Menteri Pertahanan Jepang Kunjungi Kuil Yasukuni di Hari Peringatan Perang, Tiongkok dan Korsel Kecam

- Sabtu, 15 Agustus 2026 | 20:25 WIB
Menteri Pertahanan Jepang Kunjungi Kuil Yasukuni di Hari Peringatan Perang, Tiongkok dan Korsel Kecam

PARADAPOS.COM - Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, mengunjungi Kuil Yasukuni di Tokyo pada Sabtu, 15 Agustus 2026, bertepatan dengan peringatan 81 tahun berakhirnya Perang Dunia II. Langkah kontroversial ini memicu kecaman langsung dari Tiongkok dan Korea Selatan, yang menilai kunjungan tersebut sebagai bentuk pengagungan masa lalu militeristik Jepang. Kunjungan ini juga menjadi sorotan tajam karena dilakukan di tengah ketegangan diplomatik yang sudah lama terjadi di kawasan Asia Timur. Kuil Yasukuni sendiri merupakan tempat yang sangat sensitif. Di kuil ini, sekitar 2,5 juta arwah korban perang Jepang diabadikan, termasuk 14 pemimpin masa perang yang secara resmi dinyatakan sebagai penjahat perang Kelas A oleh pengadilan Sekutu. Keberadaan para penjahat perang itulah yang menjadikan Yasukuni sebagai simbol kontroversi, bukan sekadar tempat ziarah biasa. Koizumi tiba di kuil pada pagi hari. Suasana di sekitar kompleks kuil tampak dijaga ketat, dengan sejumlah petugas keamanan berjaga di beberapa titik. Beberapa wartawan yang sudah menunggu sejak pagi berusaha mengejar keterangan, namun Koizumi terlihat langsung masuk dan meninggalkan lokasi tanpa memberikan komentar sepatah kata pun kepada awak media.

Penghormatan yang Menuai Kecaman

Meski bungkam di hadapan wartawan, Koizumi mengunggah pernyataan di akun Instagram pribadinya. Dalam unggahan tersebut, dia menjelaskan bahwa kedatangannya adalah untuk menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada para korban perang. Dia juga menegaskan kembali komitmen Jepang untuk terus berjalan di jalur sebagai negara cinta damai pascaperang. Pernyataan itu tentu tidak meredakan ketegangan. Kementerian Luar Negeri Tiongkok langsung bereaksi keras. Beijing mengaku telah menyampaikan protes resmi kepada pemerintah Jepang. Tindakan para pejabat Jepang ini, menurut mereka, merupakan upaya untuk mengabaikan sejarah kelam agresi Jepang di Asia. Korea Selatan pun angkat bicara. Pemerintah Seoul menyatakan "keprihatinan mendalam" atas kunjungan Koizumi dan juga persembahan ritual yang dikirim oleh Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi. Mereka menyebut tindakan tersebut sebagai sesuatu yang "anakronistis" dan mendesak para pemimpin Jepang untuk menghadapi sejarah masa lalu dengan menunjukkan refleksi dan penyesalan yang tulus melalui tindakan nyata, bukan sekadar retorika.

PM Takaichi Pilih Jalur Aman

Menariknya, Perdana Menteri Takaichi memilih untuk tidak hadir langsung di Yasukuni pada peringatan tahun ini. Sebagai gantinya, dia mengirimkan persembahan ritual. Keputusan ini terbilang berbeda dari kebiasaannya. Sebelum menjabat sebagai perdana menteri, Takaichi dikenal sebagai salah satu politikus yang rutin mengunjungi kuil tersebut. Pada hari yang sama, Takaichi menghadiri upacara peringatan nasional di Nippon Budokan. Dalam pidatonya, dia menegaskan komitmen Jepang untuk mempertahankan perdamaian pascaperang. Namun, yang menjadi catatan banyak pengamat, dia tidak secara spesifik menyinggung soal agresi dan kekejaman Jepang di Asia selama Perang Dunia II. Kunjungan Koizumi ini mendapat perhatian ekstra karena statusnya sebagai Menteri Pertahanan yang sedang menjabat. Ini bukan kali pertama seorang menteri pertahanan Jepang melangkah ke Yasukuni. Sebelumnya, Minoru Kihara tercatat melakukan kunjungan serupa pada 2024. Kunjungan pejabat tinggi Jepang ke Yasukuni memang selalu menjadi sumber gesekan diplomatik yang berulang. Bagi Beijing dan Seoul, isu ini berkaitan erat dengan pertanggungjawaban Jepang atas pendudukan dan agresi militernya di Asia pada dekade 1930-an dan 1940-an. Sementara bagi sejumlah politikus Jepang, kunjungan semacam ini dianggap sebagai penghormatan personal kepada para korban perang. Perbedaan pandangan yang mendasar ini membuat Yasukuni tetap bertahan sebagai salah satu simbol paling sensitif dalam hubungan Jepang dengan kedua negara tetangganya. Setiap langkah pejabat Jepang menuju kuil tersebut hampir dipastikan akan memicu reaksi, dan kali ini tidak terkecuali.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar