PARADAPOS.COM - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melaporkan bahwa 86,02 persen dari 794 menara Base Transceiver Station (BTS) yang rusak akibat gempa magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) telah kembali beroperasi. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyatakan 683 site telah pulih, sementara 111 site lainnya masih dalam proses perbaikan hingga Minggu pukul 18.00 WIB. Gangguan utama yang terjadi didominasi oleh pemadaman listrik pada 701 site, dan sisanya disebabkan oleh kerusakan jaringan transmisi pada 93 site.
Pemulihan Bertahap di Tengah Kondisi Darurat
Laporan ini disampaikan langsung oleh Meutya Hafid dalam keterangan resminya di Jakarta, Minggu. Ia menegaskan bahwa pemulihan layanan telekomunikasi menjadi prioritas utama karena perannya yang krusial bagi warga yang tengah berduka dan berjuang menghadapi dampak bencana. "Kami turut berduka cita atas musibah yang terjadi di Nusa Tenggara Timur. Di tengah situasi seperti ini, kami menyadari bahwa layanan telekomunikasi memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat, terutama untuk mendapatkan informasi, berkomunikasi dengan keluarga, serta mendukung koordinasi penanganan bencana," ujarnya.
Dari data yang dihimpun Komdigi, bencana tersebut berdampak pada 11 kabupaten/kota di NTT. Tim gabungan dari penyelenggara telekomunikasi dan pemerintah terus berupaya mempercepat perbaikan di lapangan. "Sejak terjadinya gempa, Komdigi bersama penyelenggara telekomunikasi terus mengawal pemulihan jaringan di wilayah terdampak. Hingga saat ini, dari 794 site/BTS yang terdampak, sebanyak 683 site/BTS atau 86,02 persen telah kembali beroperasi," jelas Meutya.
Ia menambahkan bahwa proses perbaikan ini tidak bisa diseragamkan karena kondisi geografis dan tingkat kerusakan di setiap lokasi berbeda-beda. "Pemulihan ini terus kami kawal sampai seluruh layanan di wilayah terdampak dapat kembali normal. Kami juga memastikan upaya pemulihan dilakukan secepat mungkin, terutama di wilayah yang masih mengalami gangguan," lanjutnya.
Fokus pada Wilayah dengan Gangguan Terbesar
Berdasarkan identifikasi awal industri telekomunikasi, akar masalah utama yang menyebabkan terputusnya jaringan adalah gangguan pasokan daya listrik. Kondisi ini wajar terjadi mengingat banyaknya infrastruktur kelistrikan yang rusak akibat guncangan. Selain itu, kerusakan pada jaringan transmisi juga menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan.
"Pemulihan dilakukan sesuai dengan kondisi masing-masing lokasi, baik untuk gangguan pasokan daya maupun jaringan transmisi. Kami terus berkoordinasi dengan penyelenggara telekomunikasi dan pihak terkait agar site yang masih terdampak dapat segera kembali beroperasi," ungkap Meutya.
Komdigi melalui Pusat Monitoring Telekomunikasi (PMT) disebutkan terus memantau perkembangan kondisi jaringan secara real-time. Mereka juga berkoordinasi intensif dengan Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio (Balmon SFR), pemerintah daerah, serta seluruh operator seluler untuk memastikan proses pemulihan berjalan efektif. Perhatian khusus difokuskan pada percepatan pemulihan 111 site yang masih bermasalah, terutama di daerah dengan persentase kerusakan tertinggi.
"Kehadiran jaringan komunikasi di tengah bencana bukan sekadar soal konektivitas. Layanan komunikasi dibutuhkan untuk memastikan masyarakat tetap dapat terhubung, memperoleh informasi, mengakses layanan darurat, dan mendukung koordinasi bantuan. Karena itu, pemulihan jaringan menjadi bagian penting dari upaya penanganan dan pemulihan pascabencana," tutur Meutya.
Daftar Wilayah yang Masih Berjuang
Meski secara keseluruhan sudah menunjukkan progres positif, masih ada delapan kabupaten yang belum sepenuhnya pulih. Berdasarkan data per Minggu, tiga kabupaten yakni Alor, Lembata, dan Timor Tengah Utara sudah dinyatakan pulih total. Sementara itu, sejumlah daerah lain masih berjuang mengembalikan layanan komunikasi warganya.
Berikut rincian kabupaten yang masih memiliki BTS bermasalah: Manggarai Timur menjadi wilayah dengan sisa gangguan terbanyak, yaitu 32 site (tingkat pemulihan baru mencapai 57,33 persen). Disusul Manggarai dengan 27 site (82,35 persen), Nagekeo 19 site (76,25 persen), dan Ende 11 site (89,52 persen). Adapun Ngada masih memiliki 10 site bermasalah (87,18 persen), Sikka 7 site (94,07 persen), Manggarai Barat 4 site (96,36 persen), dan Flores Timur hanya menyisakan satu site yang belum pulih (97,56 persen).
Di tengah upaya pemulihan ini, Meutya juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengutamakan keselamatan. Ia meminta warga untuk terus mengikuti arahan resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pemerintah daerah, serta instansi penanganan bencana. Sebagai konteks, gempa bumi yang berpusat di Nagekeo pada 15 Agustus itu telah menyebabkan 53 orang meninggal dunia, melukai 135 orang, dan memaksa lebih dari 5.000 warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Artikel Terkait
Rekor MURI: 1.708 Pohon Ditanam di IKN dalam Aksi Merdeka Bersama Alam
MDMC dan Lazizmu Aktifkan Pos Pelayanan untuk Warga Terdampak Gempa Flores di Manggarai Timur
Pemerintah Siapkan Live Streaming untuk Upacara HUT ke-81 RI di Istana Merdeka, Ini Jadwal Lengkapnya
Jakarta Bersiap ke HUT ke-81 RI: Lomba Tarik Bus hingga Rekayasa Lalu Lintas Warnai Ibu Kota