250 Guru PAUD se-Bandung Raya Ikuti Sosialisasi Empat Pilar MPR RI

- Minggu, 16 Agustus 2026 | 15:00 WIB
250 Guru PAUD se-Bandung Raya Ikuti Sosialisasi Empat Pilar MPR RI

PARADAPOS.COM - Sebanyak 250 guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dari lingkungan Persatuan Islam Istri se-Bandung Raya, Garut, dan Sumedang mengikuti Sosialisasi Empat Pilar Berbasis Komunitas yang digelar MPR RI di Artotel Suites Aquila Bandung, Sabtu (15/8). Kegiatan ini menyoroti pentingnya penguatan ideologi Pancasila di tengah derasnya arus nilai asing, dengan penekanan pada peran pendidik sebagai ujung tombak penanaman nilai kebangsaan kepada generasi penerus. Guru PAUD Jadi Garda Terdepan Penanaman Nilai Kebangsaan Ratusan pendidik anak usia dini itu tampak antusias mengikuti rangkaian acara dari awal hingga akhir. Mereka bukan sekadar peserta, melainkan diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu menularkan semangat kebangsaan di lingkungan masing-masing. Suasana diskusi berlangsung hangat, mencerminkan kepedulian para guru terhadap masa depan bangsa. Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Muhammad Hoerudin Amin, membuka sesi dengan sebuah peringatan tegas. Menurutnya, sebuah bangsa yang tercerabut dari akar nilai-nilai dasar dan ideologinya sedang berada di ambang kehancuran. Ia menekankan bahwa meskipun berbagai pengaruh asing kian mudah masuk, fondasi negara tidak boleh goyah. Pancasila sebagai dasar negara, UUD 1945 sebagai konstitusi, NKRI sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan, lanjutnya, adalah harga mati yang wajib terus diajarkan. Nilai-nilai inilah yang selama ini menjadi perekat keberagaman Indonesia, menjaga keutuhan dari ancaman perpecahan yang datang silih berganti. "Karena nilai itulah negara Indonesia yang beragam ini masih terus bersatu, luput dari ancaman perpecahan yang terus muncul bergantian. Dan sampai kapanpun, kita akan terus menjaga, mempertahankan dan mengajarkannya kepada generasi muda, agar Indonesia yang kita cintai senantiasa lestari," ujar Hoerudin Amin. Membangun Kebiasaan Baik Sejak Usia Dini Politisi Fraksi PAN asal Dapil Jawa Barat XI itu berharap besar kepada para guru PAUD. Ia meminta mereka untuk mulai mengajarkan nilai-nilai Empat Pilar MPR kepada anak-anak sejak dini, tentunya dengan cara yang sederhana dan dekat dengan keseharian anak. Hal-hal kecil seperti menjaga kebersihan, saling tolong-menolong, bekerja sama, dan menumbuhkan sikap toleransi adalah contoh konkret yang bisa dimulai. Menurutnya, penanaman nilai sejak dini adalah investasi jangka panjang. Jika kebaikan sudah menjadi kebiasaan sejak kecil, maka ketika dewasa nanti hal tersebut akan mendarah daging dan menjadi karakter. Anak-anak akan melakukannya tanpa perlu diminta, karena nilai-nilai itu telah menjadi panggilan hati. "Kalau nilai-nilai kebaikan itu sudah menjadi kebiasaan sejak kecil, maka saat mereka sudah besar telah mendarah daging menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga tanpa diminta mereka akan melaksanakan nilai-nilai kebaikan itu sebagai panggilan hati," tutur Hoerudin. Duta Empat Pilar dari Ruang Kelas Senada dengan Hoerudin, Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam Istri, Dra. Hj. Lia Yuliani S.Ag., memberikan arahan khusus kepada para guru. Ia meminta mereka untuk tidak hanya menjadi pendidik, tetapi juga berperan sebagai duta Empat Pilar. Para guru harus terlibat aktif menyampaikan nilai-nilai kebangsaan tidak hanya di sekolah, tetapi juga di tengah masyarakat dan lingkungan rumah. Lia Yuliani meyakini bahwa semakin dini anak-anak dikenalkan dengan Empat Pilar, maka akan semakin besar peluang keberhasilan dalam menanamkan kebaikan. Ini adalah perlombaan melawan waktu, sebelum anak-anak terpapar oleh nilai-nilai lain yang belum tentu sejalan dengan kepribadian bangsa. "Semakin cepat kita mengenalkan empat pilar kepada mereka, semakin besar peluang keberhasilan kita menanamkan kebaikan pada mereka. Itu artinya semakin cepat semakin baik, sebelum mereka mengenal nilai-nilai lain di luar sana," kata Lia Yuliani. Ia pun mengingatkan agar penyebaran nilai-nilai ini dimulai dari lingkaran terdekat terlebih dahulu. Keluarga, tetangga, dan saudara adalah prioritas utama. Dengan begitu, ketika para guru mulai berdakwah di lingkungan yang lebih luas, keluarga mereka sendiri sudah menjadi teladan yang menjalankan nilai-nilai tersebut. "Orang terdekatlah yang diprioritaskan, agar ketika mulai mengenalkan kepada lingkungan, keluarga kita terlebih dahulu sudah melaksanakannya," pungkas Yuliani.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler