkan beberapa kalimat yang pernah diajarkan Rasulullah saw. kepadaku? Sungguh, jikalau kamu memiliki utang sebesar gunung, niscaya Allah akan membantumu melunasinya," ujar Sayidina Ali RA kepada orang tersebut.
Kalimat-kalimat yang diajarkan tersebut kemudian dikenal sebagai doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca oleh siapa pun yang sedang berada dalam kesulitan finansial. Berikut adalah lafal doa yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Sayidina Ali RA:
Allahummakfini bi halalika 'an haramik, wa aghnini bi fadhlika 'amman siwak
Artinya: "Ya Allah, cukupilah diriku dengan rezeki-Mu yang halal sehingga terhindar dari yang haram, dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak membutuhkan bantuan dari selain-Mu."
Keutamaan doa ini terletak pada permohonan agar seseorang dicukupkan dengan rezeki halal dan dikuatkan agar tidak bergantung pada makhluk lain. Ini merupakan bentuk tawakal yang mendalam, memadukan usaha lahiriah dengan kepasrahan batiniah kepada Sang Pencipta.
Pentingnya Sikap Bijak dalam Berutang
Meskipun Islam membolehkan utang-piutang, bukan berarti praktik ini bisa dilakukan tanpa pertimbangan matang. Besaran pinjaman dan tujuan penggunaannya harus dipikirkan secara cermat dan bijaksana. Para ulama kerap mengingatkan bahwa utang sebaiknya hanya diambil untuk kebutuhan yang benar-benar mendesak dan produktif, bukan untuk gaya hidup atau konsumsi yang tidak perlu.
Hindari utang jika tidak ada kebutuhan yang sangat mendesak, karena beban tanggungan yang besar berpotensi menyulitkan diri sendiri di kemudian hari. Sikap hati-hati ini sejalan dengan prinsip kehati-hatian dalam bermuamalah, di mana setiap keputusan finansial harus mempertimbangkan kemampuan dan risiko di masa depan. Dengan demikian, doa dan ikhtiar berjalan beriringan, menciptakan keseimbangan antara usaha lahir dan batin dalam menghadapi ujian hidup.
Artikel Terkait
PDIP Jatim Kembali Gelar Soekarno Cup 2026 di Surabaya dan Gresik, 16 Tim Siap Bertanding
Mantan Penyidik KPK Desak Kejagung Bongkar Jaringan Korupsi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
KSP Lepas Ekspor Perdana 40 Kontainer Alumina ke Jepang Usai Polemik Regulasi LTJ Teratasi
Wali Kota Bandung Janji Evaluasi Total Trotoar Jalan Ahmad Yani Usai Viral Pejalan Kaki Nyaris Tertabrak Motor