PARADAPOS.COM - Empat nama kembali mencuat dalam bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35 yang dijadwalkan berlangsung pada 27 hingga 29 Agustus 2026. Founder Citra Institute, Yusak Farchan, menyebut KH Nasaruddin Umar, KH Zulfa Mustofa, KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), dan KH Marsudi Syuhud sebagai figur yang layak dipertimbangkan untuk memimpin organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.
Menjelang perhelatan akbar yang tinggal menghitung hari, dinamika politik di internal Nahdlatul Ulama mulai menghangat. Berbagai nama bermunculan, dan publik pun mulai berspekulasi mengenai siapa yang akan menggantikan posisi puncak di organisasi yang memiliki jutaan anggota ini.
Empat Nama yang Diprediksi Menguat
Yusak Farchan mengamati dengan seksama perkembangan politik NU belakangan ini. Menurutnya, dari enam hingga delapan nama yang beredar di publik, empat figur memiliki peluang besar untuk bersaing ketat memperebutkan kursi PBNU-1.
"Nama-nama seperti KH Nasaruddin Umar, KH Zulfa Mustofa, KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), dan KH Marsudi Syuhud saya kira sangat layak dipertimbangkan sebagai Ketua Umum PBNU," bebernya saat dihubungi pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Masing-masing kandidat, lanjut Yusak, memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dipertimbangkan secara matang oleh para pemilih di Muktamar nanti.
"Dari enam hingga delapan nama kandidat Ketum PBNU yang beredar, saya kira masing-masing memiliki plus-minus," ujarnya.
Kebutuhan Figur Berwawasan Global
Di tengah lanskap geopolitik yang semakin kompleks dan persoalan global yang kian berlapis, Yusak menilai PBNU membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya kuat secara internal organisasi. Ia menekankan pentingnya pengalaman diplomasi dan jejaring internasional yang mumpuni.
"Ketua Umum PBNU ke depan tidak cukup hanya memiliki kemampuan mengelola organisasi dan jejaring internal, tetapi juga perlu memiliki pengalaman diplomasi internasional serta rekam jejak global," tutur Magister Ilmu Politik Universitas Nasional (UNAS) tersebut.
Menariknya, keempat tokoh yang disebutkannya dinilai memiliki kombinasi antara rekam jejak kepemimpinan organisasi yang teruji dan komitmen kuat dalam mendorong dialog antaragama serta peradaban di tingkat dunia. Hal ini menjadi nilai tambah tersendiri di mata Yusak.
"Serta memiliki kapasitas dalam memperkenalkan model Islam moderat khas Indonesia dalam percaturan global," pungkasnya.
Dengan segala dinamika yang ada, publik tentu menantikan bagaimana arah politik NU ke depan. Keputusan akhir pun berada di tangan para peserta Muktamar yang akan menentukan pilihan mereka dalam beberapa hari ke depan."
Artikel Terkait
Gempa M 7,7 di NTT Tewaskan 47 Orang, 5.434 Warga Mengungsi
Bulog Salurkan Bantuan Pangan 10 Ton Beras dan 1.000 Liter Minyak Goreng untuk Warga Terdampak Gempa NTT
Trump Klaim Selat Hormuz Milik AS, Iran Bersikeras Tetap di Bawah Kedaulatan Tehran
iQoo 16 Bocor: Layar 165Hz, Baterai 8.500 mAh, dan Chipset 2nm