Dolar Melemah, Pasar Menanti Sinyal The Fed di Tengah Ketegangan Timur Tengah

- Senin, 17 Agustus 2026 | 05:50 WIB
Dolar Melemah, Pasar Menanti Sinyal The Fed di Tengah Ketegangan Timur Tengah

PARADAPOS.COM - Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) berlanjut pada awal pekan ini. Indeks dolar AS tercatat turun 0,1 persen ke level 99,52 pada perdagangan Senin, 17 Agustus 2026, setelah data ekonomi AS yang dirilis pekan lalu menunjukkan kinerja di bawah ekspektasi. Kondisi ini meredupkan harapan pasar akan pengetatan moneter lebih lanjut oleh Federal Reserve (The Fed) tahun ini, sekaligus menjadi sinyal hati-hati bagi para pelaku pasar menjelang rilis risalah rapat The Fed dan simposium Jackson Hole. Data terbaru mengenai penggajian nonpertanian serta inflasi konsumen dan produsen yang lebih lemah dari perkiraan menjadi pemicu utama koreksi ini. Angka-angka tersebut secara langsung mengubah persepsi pasar terhadap arah kebijakan bank sentral AS. Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan September mendatang kini mencapai sekitar 70 persen, sebuah angka yang cukup tinggi dan mencerminkan perubahan sentimen yang signifikan dalam waktu singkat. Pasar Menanti Sinyal dari Risalah Rapat dan Jackson Hole Dengan meredanya ekspektasi pengetatan, fokus investor kini tertuju pada dua agenda penting pekan ini. Pertama, rilis risalah rapat The Fed pada Juli yang dijadwalkan keluar pada Rabu. Kedua, simposium ekonomi tahunan Jackson Hole yang akan digelar akhir bulan. Kedua agenda tersebut diharapkan dapat memberikan petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan suku bunga AS ke depan, terutama apakah penurunan suku bunga akan menjadi opsi yang realistis dalam waktu dekat. Pergerakan Mata Uang Asia: Bervariasi di Tengah Tekanan Global Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terhadap dolar AS cenderung beragam, mencerminkan kondisi fundamental masing-masing negara. Won Korea Selatan berhasil menguat 0,2 persen, dengan pasangan USD/KRW bergerak turun. Dolar Singapura juga mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,1 persen, sementara dolar Australia naik 0,2 persen. Yuan Tiongkok di pasar domestik diperdagangkan relatif stabil, menunjukkan ketahanan di tengah gejolak global. Namun, situasi berbeda dialami rupee India. Mata uang Negeri Hindustan ini justru berada di bawah tekanan, tercermin dari pasangan USD/INR yang naik 0,2 persen. Tekanan ini muncul setelah Reserve Bank of India (RBI) secara tak terduga memperpendek tenggat waktu bagi bank untuk menggunakan fasilitas swap valuta asing dengan diskon bagi deposito nonresiden. Keputusan ini diambil setelah arus dana yang masuk melalui fasilitas tersebut membengkak hingga melampaui USD50 miliar, sebuah angka yang dinilai perlu diwaspadai. Ketegangan Timur Tengah: Bayang-Bayang Geopolitik yang Belum Sirna Di luar faktor ekonomi, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi perhatian serius pelaku pasar. Harapan akan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran yang dapat membuka kembali Selat Hormuz semakin memudar. Laporan di lapangan menunjukkan lalu lintas kapal tanker melalui jalur strategis tersebut telah menurun tajam, meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, pada akhir pekan lalu menyatakan bahwa Teheran belum memutuskan untuk kembali melakukan pembicaraan dengan Washington. Pernyataan ini semakin mempertegas kebuntuan diplomatik yang terjadi. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump justru mendorong masyarakat Amerika untuk menerima kemungkinan kenaikan harga bensin seiring konflik yang masih berlangsung. Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa dampak geopolitik tidak hanya berhenti pada angka indeks, tetapi juga berpotensi langsung menyentuh kantong konsumen. Ketidakpastian ini menjadi faktor penting yang turut memengaruhi sentimen terhadap aset global dan pergerakan nilai tukar di pasar valuta asing.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler