IHSG Berbalik Melemah ke 6.326 pada Sesi Pagi, Investor Ambil Untung di Tengah Ketegangan Geopolitik

- Selasa, 11 Agustus 2026 | 02:50 WIB
IHSG Berbalik Melemah ke 6.326 pada Sesi Pagi, Investor Ambil Untung di Tengah Ketegangan Geopolitik

PARADAPOS.COM - Jakarta, 11 Agustus 2026 — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat tipis pada awal perdagangan Selasa pagi, namun momentum tersebut tak bertahan lama. Berdasarkan data RTI yang terekam hingga pukul 09.25 WIB, indeks utama bursa saham tanah air justru berbalik melemah 0,61 persen atau 38,871 poin ke level 6.326,502. Kondisi ini terjadi di tengah aksi ambil untung (profit taking) pelaku pasar dan beragam sentimen negatif dari eksternal, termasuk ketegangan geopolitik di Selat Hormuz serta pelemahan Wall Street semalam. Pada pembukaan perdagangan hari ini, IHSG sempat mencatatkan penguatan 18,44 poin atau 0,29 persen ke posisi 6.383,81. Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 juga ikut menghijau dengan naik 1,88 poin atau 0,30 persen ke posisi 636,01. Namun, euforia awal itu meredup seiring berjalannya waktu. Data intraday menunjukkan IHSG sempat menyentuh level tertinggi di angka 6.388, sementara level terendahnya berada di posisi 6.291. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 135 saham tercatat menguat, 447 saham lainnya melemah, dan 140 saham stagnan. Hingga sesi pagi berjalan, nilai transaksi yang sudah terjadi mencapai Rp3,893 triliun dengan volume perdagangan 10,056 miliar saham. Kapitalisasi pasar bursa saat ini tercatat sebesar Rp11.087,749 triliun.

IHSG Diperkirakan Cenderung Tertekan

Tekanan jual yang terjadi hari ini sebenarnya sudah bisa diprediksi. Pada perdagangan kemarin, 10 Agustus, IHSG ditutup melemah 44,28 poin atau 0,69 persen ke level 6.365,37. Pelemahan tersebut dipicu oleh aksi ambil untung pelaku pasar setelah penguatan signifikan pada pekan sebelumnya. Dari sisi data ekonomi domestik, Bank Indonesia mencatat indeks keyakinan konsumen turun ke level 116,8 pada Juli 2026. Angka ini menandai penurunan tiga bulan beruntun sekaligus menjadi level terendah sejak September 2025, meskipun secara psikologis masih berada di zona optimis. Sementara dari eksternal, situasi geopolitik masih memanas. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan bahwa kesepakatan dengan Oman terkait jalur pelayaran baru di Selat Hormuz sudah berada dalam "tahap akhir". Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz kecuali AS memenuhi tuntutan tertentu yang diajukan oleh Tehran. Wall Street tadi malam juga ditutup di zona merah. Dow Jones terkoreksi 0,11 persen, S&P 500 melemah 0,06 persen, dan Nasdaq turun lebih dalam 0,32 persen. Saham-saham yang sensitif terhadap kredit bergerak variatif, dengan sektor keuangan sebagian besar mencatatkan penurunan. Kenaikan harga minyak menjadi biang kerok utama. Hal ini mendorong imbal hasil obligasi lebih tinggi akibat kekhawatiran inflasi yang dipicu oleh biaya energi. Biaya energi yang lebih tinggi memicu spekulasi bahwa The Fed mungkin perlu menaikkan suku bunga tahun ini, meskipun pasar tenaga kerja sedang melambat. "Menyikapi beragam kondisi tersebut, pada perdagangan hari ini, IHSG diperkirakan cenderung tertekan. Investor akan mencermati rilis data Laporan Survei Penjualan Eceran Indonesia (Juni 2026)," sebut analis FAC Sekuritas dalam risetnya. Di lapangan, para trader tampak lebih memilih bermain aman dengan mengurangi posisi beli. Sentimen risk-off memang sedang dominan, terutama setelah data keyakinan konsumen yang mengecewakan dan ketidakpastian kebijakan moneter global. Para pelaku pasar tampaknya akan menunggu rilis data penjualan eceran untuk mencari arah yang lebih jelas.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar