PARADAPOS.COM - Kebakaran lahan di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, telah menghanguskan sekitar 21 hektare area dalam 29 kejadian terpisah sepanjang musim kemarau 2026. Kondisi ini dipicu oleh kemarau yang sangat kering dan diperkirakan akan berlangsung hingga November mendatang, sehingga potensi perluasan area terdampak masih tinggi. Pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tengah menggencarkan upaya pencegahan dan meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan.
Angka tersebut disampaikan langsung oleh Kasubag Tata Usaha UPT Damkarmat BPBD Gunungkidul, Ngadiyono, pada Senin, 10 Agustus 2026. Ia menjelaskan bahwa tren kejadian tahun ini mengalami lonjakan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Tahun ini dampak kebakaran sudah terjadi di 29 lokasi dengan perkiraan lahan terbakar sekitar 21 hektare," ujarnya kepada awak media.
Ngadiyono menuturkan, peningkatan kasus ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi cuaca ekstrem. "Angka kejadian tahun ini lebih tinggi dari tahun lalu yang hanya terjadi 4 kali kejadian," imbuhnya. Menurut pengamatannya di lapangan, kekeringan yang berkepanjangan membuat vegetasi kering mudah sekali terbakar, bahkan hanya dari percikan kecil sekalipun.
Pemicu dan Upaya Penanggulangan
Ia menilai musim kemarau yang sangat kering menjadi biang keladi utama melonjaknya kasus kebakaran. Risiko kebakaran menjadi jauh lebih besar karena material organik di permukaan tanah dalam kondisi sangat rentan. Menghadapi situasi ini, jajarannya tidak tinggal diam.
"Terhadap hal ini berbagai upaya telah kami lakukan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan, baik melalui sosialisasi secara media online maupun langsung bertemu dengan masyarakat," jelasnya.
Selain sosialisasi, pihaknya juga mengimbau warga untuk lebih berhati-hati saat membakar sampah. Tiupan angin di area terbuka dapat dengan cepat merambatkan api ke benda-benda kering di sekitarnya, yang berpotensi memicu kebakaran besar di luar kendali.
Kendala di Lapangan dan Imbauan
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, menambahkan bahwa proses pemadaman di lapangan menghadapi tantangan berat. Minimnya pasokan air menjadi kendala utama, ditambah hembusan angin yang justru memperluas area yang terbakar. Kombinasi faktor ini membuat upaya pemadaman membutuhkan waktu lebih lama dan sumber daya lebih besar.
Purwono mengungkapkan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan berbagai elemen masyarakat untuk memantau titik-titik rawan. Masyarakat diminta untuk tidak membakar lahan atau sampah sembarangan, terutama di area yang berdekatan dengan permukiman atau lahan kering. Jika menemukan titik api, warga diharapkan segera melapor ke petugas agar penanganan dapat dilakukan lebih dini sebelum api meluas.
Artikel Terkait
Persib Bandung Siap Hadapi Sabah FC dan Bali United di Dewata Challenge Series 2026
Bhayangkara Presisi Lampung FC Resmi Rekrut Gelandang Asal Argentina Mauricio Vera
BRI Beri Cashback 10 Persen untuk Pemegang Kartu Kredit JCB Platinum saat Liburan di Jepang
Liverpool Kembali Buang Keunggulan Dua Gol, Iraola Akui Stamina Tim Jadi Masalah