PARADAPOS.COM - Gelombang panas yang melanda Eropa kembali memecahkan rekor suhu di Swiss. Kawasan pegunungan negara tersebut mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah untuk bulan Agustus di sejumlah lokasi pada Minggu, 9 Agustus 2026. Meiringen, wilayah di Bern yang berada pada ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut, mencatat suhu 34,6 derajat Celsius, menjadikannya rekor terpanas untuk bulan Agustus di daerah tersebut dan sekitarnya.
Situasi ini mendorong MeteoSwiss, layanan meteorologi nasional Swiss, untuk memperluas peringatan gelombang panas hingga mencakup sebagian besar wilayah negara tersebut. Peringatan ini dikeluarkan seiring dengan terus meningkatnya temperatur yang tidak hanya memengaruhi dataran rendah, tetapi juga kawasan pegunungan yang biasanya lebih sejuk.
Rekor Suhu di Kawasan Pegunungan
Rekor suhu harian juga tercatat di sejumlah titik pegunungan lainnya. Di Santis, yang berada di ketinggian 2.502 meter, suhu mencapai 17 derajat Celsius. Angka ini terbilang luar biasa untuk ketinggian tersebut, mengingat biasanya suhu di sana jauh lebih dingin.
Sementara itu, Engelberg yang berada di ketinggian 1.013 meter mencatat suhu 29 derajat Celsius, dan Davos di ketinggian 1.205 meter mencapai 27 derajat Celsius. Ketiga lokasi tersebut masing-masing mencatat rekor suhu harian di tengah gelombang panas yang melanda sebagian besar wilayah Eropa.
Fenomena ini bukanlah kejadian yang berdiri sendiri. Eropa Barat secara keseluruhan mengalami periode Juni dan Juli terpanas sepanjang sejarah, menurut laporan yang dirilis Copernicus Climate Change Service. Lembaga pemantau iklim Eropa itu menyebut kawasan tersebut mengalami gelombang panas ketiga dan keempat sejak Mei, menjadikan musim panas tahun ini sebagai salah satu yang paling ekstrem.
"Eropa Barat mengalami periode Juni dan Juli terpanas sepanjang sejarah," demikian pernyataan dalam laporan Copernicus. "Kawasan tersebut mengalami gelombang panas ketiga dan keempat sejak Mei, menjadikan musim panas tahun ini sebagai salah satu yang paling ekstrem," lanjut laporan tersebut.
Dengan kondisi seperti ini, warga Swiss dan negara-negara Eropa lainnya diimbau untuk tetap waspada terhadap dampak kesehatan akibat suhu ekstrem. Para ahli juga mengingatkan bahwa pola cuaca yang semakin tidak menentu ini bisa menjadi "normal baru" di masa mendatang, seiring dengan perubahan iklim global yang terus berlanjut.
Artikel Terkait
Pemkab Sigi Tunggu Hasil Kajian Untad soal Semburan Air Bergas di Palolo
Menko Airlangga: Diversifikasi Pembiayaan Kunci Perkuat Pasar Modal di Tengah Kebutuhan Ekonomi Rp7.400 Triliun
LPDB Koperasi Buka Proses Pengajuan Dana Bergulir ke 36 Koperasi Sektor Riil, Tegaskan Bebas Biaya dan Transparan
Pedagang Bendera di Pasar Minggu Keluhkan Penjualan HUT ke-81 RI Terburuk, Kalah Sepi dari Masa Pandemi