PARADAPOS.COM - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat dampak signifikan pascagempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Berdasarkan data sementara yang dirilis lembaga tersebut, sedikitnya 54 unit rumah mengalami rusak berat, sementara puluhan lainnya rusak sedang dan ringan. Kerusakan juga meluas ke sejumlah fasilitas publik, termasuk lima fasilitas kesehatan, satu fasilitas pendidikan, satu gudang Bulog, tiga fasilitas ibadah, dan enam kantor pemerintahan. Kabupaten Manggarai tercatat sebagai wilayah dengan dampak kerusakan terbanyak, diikuti Manggarai Timur dan Nagekeo. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton S.P. Panjaitan, dalam siaran pers resminya pada hari yang sama, memaparkan rincian data tersebut. "Sementara tercatat 54 unit rumah rusak berat, sembilan unit rumah rusak sedang, dan 11 unit rumah rusak ringan. Kerusakan juga terjadi pada lima fasilitas kesehatan, satu fasilitas pendidikan, satu gudang Bulog, tiga fasilitas ibadah, serta enam kantor pemerintahan," ungkapnya. Rincian Kerusakan di Kabupaten Terdampak Berton kemudian memerinci lebih lanjut situasi di masing-masing daerah. Di Kabupaten Manggarai, tercatat 29 unit rumah rusak berat, sembilan unit rumah rusak sedang, dan sembilan unit rumah rusak ringan. Selain itu, lima fasilitas kesehatan dan satu fasilitas pendidikan di daerah tersebut turut dilaporkan mengalami kerusakan. Sementara itu, wilayah tetangga, Kabupaten Manggarai Timur, juga mencatatkan kerusakan yang cukup parah. "Sementara di Kabupaten Manggarai Timur tercatat 23 unit rumah rusak berat," sebutnya. Di Kabupaten Nagekeo, dampak sementara meliputi dua unit rumah rusak berat, satu unit rusak sedang, dan dua unit rusak ringan. Dua fasilitas ibadah dilaporkan mengalami kerusakan ringan, dan lima kantor pemerintahan juga ikut terdampak. Kondisi di lapangan menunjukkan gangguan infrastruktur dasar masih berlanjut. "Kondisi terkini di wilayah tersebut, arus lalu lintas dilaporkan mengalami kemacetan dan aliran listrik masih padam," jelasnya. Kronologi Guncangan dan Peringatan Tsunami Gempa utama berpusat di laut pada koordinat 8,41 Lintang Selatan dan 121,39 Bujur Timur, dengan kedalaman 15 kilometer. Lokasi episentrumnya berada sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. Guncangan kuat dirasakan selama kurang lebih satu menit di sejumlah kabupaten, seperti Nagekeo, Sikka, Manggarai Barat, hingga Kota Bima. Getarannya juga terasa hingga ke wilayah Sulawesi Selatan, termasuk Jeneponto, Kepulauan Selayar, dan Maros. Ruas jalan terlihat rusak dan retak di sejumlah titik akibat guncangan dahsyat tersebut. Gempa utama sempat memicu peringatan dini tsunami. Namun, berdasarkan hasil observasi tinggi muka air laut di wilayah terdampak, tidak terdapat kenaikan signifikan yang membahayakan. BMKG secara resmi menyatakan bahwa peringatan dini tsunami telah berakhir pada pukul 07.31 WIB. Imbauan dan Langkah Lanjutan BNPB Menyikapi situasi ini, BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Warga juga diminta untuk menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa, mengingat masih terdapat potensi bahaya gempa susulan. BNPB bersama BPBD dan unsur terkait akan terus melakukan pemantauan serta pemutakhiran data dampak gempa. Seluruh informasi resmi mengenai perkembangan situasi dapat diperoleh melalui kanal komunikasi resmi pemerintah dan BMKG.
Artikel Terkait
KPK Pastikan Status Mahasiswa Baru Unsoed Tak Terdampak Kasus Dugaan Pemerasan
KJRI Houston Putar Perdana Film Animasi Jumbo untuk Rayakan HUT ke-81 RI
Polisi Tembus Tujuh Titik Terisolir di NTT Usai Gempa, Distribusi Bantuan Terhambat Medan Ekstrem
Manchester United Sepakati Transfer Carlos Baleba dari Brighton Senilai Rp1,5 Triliun