PARADAPOS.COM - Dolar Amerika Serikat (AS) terpantau nyaris menyentuh level terendahnya dalam dua bulan terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan Senin (10/8). Pelemahan ini terjadi di tengah ketidakpastian pasar yang menanti rilis data inflasi AS pekan ini, sebagai petunjuk utama arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama bergerak tipis di level 99,6, mendekati posisi terendah sejak 2 Juni lalu. Pergerakan Mata Uang Utama di Asia dan Eropa Di pasar Eropa, euro berhasil menguat tipis ke level USD1,1558, mendekati posisi terkuatnya sejak pertengahan Juni. Hal serupa terjadi pada pound sterling yang stabil di USD1,3490, tidak jauh dari level tertingginya dalam lima pekan terakhir. Sementara itu, di kawasan Asia, pergerakan mata uang cenderung bervariasi. Dolar Selandia Baru dan dolar Australia sama-sama melemah 0,1 persen, masing-masing berada di level USD0,5889 dan USD0,7062. Yen Jepang justru bertahan di kisaran 157,90 per dolar AS. Angka ini masih jauh dari level terlemahnya dalam beberapa dekade yang sempat menyentuh sekitar 164 per dolar AS pada akhir bulan lalu. Pasar tampak mencermati setiap data ekonomi yang keluar untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya. Data Ketenagakerjaan AS Menjadi Pemicu Pelemahan dolar ini tidak terlepas dari rilis data ketenagakerjaan AS pada Jumat lalu. Data tersebut menunjukkan bahwa perekonomian AS secara tak terduga kehilangan lapangan kerja pada Juli. Yang lebih memberatkan, pertumbuhan lapangan kerja selama dua bulan sebelumnya juga direvisi turun secara signifikan. Kondisi ini secara langsung mengurangi ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September mendatang. Imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury ikut terkoreksi setelah data tersebut dirilis. Imbal hasil Treasury 10 tahun, yang menjadi acuan pasar, terakhir berada di level 4,637 persen. Pasar berjangka kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September hanya sekitar 44 persen, turun drastis dari 67 persen hanya sepekan sebelumnya. "Sinyal pasar tenaga kerja AS yang lebih lemah telah menurunkan ekspektasi suku bunga riil, memperpanjang penurunan dolar, tetapi belum menjadi cerita pelonggaran kebijakan moneter yang jelas," tulis Geoff Yu, ahli strategi pasar senior EMEA BNY, dalam sebuah catatan. Fokus Beralih ke Data Inflasi dan Penjualan Ritel Yu menilai data inflasi AS kemungkinan menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan mata uang pada pekan ini. Para investor kini menunggu rilis data Consumer Price Index (CPI) AS untuk Juli. Konsensus memperkirakan inflasi inti meningkat 0,2 persen secara bulanan. Dengan proyeksi tersebut, laju inflasi inti secara tahunan diperkirakan mencapai 2,5 persen, melanjutkan tren moderasi inflasi secara bertahap. Sebagai perbandingan, pada Juni lalu inflasi inti secara tahunan tercatat di angka 2,6 persen. Selain data CPI, pasar juga akan menyoroti data harga produsen yang dijadwalkan rilis pada Kamis dan data penjualan ritel pada Jumat. Kedua indikator tersebut dinilai dapat memberikan gambaran tambahan mengenai perkembangan inflasi dan kondisi perekonomian AS secara lebih menyeluruh. Para pelaku pasar tampak memilih untuk menahan diri dan menunggu data-data tersebut sebelum mengambil posisi lebih jauh.
Artikel Terkait
BRI Beri Cashback 10 Persen untuk Pemegang Kartu Kredit JCB Platinum saat Liburan di Jepang
Liverpool Kembali Buang Keunggulan Dua Gol, Iraola Akui Stamina Tim Jadi Masalah
Defisit Transaksi Berjalan Jepang Tembus 92,3 Miliar Yen pada Juni, Terburuk dalam 17 Bulan
Kematian Karumga Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Diselidiki, Pegawai Kejaksaan Agung yang Antarkan Korban ke RS Jadi Sorotan