PARADAPOS.COM - Nama dr. Tifauzia Tyassuma, atau yang akrab disapa dr. Tifa, belakangan menjadi perbincangan hangat di ruang publik. Dokter sekaligus aktivis ini disebut-sebut telah mengambil keputusan untuk mundur atau "hijrah" dari pusaran polemik kasus dugaan ijazah palsu yang menyeret nama mantan Presiden Joko Widodo. Menariknya, respons atas langkah tersebut datang dari pengamat media sosial yang juga tokoh kontroversial, K.H. Ahmad Nur Kholis atau Gus Nur, yang justru memaknai "hijrah"-nya dr. Tifa sebagai sebuah perpindahan dimensi hidup, bukan sekadar mundur dari sebuah isu.
Melalui sebuah video yang dibagikan di kanal media sosial Refly Harun pada 10 Agustus 2026, Gus Nur memberikan pandangannya yang cukup filosofis. Ia mencoba meluruskan interpretasi publik yang mungkin keliru terhadap istilah "hijrah" yang digunakan oleh dr. Tifa. Menurutnya, kata tersebut memiliki spektrum makna yang luas, jauh melampaui sekadar keputusan politik atau sikap atas sebuah kasus hukum.
Memaknai "Hijrah" ala Gus Nur
Dalam penuturannya, Gus Nur menjelaskan bahwa "hijrah" dalam konteks yang disampaikan dr. Tifa bukanlah sekadar perpindahan fisik. Ia menguraikan makna tersebut sebagai sebuah perjalanan spiritual dan mental. "Kalau bahasanya dokter Tifa itu hijrah. Hijrah itu berarti pindah-pindah dimensi ya, dari gelap menuju terang, dari susah menuju senang, dari satu kota menuju kota yang lain," ujarnya.
Lebih lanjut, pria yang kerap disapa Gus Nur ini memberikan contoh konkret yang relevan dengan situasi yang sedang dihadapi oleh dr. Tifa. "Dari tidak ngurus ijazah menjadi dari sibuk urusan ijazah, hijrah tidak urus ijazah. Oke, itu namanya hijrah," tuturnya sambil menegaskan bahwa perpindahan fokus dari satu persoalan ke persoalan lain pun bisa dikategorikan sebagai sebuah bentuk hijrah.
Menghormati Keputusan Pribadi
Gus Nur tidak hanya berhenti pada soal definisi. Ia juga menekankan pentingnya sikap saling menghormati atas keputusan yang telah diambil oleh dr. Tifa. Bahkan, ia mengisyaratkan bahwa langkah serupa mungkin saja akan diikuti oleh tokoh lain, seperti Roy Suryo, yang juga aktif menyoroti kasus yang sama. Menurutnya, apa pun pilihan yang diambil oleh keduanya, publik seharusnya memberikan apresiasi, bukan justru memperdebatkannya.
"Apapun keputusannya dr. Tifa atau mungkin Mas Suryo menyusul ya, oke kita hormati, kita hargai dan tidak ada salah sedikit pun ya. Itu poin pertama," sambungnya dengan tegas. Pernyataan ini seolah menjadi pengingat bahwa di tengah riuhnya pemberitaan, ada ruang untuk menghargai keputusan personal yang diambil oleh setiap individu.
Pengalaman Pribadi di Balik Pernyataan
Yang membuat pernyataan Gus Nur terasa lebih dekat dan manusiawi adalah ketika ia membagikan pengalaman pribadinya. Ia mengaku pernah berada di fase yang sama, di mana ia memutuskan untuk "berhenti" mengurusi persoalan ijazah. Momen itu terjadi saat ia masih mendekam di dalam penjara, sebuah titik terendah yang membuatnya merenungkan kembali arah hidupnya.
"Saya dulu juga pernah punya keputusan seperti itu. Ketika di dalam penjara saya berpikir, 'Ya ah sudahlah kalau saya bebas saya enggak akan ngurusi ijazah, gak akan ngomong ijazah.' Nah, itu saya pernah berada di fase itu," ungkapnya. Pengakuan jujur ini memberikan perspektif baru bahwa keputusan dr. Tifa bukanlah sesuatu yang aneh, melainkan sebuah fase yang wajar dialami oleh seseorang yang telah lelah bergelut dengan isu yang berat dan melelahkan.
Artikel Terkait
Gus Nur Nilai dr. Tifa Sudah Tepat Hijrah dari Kasus Ijazah Jokowi: Risetnya Sudah Tuntas
PLN EPI Gelar Konsultasi Publik Pembangunan Fasilitas LNG di Mataram, Serap Aspirasi Warga untuk Dokumen Amdal
Kebakaran Lahan Alang-Alang di Ancol, 30 Personel Damkar Dikerahkan
Menko Polkam: Kebakaran Hutan Akibat El Nino Capai 107 Ribu Hektare Lebih