PARADAPOS.COM - Ratusan pasang mata tertuju pada sebuah kandang kayu berukuran 5x5 meter di Palangka Raya, Sabtu (8/8). Di dalamnya, seekor anak babi berlari kencang menghindari kejaran para peserta yang matanya tertutup kain gelap. Bukan sekadar hiburan, lomba "nyama unik" ini menjadi bagian dari perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia yang digelar Kerukunan Warga Dayak Dusun Maanyan dan Lawangan (Dusmala) Tebama. Kegiatan ini bukanlah sekadar adu ketangkasan, melainkan juga napas tradisi yang diwariskan turun-temurun dari kebiasaan leluhur berburu di hutan Kalimantan. Lebih dari Sekadar Lomba Menangkap Babi Sekilas, lomba ini tampak seperti permainan sederhana yang mengundang tawa. Namun, di balik hiruk-pikuk kandang dan pekikan peserta, tersimpan filosofi yang dalam. "Nyama unik" bukan hanya soal siapa yang paling cepat atau paling kuat. Ia adalah pengingat akan keterampilan bertahan hidup yang pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian masyarakat Dayak. Bayangkan, di dalam kandang yang relatif sempit, seorang peserta harus mengandalkan pendengaran, intuisi, dan keberanian. Mata yang tertutup kain gelap memaksa mereka untuk melawan rasa takut dan mengandalkan naluri. Kondisi ini sengaja diciptakan untuk meniru situasi nyata di hutan lebat, di mana jarak pandang sering kali terbatas dan setiap langkah harus diperhitungkan dengan cermat. Antara Tawa, Teriakan, dan Nilai Tradisi Suasana di lokasi lomba berlangsung meriah. Deru semangat dari para pendukung bercampur dengan gelak tawa ketika seorang peserta salah menangkap arah atau justru tersandung kaki rekannya sendiri. Setiap kali anak babi berhasil lolos dari sergapan, sorak-sorai penonton semakin pecah. Namun, di sela-sela kemeriahan itu, terlihat jelas bagaimana setiap peserta berusaha keras mengingat kembali "pelajaran" yang mungkin pernah mereka dengar dari para tetua. "Ini bukan hanya tentang hadiah," ujar salah seorang panitia yang memantau jalannya lomba, Redianto Tumon Sp, saat ditemui di sela kegiatan. "Ini adalah cara kami untuk tetap terhubung dengan akar budaya, untuk mengenang bagaimana nenek moyang kami dulu bertahan hidup," lanjutnya menjelaskan makna di balik setiap gerakan para peserta. Menjaga Warisan di Tengah Zaman Di era modern yang serba cepat ini, tradisi semacam "nyama unik" menjadi semakin penting untuk dilestarikan. Kegiatan ini bukan sekadar tontonan, melainkan jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan kearifan lokal yang hampir terlupakan. Dengan mengemasnya dalam bentuk perlombaan yang menghibur, Dusmala Tebama berhasil menarik minat banyak orang, terutama generasi muda, untuk mengenal dan menghargai warisan leluhur mereka. Lomba yang digagas oleh Kerukunan Warga Dayak Dusun Maanyan dan Lawangan ini membuktikan bahwa tradisi tidak harus kaku dan membosankan. Ia bisa dikemas secara kreatif dan tetap relevan di tengah arus zaman. Melalui cara ini, nilai-nilai keberanian, ketelitian, dan rasa hormat terhadap alam yang diwariskan para leluhur terus dijaga dan dihidupkan. (Redianto Tumon Sp/Rayyan/Yogi Rachman)