Gempa M7,4 di NTT Tewaskan 53 Orang, Ratusan Bangunan Rusak

- Minggu, 16 Agustus 2026 | 13:25 WIB
Gempa M7,4 di NTT Tewaskan 53 Orang, Ratusan Bangunan Rusak

PARADAPOS.COM - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Selasa (14/12/2021) telah menewaskan sedikitnya 53 orang dan melukai 135 lainnya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban jiwa ini masih terus bertambah seiring proses evakuasi di sejumlah wilayah terdampak, terutama di Kabupaten Flores Timur dan Malaka. Getaran kuat yang berpusat di laut itu juga memicu kerusakan ratusan bangunan, termasuk rumah warga, fasilitas umum, dan tempat ibadah.

Dampak dan Skala Kerusakan

Laporan yang dihimpun dari lapangan menunjukkan skala kerusakan yang parah di beberapa titik. Di Larantuka, ibu kota Flores Timur, sejumlah rumah permanen dilaporkan rata dengan tanah. Sementara itu, di Pulau Adonara, akses jalan terputus akibat longsor yang dipicu oleh guncangan. Tim gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan masih berupaya menjangkau daerah-daerah terisolir untuk memastikan tidak ada korban yang tertimbun.

Data yang dirilis BNPB mencatat kerusakan yang tersebar tidak merata. Kerusakan paling signifikan terjadi di wilayah pesisir yang berhadapan langsung dengan episentrum. Di Kecamatan Wulanggitang, misalnya, puluhan unit rumah mengalami rusak berat. Proses pendataan masih terus dilakukan, dan angka ini diperkirakan akan berubah seiring waktu.

Respons dan Penanganan Darurat

Pemerintah daerah setempat telah menetapkan status tanggap darurat selama dua pekan ke depan. Langkah ini diambil untuk mempercepat proses evakuasi dan penyaluran bantuan logistik. Dapur umum mulai didirikan di sejumlah titik pengungsian untuk melayani warga yang kehilangan tempat tinggal.

"Kami masih fokus pada evakuasi korban dan pencarian kemungkinan adanya warga yang tertimbun," ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB saat dikonfirmasi awak media. Ia menambahkan bahwa kebutuhan mendesak saat ini adalah tenda pengungsian, selimut, serta obat-obatan.

"Alat berat sudah dikerahkan untuk membersihkan puing-puing dan membuka akses jalan yang sempat tertutup longsor," lanjutnya. Namun, ia mengakui bahwa medan yang sulit dan cuaca yang tidak menentu menjadi kendala utama di lapangan.

Kesiapsiagaan dan Peringatan Dini

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini tsunami pasca-gempa utama. Peringatan tersebut sempat membuat warga di pesisir berhamburan ke dataran tinggi. Meski status peringatan dini telah dicabut, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan yang berkekuatan lebih kecil.

Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya pada informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Pihak berwenang meminta warga untuk hanya mengacu pada informasi resmi dari instansi terkait. Hal ini penting untuk menghindari kepanikan yang tidak perlu di tengah situasi yang masih belum sepenuhnya stabil.

Hingga berita ini diturunkan, proses evakuasi dan pendataan korban masih terus berlangsung. Tim medis dan relawan dari berbagai daerah mulai berdatangan untuk membantu penanganan korban luka-luka di rumah sakit darurat yang didirikan di dekat lokasi bencana.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler