Staf Khusus Wapres Tinjau Program Ekonomi Sirkular Pertamina di Pesantren Karawang

- Minggu, 09 Agustus 2026 | 15:25 WIB
Staf Khusus Wapres Tinjau Program Ekonomi Sirkular Pertamina di Pesantren Karawang

PARADAPOS.COM - Staf Khusus Wakil Presiden RI, Tina Talisa, melakukan kunjungan kerja ke Yayasan Hidayatul Burhan di Desa Pasirtanjung, Kabupaten Karawang, pada Jumat, 31 Juli 2026. Kunjungan ini bertujuan meninjau implementasi Program Prakarsa Bagja Juara yang digagas PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) melalui Fuel Terminal (FT) Cikampek. Program tersebut berfokus pada pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi sirkular, pengelolaan sampah, dan pertanian berkelanjutan. Menilik Langsung Program Eco-Agro Santri Di sela-sela peninjauan, Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatul Burhan, Jaenal Apip, memaparkan pengembangan tiga pilar Santri Tangguh yang menjadi fondasi pendidikan di pesantrennya: Al-Qur'an, literasi digital, dan life skill farming. Menurutnya, kolaborasi dengan Pertamina Patra Niaga sejak 2024 telah memperkuat arah pendidikan berbasis lingkungan dan kemandirian di lingkungan pesantren. "Alhamdulillah, melalui dukungan Pertamina Patra Niaga kami dapat mengembangkan Eco-Agro Santri. Program ini tidak hanya membekali santri dengan pendidikan agama, tetapi juga menanamkan kepedulian terhadap lingkungan, pertanian, dan kemandirian sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh pesantren maupun masyarakat sekitar," ujar Jaenal. Kehadiran program ini nyatanya membawa dampak yang terukur. Agro Santri saat ini mampu memproduksi sekitar 250 kilogram sayuran setiap periodenya, yang langsung dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi harian para santri. Angka ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan dan ketahanan pangan dapat berjalan beriringan di lingkungan pesantren. Tidak berhenti di situ, pesantren ini juga mengimplementasikan Program Desa Energi Berdikari. Melalui program tersebut, mereka memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk mendukung aktivitas keagamaan dan pertanian. Bahkan, limbah organik dapur diolah menjadi biogas yang digunakan sebagai energi alternatif untuk memasak di kantin pesantren. Inisiatif ini menegaskan bahwa pesantren bisa menjadi pusat pendidikan sekaligus motor penggerak transisi energi dan ekonomi sirkular. Pengakuan Nasional untuk Skema Tukar Jerami Di sisi lain, Endang Sutisna, penggerak lokal Program Prakarsa Bagja Juara, menyampaikan apresiasinya terhadap program yang dinilainya mampu membangkitkan partisipasi masyarakat. Ia melihat adanya peluang peningkatan kesejahteraan yang lahir dari berbagai kegiatan produktif yang digagas. "Kami bersyukur atas dukungan Pertamina Patra Niaga melalui Program Prakarsa Bagja Juara. Program ini mendorong masyarakat untuk lebih mandiri melalui pengelolaan lingkungan, pertanian, dan pemanfaatan energi terbarukan. Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut dan memberi manfaat yang lebih luas," tutur Endang. Salah satu inovasi unggulan yang menarik perhatian adalah implementasi Bank Jerami melalui Skema Tukar Jerami. Inovasi ini bahkan telah mencatatkan namanya di Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai Program Pemberdayaan Petani Pertama Melalui Tukar Jerami dengan Air. Pengakuan ini menjadi validasi eksternal bahwa pendekatan yang diusung memiliki dampak nyata dan bisa menjadi model pemberdayaan berbasis ekonomi sirkular yang patut ditiru. Tina Talisa, Staf Khusus Wakil Presiden RI, secara khusus mengapresiasi inovasi ini. Ia menilai Skema Tukar Jerami merupakan contoh konkret pemberdayaan masyarakat yang sukses mengintegrasikan pengelolaan limbah pertanian, pelestarian lingkungan, dan pemenuhan kebutuhan dasar. Melalui mekanisme ini, jerami yang selama ini dipandang sebagai limbah tak berguna, kini menjelma menjadi komoditas bernilai ekonomi. Sesuai dengan jumlah yang dikumpulkan, masyarakat dapat menukarnya dengan pupuk, air hasil pengolahan reverse osmosis (RO), atau memanfaatkannya untuk meringankan biaya pemasangan sambungan baru Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat). "Program ini menunjukkan bahwa pengelolaan limbah dapat sekaligus menghadirkan manfaat bagi lingkungan dan membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat," ungkap Tina. Dari Pembakaran Terbuka Menuju Ekonomi Produktif Sebelum program ini hadir, jerami pascapanen di Desa Pasirtanjung hampir selalu berakhir dibakar oleh para petani. Praktik pembakaran terbuka ini bukan tanpa risiko; ia berpotensi menimbulkan pencemaran udara, meningkatkan emisi karbon, mengganggu kesehatan warga, dan menghambat pengembalian bahan organik ke dalam tanah. Kini, kebiasaan tersebut mulai ditinggalkan. Rata-rata 2–3 ton jerami per musim panen yang tadinya menjadi sumber polusi, mulai dikelola secara produktif. Langkah ini menjadi fondasi awal dalam mengurangi praktik pembakaran terbuka sekaligus membuka aliran nilai ekonomi baru bagi warga. Menyusuri Inovasi di Lapangan Selama kunjungan, rombongan berkesempatan meninjau langsung berbagai titik inovasi. Mereka melihat pengelolaan sampah di Bank Sampah WISE dan Bank Sampah Pondok Pesantren Hidayatul Burhan. Tak ketinggalan, implementasi Bank Jerami dengan Skema Tukar Jerami yang mendukung pembayaran iuran air bersih Pamsimas dan penyediaan air RO layak minum juga menjadi sorotan. Kawasan Eco-Agro Santri yang mengintegrasikan pertanian ramah lingkungan turut masuk dalam daftar tinjauan. Rombongan juga menyaksikan pemanfaatan energi baru terbarukan melalui PLTS dan instalasi biogas, pengolahan limbah menjadi pupuk organik dan media tanam, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui koperasi dan UMKM Dapur Teteh. Melalui Program Prakarsa Bagja Juara, PT Pertamina Patra Niaga berkomitmen menghadirkan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang berdampak luas. Program ini dirancang untuk mendorong pelestarian lingkungan, memperkuat ketahanan ekonomi dan pendidikan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui kolaborasi multipihak yang berkelanjutan.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar