PARADAPOS.COM - Hasil survei terbaru menunjukkan bahwa safari politik yang gencar dilakukan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), belum berhasil mengerek elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Berdasarkan survei Indonesia Political Opinion (IPO) yang dilakukan pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026, elektabilitas PSI stagnan di angka 1,9 persen dalam simulasi pilihan partai politik untuk DPR RI. Temuan ini mengindikasikan bahwa popularitas ketua umum partai tersebut belum secara otomatis bertransformasi menjadi perolehan suara yang signifikan.
Angka 1,9 persen tersebut menjadi sorotan utama karena dalam periode yang sama, tingkat pengenalan masyarakat terhadap PSI tercatat cukup tinggi. Data IPO menyebutkan bahwa 70,2 persen responden mengaku mengetahui atau pernah melihat logo PSI. Namun, tingginya kesadaran publik ini nyatanya tidak berbanding lurus dengan tingkat keterpilihan partai berlambang bunga mawar tersebut.
Stagnasi di Tengah Gencarnya Blusukan
Direktur Eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah, mengungkapkan bahwa elektabilitas PSI relatif tidak berubah dalam satu setengah tahun terakhir. Kondisi ini dinilai menarik karena terjadi di tengah aktivitas politik Jokowi yang intensif melakukan kunjungan ke berbagai daerah. "Partai Solidaritas Indonesia tidak mengalami perubahan di satu setengah tahun ini. Masih tetap di 1,9 persen, meskipun Joko Widodo melakukan roadshow ke sejumlah daerah," jelasnya saat dikutip pada Minggu, 9 Agustus 2026.
Menurut pengamatannya, aktivitas politik Jokowi sejauh ini belum memberikan dorongan elektoral yang signifikan terhadap PSI. Padahal, secara logika politik, kehadiran tokoh sekaliber Jokowi seharusnya mampu menarik perhatian publik. Namun, data di lapangan menunjukkan bahwa efek ekor jas (coattail effect) dari sang mantan presiden belum terasa terhadap partai yang kini dipimpin putranya itu.
Dampak yang Tertunda
Meski demikian, Dedi menilai peluang PSI untuk meningkatkan elektabilitas masih terbuka lebar. Ia berpendapat, dampak dari roadshow Jokowi kemungkinan belum terlihat karena kegiatan tersebut masih berlangsung saat survei dilakukan. "Mungkin dampaknya baru terlihat setelah roadshow selesai, atau dalam satu tahun ke depan. Kalau dilakukan secara konsisten, bisa saja elektabilitasnya naik," tuturnya.
Pernyataan tersebut memberikan catatan optimistis di tengah data yang cenderung datar. Dedi menekankan bahwa konsistensi dan keberlanjutan dari safari politik tersebut menjadi kunci utama. Jika Jokowi mampu mempertahankan ritme kunjungannya, bukan tidak mungkin elektabilitas PSI akan bergerak naik secara perlahan.
Peta Elektabilitas Partai Politik
Dalam simulasi elektabilitas partai politik yang dirilis IPO, Partai Gerindra masih kokoh di posisi teratas dengan perolehan 17,5 persen. Posisi kedua ditempati PDI Perjuangan dengan 12,8 persen, disusul Partai Golkar di angka 10,4 persen, dan Partai Demokrat dengan 8,1 persen. Sementara itu, PKB memperoleh 7,0 persen, PAN 5,1 persen, PKS 4,6 persen, dan Partai Nasdem 4,4 persen. PSI sendiri berada di bawah angka-angka tersebut dengan torehan 1,9 persen.
Survei IPO ini menggunakan metode multistage random sampling dalam penentuan sampelnya. Penentuan Primary Sampling Unit (PSU) dilakukan pada sejumlah kelurahan atau desa, kemudian dilanjutkan dengan pemilihan RT secara acak menggunakan random kish grid paper. Total responden yang dilibatkan mencapai 1.200 orang dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sekitar 2,9 persen.
Artikel Terkait
Kemnaker Integrasikan Data Lintas Instansi untuk Perkuat Layanan Digital Ketenagakerjaan
Trabzonspor Reuniarkan Salah dan Nunez, Gaji Striker Uruguay Justru Lebih Tinggi
Pedagang Musiman di Rangkasbitung Raup Omzet Belasan Juta Jelang HUT ke-81 RI
Staf Khusus Wapres Tinjau Program Ekonomi Sirkular Pertamina di Pesantren Karawang