Gempa M7,7 Guncang Flores, ITB Ingatkan Ancaman Gempa Susulan Berkekuatan Besar

- Minggu, 16 Agustus 2026 | 20:50 WIB
Gempa M7,7 Guncang Flores, ITB Ingatkan Ancaman Gempa Susulan Berkekuatan Besar

PARADAPOS.COM - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Guncangan signifikan ini tidak berpotensi tsunami, namun diikuti oleh serangkaian gempa susulan yang hingga kini masih terus berlangsung. Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, Irwan Meilano, mengingatkan bahwa kawasan ini memiliki sejarah kegempaan yang panjang dan kompleks, sehingga kewaspadaan terhadap gempa susulan berkekuatan besar tetap menjadi prioritas utama. Peristiwa alam ini langsung menjadi sorotan para ahli kebumian. Pasalnya, lokasi episentrum berada di zona yang secara geologis dikenal aktif, yakni Flores Back Arc atau busur belakang Flores. Zona ini bukanlah wilayah asing bagi aktivitas seismik; catatan sejarah menunjukkan beberapa gempa besar pernah lahir dari segmen patahan yang sama. Sejarah Panjang Kegempaan di Zona Flores Back Arc Wilayah tempat terjadinya gempa kali ini memang memiliki rekam jejak kegempaan yang tidak bisa dianggap remeh. Irwan Meilano menjelaskan, kawasan tersebut pernah menjadi episentrum gempa bermagnitudo 6,6 pada tahun 2009. Tak berhenti di situ, rangkaian gempa dahsyat yang mengguncang Lombok pada 2018 lalu juga berasal dari segmen yang masih berada dalam sistem geologi yang sama. "Kalau kita ingat tahun 2018 misalnya, di utara Lombok, itu pun terjadi retakan gempa besar di atas magnitudo enam," ujar Irwan, dikutip dari laman resmi ITB, Minggu, 16 Agustus 2026. Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa kajian akademik dalam penyusunan peta gempa nasional telah lama mengidentifikasi adanya potensi seismik yang belum terlepas di wilayah tersebut. Artinya, energi di dalam bumi di kawasan ini memang belum sepenuhnya stabil. "Sebetulnya potensi gempa itu tidak kita harapkan tetapi masih ada di wilayah tersebut," jelasnya. Ratusan Gempa Susulan Masih Perlu Diwaspadai Setelah gempa utama mengguncang, perhatian para ahli dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) langsung tertuju pada aktivitas susulan. Data pemantauan mencatat puluhan gempa susulan telah terjadi, dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2. Angka ini bukanlah kecil dan tetap mampu menyebabkan kerusakan, terutama pada bangunan yang sebelumnya telah melemah akibat guncangan utama. Irwan menekankan bahwa pola gempa besar pada umumnya memang selalu diikuti oleh rentetan gempa susulan. Secara bertahap, magnitudo gempa-gempa kecil ini cenderung menurun. Namun, ia mengingatkan bahwa penurunan ini tidak bersifat linear dan bisa saja terjadi fluktuasi. "Mungkin gempanya banyak, tapi semakin lama semakin mengecil. Tetapi masih ada kemungkinan, walaupun kecil, apabila gempanya di atas enam, itu bisa memberikan dampak merusak yang cukup signifikan," tuturnya. Pengalaman gempa Lombok pada 2018 menjadi pelajaran berharga. Saat itu, aktivitas seismik tidak hanya terjadi pada satu titik, tetapi melibatkan segmen-segmen patahan yang berdekatan. Hal inilah yang membuat Irwan mengingatkan agar masyarakat tidak lengah meskipun intensitas gempa susulan mulai mereda. "Namun, karakteristik kegempaan di kawasan Flores Back Arc membuat kewaspadaan tetap diperlukan," ucapnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa banyaknya gempa susulan tidak serta-merta menjadi indikasi akan terjadinya gempa yang lebih besar. Secara umum, magnitudo gempa susulan memang menunjukkan tren penurunan seiring berjalannya waktu. Yang terpenting saat ini adalah kesiapsiagaan masyarakat dan pemantauan berkelanjutan dari otoritas terkait untuk memastikan keselamatan bersama.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar