Kabut Asap Karhutla Palangka Raya Memburuk, Kasus ISPA di Puskesmas Bukit Hindu Meningkat

- Rabu, 12 Agustus 2026 | 02:50 WIB
Kabut Asap Karhutla Palangka Raya Memburuk, Kasus ISPA di Puskesmas Bukit Hindu Meningkat

PARADAPOS.COM - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, mulai berdampak nyata pada kesehatan warga. Puskesmas Bukit Hindu mencatat peningkatan jumlah penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sejak Juni 2026, dengan lonjakan kasus terbaru terjadi di tengah memburuknya kualitas udara. Data terakhir menunjukkan angka kasus naik dari 340 menjadi 354 orang, sementara kabut asap pekat dilaporkan mengganggu aktivitas warga, terutama pengguna jalan di Jalan Tjilik Riwut Kilometer 10 pada pagi hari.

Fenomena ini bukan sekadar gangguan visual. Ketebalan asap yang menyelimuti wilayah tersebut telah memaksa warga untuk beradaptasi dengan kondisi udara yang jauh dari sehat. Petugas kesehatan di lapangan pun terus bekerja memantau perkembangan kasus, mengingat musim kebakaran masih belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.

Lonjakan Kasus ISPA di Puskesmas Bukit Hindu

Berdasarkan laporan yang dihimpun dari tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV pada Rabu, 12 Agustus 2026, Puskesmas Bukit Hindu mencatat adanya penambahan pasien ISPA yang signifikan. Jika sebelumnya jumlah pasien berada di angka 340 orang, kini angkanya bertambah menjadi 354 orang. Kenaikan ini terjadi dalam rentang waktu yang relatif singkat, bertepatan dengan intensitas kebakaran yang meningkat di sejumlah titik.

“Kami melihat tren kenaikan ini sejak Juni lalu, dan puncaknya memang terjadi saat kabut asap mulai pekat,” ujar salah satu petugas kesehatan setempat, menggambarkan situasi yang terus berkembang.

Penambahan kasus ini menjadi indikator awal bahwa paparan polusi udara telah mulai memengaruhi daya tahan tubuh warga, khususnya mereka yang memiliki aktivitas tinggi di luar ruangan.

Gangguan Aktivitas dan Jarak Pandang

Di sisi lain, kabut asap yang menyelimuti Palangka Raya juga menimbulkan persoalan tersendiri bagi mobilitas warga. Jalan Tjilik Riwut Kilometer 10, yang merupakan salah satu ruas jalan utama, dilaporkan mengalami penurunan jarak pandang yang cukup drastis. Kondisi ini paling terasa pada pagi hari ketika kepadatan asap berada pada titik tertinggi.

Pengendara yang melintas di kawasan tersebut harus ekstra hati-hati. Kecepatan kendaraan otomatis berkurang, dan lampu kendaraan pun dinyalakan meski matahari sudah terbit. Situasi ini tentu memperlambat laju ekonomi dan aktivitas harian masyarakat.

Asap tebal tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga meningkatkan paparan polusi udara yang dapat mengganggu saluran pernapasan. Hal ini menjadi perhatian serius bagi dinas kesehatan setempat, yang terus mengimbau warga untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah.

Upaya Pemantauan dan Kewaspadaan Petugas

Menghadapi situasi yang belum kondusif ini, petugas kesehatan di Palangka Raya tidak tinggal diam. Mereka secara berkelanjutan memantau perkembangan kasus ISPA di setiap puskesmas, termasuk di Puskesmas Bukit Hindu. Langkah ini diambil sebagai bentuk kewaspadaan dini terhadap kemungkinan lonjakan kasus yang lebih besar.

Koordinasi antara petugas lapangan dan puskesmas pun diperketat. Setiap hari, data terbaru mengenai jumlah pasien dan kondisi kualitas udara dikumpulkan untuk dianalisis. Hal ini penting dilakukan agar langkah-langkah penanganan dapat segera diambil jika terjadi peningkatan kasus yang signifikan.

Meski demikian, kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan tetap menjadi kunci utama. Di tengah kondisi yang tidak menentu ini, penggunaan masker dan pengurangan aktivitas di luar ruangan menjadi langkah preventif yang paling efektif untuk menghindari dampak buruk kesehatan yang lebih parah.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler