PARADAPOS.COM - Harga emas dunia terpantau stabil di awal perdagangan Asia, Senin (10/8/2026), setelah mencatat level tertinggi dalam tujuh pekan pada akhir pekan lalu. Kondisi ini sejalan dengan harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) yang bertahan di level Rp2,69 juta per gram. Pergerakan ini terjadi di tengah antisipasi pasar terhadap rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan pekan ini, yang menjadi sinyal penting bagi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Menjelang pembukaan pekan ini, para pelaku pasar tampak mengambil posisi wait and see. Data ketenagakerjaan AS yang dirilis Jumat lalu menjadi pemicu utama perubahan ekspektasi, setelah ekonomi AS secara tak terduga kehilangan lapangan pekerjaan pada Juli. Angka penciptaan lapangan kerja pada dua bulan sebelumnya juga direvisi turun cukup tajam, membuat pasar berspekulasi bahwa The Fed mungkin akan melonggarkan kebijakan moneternya lebih cepat dari perkiraan.
Harga Emas Dunia Stabil di Awal Pekan
Mengutip data pasar, harga emas spot relatif tidak berubah di level US$4.339,59 per ons troi pada pukul 00.17 GMT. Meski bergerak datar di awal sesi, harga emas telah melonjak lebih dari 7 persen sepanjang pekan lalu. Puncaknya, harga sempat menyentuh level tertinggi sejak 17 Juni pada Jumat, 7 Agustus 2026. Sementara itu, harga emas berjangka AS juga bergerak datar di US$4.399,40 per ons troi.
Kenaikan yang terjadi pekan lalu tidak lepas dari data ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan. Hal ini secara langsung mengubah ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Kini, pasar berjangka memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) 15-16 September berada di bawah 50 persen.
Suku bunga yang lebih rendah cenderung meningkatkan daya tarik emas dibandingkan aset yang memberikan imbal hasil, seperti obligasi. Pasalnya, emas tidak memberikan pendapatan berupa bunga, sehingga ketika biaya peluang memegang emas menurun, permintaan terhadap logam mulia ini cenderung naik.
Menanggapi data terbaru, Presiden Federal Reserve Bank of Richmond Thomas Barkin menyampaikan pandangannya.
"Data perekrutan tenaga kerja pada Juli menunjukkan kelanjutan dari tren yang telah terlihat dalam beberapa waktu terakhir," ujarnya.
Pernyataan tersebut menambah sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS memang sedang mengalami perlambatan, meskipun para pejabat The Fed masih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Para analis menilai, data inflasi yang akan dirilis pekan ini akan menjadi penentu utama apakah tren pelemahan ini akan berlanjut atau justru berbalik arah.
Artikel Terkait
KPK Pastikan Status Mahasiswa Baru Unsoed Tak Terdampak Kasus Dugaan Pemerasan
KJRI Houston Putar Perdana Film Animasi Jumbo untuk Rayakan HUT ke-81 RI
Polisi Tembus Tujuh Titik Terisolir di NTT Usai Gempa, Distribusi Bantuan Terhambat Medan Ekstrem
Manchester United Sepakati Transfer Carlos Baleba dari Brighton Senilai Rp1,5 Triliun