PARADAPOS.COM - Ketua Bidang Kepemudaan dan Olahraga DPP Partai Golkar, Said Aldi Al Idrus, menegaskan bahwa pola kaderisasi politik harus beradaptasi dengan perkembangan digital agar mampu menjangkau generasi Z dan milenial menjelang Pemilu 2029. Pernyataan ini disampaikan di Jakarta pada Minggu, sebagai respons atas perubahan perilaku komunikasi anak muda yang dinilai semakin jauh dari pendekatan formal. Said juga menghadiri pertemuan dengan Barisan Muda KOSGORO 1957 (BMK 57) di Bandongan, Jawa Tengah, pada Sabtu (8/8), yang turut menjadi ajang suksesi kepemimpinan organisasi tersebut.
Di tengah derasnya arus informasi digital, ia menilai partai politik tidak bisa lagi mengandalkan metode lama yang kaku dan hierarkis. Menurutnya, interaksi dengan kader muda harus lebih cair dan berbasis pada keterlibatan aktif, bukan sekadar instruksi dari atas.
“Pola interaksi kader dengan anak muda juga harus berubah. Tidak bisa lagi menggunakan pendekatan yang terlalu formal dan kaku. Harus lebih fleksibel, komunikatif, serta berbasis 'engagement',” kata Said Aldi dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.
Ia menjelaskan, generasi muda saat ini lebih tertarik bergabung dengan organisasi yang berbasis hobi, profesi, komunitas, dan kegiatan sosial. Fenomena ini menjadi sinyal bagi partai politik untuk merancang ulang strategi rekrutmen kader agar relevan dengan minat mereka. Said yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) melihat celah ini sebagai peluang untuk memperluas basis kaderisasi.
Konten Digital dan Ruang Ekspresi Politik
Salah satu strategi yang disorot Said adalah pengembangan konten politik digital yang lebih komunikatif, edukatif, dan mudah dicerna oleh kalangan muda. Ia menekankan bahwa konten semacam ini bukan sekadar alat kampanye, melainkan sarana pendidikan politik yang efektif di era media sosial.
Selain itu, ia menilai ruang ekspresi politik bagi generasi Z dan milenial perlu diperluas. Keterlibatan mereka dalam kegiatan politik dan kebangsaan tidak boleh dibatasi oleh sekat-sekat birokrasi yang justru membuat mereka enggan berpartisipasi.
Menurut Said, perubahan pola komunikasi ini juga membawa tantangan tersendiri, terutama dalam hal menjaga pemahaman kebangsaan di tengah banjir informasi yang tidak selalu akurat. Pendidikan politik menjadi kunci untuk menangkal hal tersebut.
“Karena itu BMK 57 bersama OKP Karya Kekaryaan harus hadir untuk meningkatkan pemahaman kebangsaan serta pendidikan politik kepada generasi muda,” ujarnya.
Konsolidasi Menuju Pemilu 2029
Penguatan organisasi dan kaderisasi generasi muda, lanjut Said, merupakan bagian tak terpisahkan dari konsolidasi Partai Golkar menuju Pemilu 2029. Ia menegaskan bahwa investasi pada kader muda adalah investasi jangka panjang bagi keberlanjutan partai.
Dalam kesempatan yang sama di Bandongan, BMK 57 menggelar musyawarah besar yang menghasilkan keputusan penting. Rizki Maulana resmi ditetapkan sebagai ketua yang baru, menggantikan Kemas Ilham Akbar. Suksesi ini diharapkan membawa semangat baru dalam upaya menjaring aspirasi generasi muda di bawah naungan KOSGORO 1957.
Artikel Terkait
Dina Thorslund Hajar Cherneka Johnson, Petinju Denmark Kini Jawara Dunia Kelas Bantam
Transnusa Resmi Terbang Perdana Jakarta-Bangkok, Targetkan Load Factor 75 Persen
Menteri Kehutanan Tinjau Kebakaran TNBTS, Water Bombing Jadi Andalan karena Hujan Buatan Terkendala Cuaca
Pramono Anung: Ketimpangan Ekonomi Jakarta Masalah Paling Mendasar, Rasio Gini Capai 0,422