PARADAPOS.COM - Jakarta, Selasa (11/8/2026) — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini diproyeksikan masih akan dibayangi sentimen negatif. Pelaku pasar cenderung menahan diri (wait and see) menyusul sejumlah data ekonomi global dan domestik yang akan dirilis dalam waktu dekat. Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, dalam risetnya yang dipublikasikan di Jakarta, Selasa, menyebutkan bahwa level psikologis 6.377 menjadi kunci pergerakan indeks. Jika IHSG mampu bertahan di atas level tersebut, peluang penguatan menuju 6.463–6.500 masih terbuka. Namun, jika tekanan jual mendorong IHSG turun di bawah 6.299, koreksi menuju 6.264 hingga 6.230 berpotensi terjadi.
Pada pembukaan perdagangan pagi ini, IHSG sempat mencatatkan penguatan tipis sebesar 18,44 poin atau 0,29 persen ke posisi 6.383,81. Senada dengan itu, indeks LQ45 yang mewakili 45 saham unggulan juga naik 1,88 poin atau 0,30 persen ke level 636,01. Meski demikian, optimisme awal ini dinilai rapuh karena pasar masih menanti kejelasan arah kebijakan moneter global.
Sinyal Inflasi AS dan Ketegangan Geopolitik Membayangi
Dari mancanegara, fokus utama pelaku pasar tertuju pada rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk periode Juli 2026 yang dijadwalkan keluar pada Rabu (12/8) besok. Data ini menjadi indikator penting yang akan menentukan langkah selanjutnya dari bank sentral AS, The Fed. Konsensus pasar memperkirakan inflasi tahunan AS akan melambat menjadi 3,4 persen, turun dari 3,5 persen pada bulan Juni. Ekspektasi ini muncul setelah data tenaga kerja AS yang dirilis sebelumnya menunjukkan pelemahan, sehingga mengurangi tekanan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada September 2026.
Laporan ketenagakerjaan Juli 2026 memang menunjukkan penurunan 23.000 pekerjaan, disertai revisi data payroll untuk periode Mei-Juni 2026 yang turun sebesar 103.000. Kondisi ini membuat pasar mengkalkulasi ulang probabilitas kenaikan suku bunga, dan menjadikan rilis CPI besok sebagai penentu arah kebijakan selanjutnya.
Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik juga ikut menekan sentimen. Hubungan AS dengan Iran kembali memanas setelah Iran menolak pembicaraan langsung dan mengajukan sejumlah prasyarat untuk membuka kembali Selat Hormuz. Syarat tersebut mencakup pencabutan sanksi dan penghentian blokade laut. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran baru akan terganggunya kelancaran jalur perdagangan energi global.
“Ketidakpastian tersebut meningkatkan risiko terhadap kelancaran jalur perdagangan energi global,” ujar Liza dalam keterangannya.
Konsumen Domestik Mulai Berhati-Hati
Dari dalam negeri, data terbaru menunjukkan adanya perlambatan optimisme konsumen. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juli 2026 tercatat turun ke angka 116,8, dibandingkan 117,8 pada bulan sebelumnya. Penurunan serupa juga terjadi pada Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang melemah dari 126,4 menjadi 125,7. Meskipun kedua indeks tersebut masih berada di zona optimistis, penurunan ini mengindikasikan bahwa masyarakat mulai lebih berhati-hati dalam menyikapi prospek pendapatan, ketersediaan lapangan kerja, dan daya beli.
Kehati-hatian ini tercermin dari perubahan alokasi pendapatan masyarakat. Porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan meningkat menjadi 10,5 persen dari sebelumnya 10 persen. Sementara itu, porsi konsumsi juga naik tipis menjadi 73 persen dari 72,7 persen. Kombinasi ini memberikan sinyal bahwa ruang belanja masyarakat mulai terbatas, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Kabar Politik dan Kinerja Bursa Global
Dari sisi kebijakan, muncul perkembangan baru di sektor moneter. Presiden Prabowo Subianto telah mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif kepada DPR. Destry sendiri saat ini menjabat sebagai Pejabat Gubernur Sementara BI, menggantikan Perry Warjiyo yang telah mengundurkan diri. Kepastian kepemimpinan di bank sentral ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas kebijakan moneter ke depan.
Sementara itu, pergerakan bursa global semalam memberikan sinyal yang beragam. Di Eropa, indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,35 persen, sementara indeks DAX Jerman relatif stagnan di level 26.320. Indeks CAC 40 Perancis justru menguat tipis 0,1 persen, dan Euro Stoxx naik 0,03 persen. Kondisi berbeda terlihat di Wall Street yang ditutup melemah. Indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,10 persen ke level 53.975,63, diikuti S&P 500 yang turun 0,10 persen ke 7.753,46, dan Nasdaq Composite yang melemah 0,30 persen ke posisi 26.605,63.
Memasuki perdagangan Asia pagi ini, pergerakan indeks kembali menunjukkan variasi. Nikkei Jepang memimpin penguatan dengan melesat 2,08 persen ke level 66.970,22. Di sisi lain, indeks Shanghai melemah 0,11 persen ke 3.962,56 dan Hang Seng Hong Kong turun 0,45 persen ke 25.818,00. Adapun Kospi Korea Selatan menguat 0,76 persen ke 6.347,60, dan Strait Times Singapura naik 0,83 persen ke 5.746,38. Variasi pergerakan ini mencerminkan sikap pasar yang masih mencari arah di tengah ketidakpastian global.
Artikel Terkait
IHSG Dibuka Menguat Tipis di Tengah Eskalasi Konflik AS-Iran dan Jelang Rilis Data Inflasi AS
PPATK: Anak-anak Rentan Jadi Korban Kejahatan Siber, Orang Tua Diminta Perketat Pendampingan Digital
Airlangga Minta Emiten Perkuat Fundamental dan Tata Kelola demi Jaga Kepercayaan Investor
TOP 1 Lubricants Uji Ketahanan Pelumas Full Synthetic di Riding Experience Route360