PARADAPOS.COM - Musim kemarau panjang yang melanda Provinsi Jambi telah membawa dampak nyata bagi warga Kabupaten Muaro Jambi. Debit air Sungai Batanghari yang terus menyusut memicu krisis air bersih dan mengancam mata pencaharian ratusan petani ikan keramba di wilayah tersebut. Keluhan warga pun mulai bermunculan, terutama di Desa Danau Lamo, Kecamatan Maro Sebo, yang mengandalkan sumur untuk kebutuhan sehari-hari.
Di tengah teriknya matahari yang menyengat, warga Desa Danau Lamo harus berjuang mendapatkan air bersih. Sumur-sumur yang selama ini menjadi sumber kehidupan mulai kehilangan debit airnya. Yang lebih memprihatinkan, jika pun masih ada air, kondisinya keruh dan berbau, sehingga jauh dari kata layak konsumsi. Situasi ini jelas memukul aktivitas rumah tangga sehari-hari.
"Kalau air bersih, kita tidak ada karena jaringan PDAM-nya jauh di Muaro Jambi. Di sini kami mengandalkan air sumur. Selama kemarau ini, airnya sudah mulai keruh karena kering," ungkap Soleh, salah seorang warga setempat dikutip dari Metro Hari Ini, Metro TV, Selasa 11 Agustus 2026.
Petani Keramba Terancam Rugi
Krisis yang dipicu kemarau ini tidak hanya berhenti pada persoalan air minum. Sektor perikanan pun ikut merasakan pahitnya musim kemarau. Di sepanjang aliran Sungai Batanghari, ratusan petani keramba harus pasrah melihat ikan peliharaan mereka mati satu per satu. Penyebabnya jelas: volume air yang menyusut drastis, kualitas air yang memburuk, dan suhu udara yang sangat panas.
Kematian massal ikan ini bukan hanya soal kehilangan stok, tetapi juga memperpanjang siklus panen yang sudah terlanjur berjalan. Alhasil, kerugian finansial pun tidak bisa dihindari oleh para petani yang menggantungkan hidupnya dari sungai tersebut.
"Dampaknya sekarang banyak (ikan) yang mati, jadi terasa rugi. Kalau sekarang panen bisa sampai umur tujuh atau delapan bulan, padahal biasanya kami panen di usia 4,5 hingga 5,5 bulan," keluh Kadir, salah satu petani ikan keramba.
Kondisi yang memprihatinkan ini tentu saja menyisakan harapan besar. Warga berharap pihak terkait segera turun tangan memberikan perhatian serius. Jika tidak, bukan tidak mungkin krisis air bersih dan kerugian ekonomi yang dialami warga akan semakin meluas dan berkepanjangan di tengah musim kemarau yang belum diketahui kapan akan berakhirnya.
Artikel Terkait
Program Kesehatan Karyawan MAS Arya Indonesia Jangkau 2.907 Pekerja sejak 2019
Serangan Houthi di Selat Bab al-Mandeb Tewaskan Satu WNI dan Tiga Warga Pakistan
Paul Scholes Rekomendasikan MU Rekrut Cristian Romero dan Adam Wharton
Plt KUA Pulau Beringin Tewas Ditikam di Parkiran Kantor, Polisi Buru Pelaku