BRI JF3 Fashion Festival 2026 Resmi Digelar, Usung Kolaborasi Desainer Indonesia-Prancis hingga Korea

- Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:25 WIB
BRI JF3 Fashion Festival 2026 Resmi Digelar, Usung Kolaborasi Desainer Indonesia-Prancis hingga Korea

PARADAPOS.COM - Memasuki tahun ke-22 penyelenggaraannya, BRI JF3 Fashion Festival 2026 kembali digelar di Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta, pada 29 Juli 2026. Mengusung tema "Recrafted: Shaping the Future", festival mode pioniran ini tidak hanya menjadi panggung presentasi karya, tetapi juga ekosistem yang menghubungkan desainer, brand, pelaku kreatif, media, komunitas, retail, hingga jejaring internasional. Diinisiasi oleh Summarecon sejak 2004, JF3 tahun ini menghadirkan sejumlah kolaborasi internasional, termasuk program residensi PINTU yang mempertemukan desainer Indonesia dan Prancis, serta koleksi terbaru dari LAKON Indonesia yang didukung brand asal Korea Selatan.

Perjalanan dua dekade lebih ini menunjukkan konsistensi JF3 dalam membuka panggung sekaligus peluang yang lebih luas bagi pelaku fashion. Di tengah industri yang semakin menuntut identitas kuat, kualitas eksekusi, pemahaman pasar, dan kesiapan bisnis, JF3 hadir sebagai platform yang mempertemukan kreativitas, kolaborasi, dan akses bagi desainer lokal maupun internasional. Tahun ini, semangat tersebut terlihat nyata dalam rangkaian acara yang tidak hanya berfokus pada peragaan busana, tetapi juga pada pengembangan kapasitas dan perluasan jejaring.

Thresia Mareta (Founder of LAKON Indonesia). (Dok. Istimewa)

Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Peragaan Busana

Kekuatan BRI JF3 Fashion Festival tidak lepas dari fondasi yang dimilikinya sejak awal. Diinisiasi oleh Summarecon, festival ini memiliki keunggulan yang jarang dimiliki platform fashion lain di Indonesia, yaitu akses langsung ke pusat retail. Keunggulan tersebut memungkinkan JF3 menghadirkan ekosistem yang lebih utuh, mulai dari ruang presentasi kreatif di atas panggung hingga akses pasar dan konsumen secara langsung. Dengan kata lain, para desainer tidak hanya mendapatkan sorotan lampu panggung, tetapi juga kesempatan nyata untuk menjangkau pembeli.

Thresia Mareta, Advisor JF3 Fashion Festival, menyampaikan, "Indonesia memiliki kekayaan craftsmanship, material, pengetahuan, dan identitas budaya yang sangat besar. Namun semua itu tidak cukup jika hanya berhenti sebagai potensi. Ia perlu diolah, diarahkan, dan dihubungkan dengan sistem yang tepat. Di JF3 Fashion Festival, kami ingin membuka ruang agar desainer tidak hanya tampil, tetapi juga berkembang, bertukar, dan menemukan peluang untuk melangkah lebih jauh."

Senada dengan hal tersebut, Soegianto Nagaria, Chairman JF3 Fashion Festival, menjelaskan, "Melalui JF3 Fashion Festival, kami menghubungkan proses kreatif dengan akses pasar yang nyata, dari runway langsung ke konsumen. Industri fashion yang kuat tidak tumbuh dari satu event, tetapi dari ekosistem yang dibangun secara konsisten. Kami percaya bahwa kreativitas yang didukung oleh infrastruktur yang tepat akan menghasilkan dampak ekonomi yang jauh lebih besar."

Kolaborasi Lintas Negara, Bukti Kreativitas Tanpa Batas

Dalam membuka ruang pertukaran kreatif lintas negara, sejumlah kolaborasi internasional turut dihadirkan dalam rangkaian BRI JF3 Fashion Festival 2026. Kolaborasi ini bukan sekadar seremoni, melainkan proses kerja nyata yang melibatkan riset, produksi, dan dialog budaya.

TAREET X DENIMITUP: Pertemuan Dua Budaya dalam Streetwear

Salah satu bentuk kolaborasi internasional tahun ini hadir melalui kerja sama antara TAREET, brand asal Prancis milik Etienne, dengan DENIMITUP, peserta program akselerator PINTU. TAREET dikenal sebagai brand yang karyanya pernah dikenakan oleh Playboi Carti dan ENHYPEN, serta dipercaya merancang jersey Olympique de Marseille bersama PUMA.

Di BRI JF3 Fashion Festival 2026, keduanya menghadirkan show bertema "Fas Delman", koleksi yang menerjemahkan pertemuan budaya Indonesia dan Senegal ke dalam bahasa streetwear kontemporer melalui siluet dan pendekatan desain modern. Kolaborasi ini menjadi contoh bagaimana karya Indonesia dapat masuk ke dalam percakapan kreatif yang lebih luas melalui pertukaran gagasan, teknik, dan perspektif desain.

PINTU Residency: Dialog Kreatif Indonesia dan Prancis

Memasuki penyelenggaraan keduanya, PINTU Residency mempertemukan dua desainer Indonesia dan dua desainer Prancis dalam program residensi selama empat bulan. Program ini dikurasi oleh Thresia Mareta, Pascaline Wilhelm, dan Carol Meyer. Berlangsung sejak April hingga Juli 2026, para peserta menjalani proses riset bersama, mengeksplorasi teknik tekstil tradisional, bekerja langsung dengan komunitas artisan, serta mengembangkan koleksi melalui pertukaran pengetahuan dan budaya.

Di Lombok, desainer Prancis Mickaël Nana berkolaborasi dengan desainer Indonesia Beatrice Angelica untuk mengembangkan koleksi GARUDA. Koleksi ini memadukan pendekatan tailoring Barat dengan tenun dan songket Lombok, melalui interpretasi kontemporer terhadap simbol Garuda sebagai representasi kekuatan, kebebasan, dan identitas.

Sementara itu, di Mojokerto, Lisa Rayar dan Gabriel Marcella mengembangkan koleksi AU LARGE. Terinspirasi oleh tradisi maritim Prancis dan budaya pesisir Jawa, koleksi ini mempertemukan batik, struktur tailoring, dan referensi seragam dalam siluet kontemporer. Hasil dari kedua proses tersebut akan dipresentasikan untuk pertama kalinya di JF3 Fashion Festival 2026.

Lebih dari sekadar menghasilkan koleksi, PINTU Residency membangun ruang dialog antara desainer, artisan, material, teknik, dan latar budaya yang berbeda. Kolaborasi ini menjadi upaya untuk menciptakan proses kreatif yang setara, relevan, dan memiliki nilai jangka panjang bagi seluruh pihak yang terlibat.

LAKON Indonesia Supported by EUNEUN: Sentuhan Korea di Atas Runway

JF3 2026 memperluas hubungan kreatif dengan Korea Selatan melalui presentasi LAKON Indonesia yang didukung oleh euneun, brand tas asal Korea Selatan. Dalam koleksi bertajuk "Harsa", tas euneun hadir sebagai pelengkap yang memperkuat karakter tampilan di atas runway.

Di bawah arahan Creative Director Irsan, LAKON Indonesia melalui koleksi Harsa menampilkan 36 look yang mengangkat kekayaan batik dan bordir tangan Indonesia dalam bahasa desain modern melalui eksplorasi proporsi, konstruksi, serta material seperti katun poplin, katun voile, satin duchess, dan organza. Koleksi ini menjadi penghormatan LAKON Indonesia kepada para perajin, pembatik, pembordir, penjahit, dan seluruh tangan yang terlibat dalam proses penciptaan.

LAKON Indonesia Supported by Euneun membawakan koleksi _HARSA_, pada BRI JF3 Fashion Festival 2026, Rabu, 29 Juli 2026 di JF3 Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading. (Dok. Istimewa)

Kehadiran pendiri euneun sekaligus idol dan aktris Korea Selatan, Hahm Eun-jung, menjadi simbol semakin terbukanya ruang kolaborasi antara industri fashion Indonesia dan Korea Selatan. Momen ini menunjukkan bahwa kolaborasi tidak hanya berhenti pada desain, tetapi juga merambah pada pertukaran budaya pop dan pengaruh global.

Berbagai kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa JF3 tidak lagi hanya menjadi ruang presentasi karya, tetapi juga platform yang mempertemukan talenta, pengetahuan, jejaring, dan peluang pasar. Melalui kerja sama internasional, JF3 mendorong desainer dan brand Indonesia untuk tidak hanya tampil di panggung lokal, tetapi juga membangun kesiapan untuk berinteraksi dengan standar dan ekosistem global.

Dengan tema "Recrafted: Shaping the Future", BRI JF3 Fashion Festival 2026 menegaskan komitmennya untuk membentuk masa depan fashion Indonesia melalui kreativitas, craftsmanship, pengembangan talenta, dan kolaborasi lintas negara. Dari panggung fashion show yang dirintis lebih dari dua dekade lalu, JF3 kini terus bergerak menjadi ekosistem yang membuka jalan bagi fashion Indonesia untuk tumbuh lebih kuat, relevan, dan berdaya saing.

Informasi terkini mengenai profil desainer dan rangkaian program BRI JF3 Fashion Festival 2026 dapat diikuti melalui situs resmi dan akun Instagram @JF3_info.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar