Pramono Anung: Ketimpangan Ekonomi Jakarta Masalah Paling Mendasar, Rasio Gini Capai 0,422

- Minggu, 09 Agustus 2026 | 19:50 WIB
Pramono Anung: Ketimpangan Ekonomi Jakarta Masalah Paling Mendasar, Rasio Gini Capai 0,422

PARADAPOS.COM - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengidentifikasi kesenjangan ekonomi, yang diukur melalui rasio gini, sebagai persoalan paling mendasar yang dihadapi ibu kota. Dalam acara Doa Bersama dan Zikir Kebangsaan di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, pada Minggu (9/8), ia memaparkan data rasio gini Jakarta yang mencapai 0,422 serta menyoroti kompleksitas kependudukan yang melibatkan hingga sekitar 40 juta jiwa di kawasan aglomerasi. Pernyataan ini menegaskan bahwa tantangan pemerataan tidak hanya menyangkut warga administratif DKI, tetapi juga seluruh ekosistem ekonomi yang bergantung pada Jakarta.

Suasana di pelataran Masjid Istiqlal sore itu tampak khidmat. Di hadapan ribuan jamaah yang memadati area utama, Pramono Anung menyampaikan pandangannya mengenai kondisi sosial-ekonomi ibu kota. Ia tidak berbicara tentang infrastruktur atau kemacetan semata, melainkan mengangkat isu yang lebih mendasar: jurang pemisah antara mereka yang berkecukupan dan mereka yang hidup dalam keterbatasan.

"Bapak Ibu saudara saudari sekalian. Sebagai Gubernur Jakarta, problem utama Jakarta adalah yang disebut dengan gini ratio dan orang miskin," kata Pramono di hadapan para hadirin.

Menurut kepala daerah yang baru dilantik itu, Jakarta secara unik menjadi titik temu berbagai lapisan masyarakat. Kota ini menarik siapa saja, dari pekerja dengan pendapatan sangat tinggi hingga mereka yang datang mencari peruntungan tanpa bekal memadai. Kondisi ini, lanjutnya, menciptakan dinamika sosial yang kompleks dan menuntut perhatian serius dari pemerintah daerah.

"Semua orang kaya ada di Jakarta. Sebagian orang yang tidak mampu, tidak beruntung juga ada di Jakarta," ujarnya.

Lebih jauh, Pramono merinci indikator yang ia gunakan untuk mengukur persoalan tersebut. Angka rasio gini Jakarta yang berada di level 0,422 menjadi penanda nyata dari ketimpangan yang ada. Sebagai konteks, rasio gini adalah alat ukur statistik untuk menilai distribusi pendapatan atau pengeluaran penduduk di suatu wilayah. Skala ukurannya berjalan dari nol hingga satu; semakin mendekati nol berarti distribusi semakin merata, sementara semakin mendekati satu menandakan kesenjangan yang semakin ekstrem.

"Maka ada yang disebut dengan gini ratio yaitu perbandingan orang kaya dan miskin di Jakarta paling besar, 0,422," ungkapnya.

Namun, perhatian Pramono tidak berhenti pada angka statistik semata. Ia menekankan bahwa beban persoalan Jakarta jauh lebih luas dari batas administratif kota. Kehidupan ekonomi di wilayah penyangga, seperti Bodetabek, sangat terikat pada denyut nadi Jakarta. Mobilitas harian jutaan orang, arus barang, dan aktivitas bisnis menjadikan Jakarta sebagai pusat gravitasi bagi kawasan yang lebih besar.

"Orang yang menggantungkan kehidupan dan Jakarta kurang lebih sekarang ini hampir 40 juta. Karena aglomerasi sumber utamanya dari Jakarta," tuturnya.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar