Ribuan Warga Padati Lomba Panjat Pinang di Kalimalang, Lurah: Tradisi Sejak 1980-an

- Senin, 17 Agustus 2026 | 11:50 WIB
Ribuan Warga Padati Lomba Panjat Pinang di Kalimalang, Lurah: Tradisi Sejak 1980-an

PARADAPOS.COM - Jakarta, 17 Agustus 2025 — Ribuan pasang mata tertuju pada sebatang pohon pinang yang berdiri tegak di bantaran Kalimalang, Cipinang Melayu, Jakarta Timur. Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di kawasan itu berlangsung semarak dengan lomba panjat pinang yang menjadi pusat perhatian. Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian Semarak Kalimalang ini bukan sekadar ajang berebut hadiah, melainkan juga ruang bagi warga untuk menguji kekuatan fisik, strategi, dan solidaritas tim. Lurah Cipinang Melayu, Arroyanto, menyebut tradisi ini telah mengakar sejak dekade 1980-an dan menjadi ikon budaya yang terus dilestarikan. Panjat Pinang: Antara Strategi dan Kebersamaan Begitu aba-aba dimulai, puluhan peserta langsung berlari menuju batang pohon yang telah dilumuri pelumas. Apa yang tampak mudah di kejauhan, berubah menjadi ujian nyata bagi keseimbangan dan koordinasi. Batang yang licin membuat setiap upaya meraih puncak terasa begitu berat. Beberapa peserta mencoba membentuk piramida manusia, saling memijak bahu dan punggung untuk menciptakan pijakan. Namun, tak jarang usaha mereka berakhir dengan gelak tawa dan sorak-sorai penonton ketika satu per satu peserta tergelincir jatuh ke tanah. Suasana di lokasi perlombaan terasa hidup oleh teriakan semangat dan dukungan dari warga yang berkerumun di sepanjang tepian. Anak-anak kecil duduk di bahu orang tua mereka, sementara para ibu tak kalah antusias memberikan arahan dari bawah. Setiap kali seorang peserta berhasil naik beberapa meter, tepuk tangan langsung membahana. Namun, momen itu seringkali berakhir dengan kekecewaan manis saat peserta kembali meluncur turun karena kehilangan cengkeraman. Warisan Budaya yang Hidup di Ibu Kota Lurah Cipinang Melayu, Arroyanto, menjelaskan bahwa pemilihan Kalimalang sebagai lokasi utama bukanlah tanpa alasan. Kawasan ini dianggap sebagai salah satu ikon yang melekat kuat dengan identitas wilayahnya. Lebih dari itu, penyelenggaraan lomba ini merupakan bagian dari upaya untuk menjaga warisan budaya yang telah berlangsung lintas generasi. “Untuk lokasi memang kita memanfaatkan Kalimalang. Ini salah satu ikon di Cipinang Melayu. Dan ini juga salah satu peninggalan budaya. Dari tahun 80-an kita sudah melakukan kegiatan ini,” ujar Arroyanto. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa panjat pinang bukan hanya sekadar hiburan musiman, melainkan sebuah tradisi yang dirawat secara sadar oleh masyarakat setempat. Di tengah derasnya arus modernisasi, kehadiran lomba ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga semangat gotong royong dan kebersamaan yang kerap kali tergerus oleh rutinitas harian. Perjuangan di Batang yang Licin Di antara puluhan peserta yang bertanding, Agus menjadi salah satu yang berhasil mencuri perhatian. Bersama tiga rekannya, ia sempat meraih posisi di tengah batang pohon. Namun, usaha mereka harus terhenti setelah kesulitan mempertahankan posisi. Meski gagal mencapai puncak, Agus mengaku tetap menikmati setiap momen perlombaan. Hadiah utama berupa satu unit sepeda listrik dari Wakil Presiden memang menjadi incaran, namun bukan itu tujuan utamanya. “Saya nyampe tengah, posisi berempat, cuma jatuh. Yang jelas satu sepeda listrik dari Pak Wakil Presiden. Paling ya apa aja, yang penting kena aja, yang penting ke atas dulu, yang penting kita senang,” kata Agus. Baginya, esensi dari perlombaan ini lebih kepada kebersamaan dan keceriaan yang dirasakan bersama-sama dengan tetangga dan kerabat. Menurut Agus, kemeriahan panjat pinang tahun ini terasa jauh lebih hidup dibandingkan tahun sebelumnya. Ia berharap tradisi ini tidak berhenti di sini, melainkan semakin banyak permainan tradisional lain yang kembali dihidupkan dalam rangkaian perayaan kemerdekaan di Kalimalang pada masa mendatang. Semangat yang ditunjukkan oleh para peserta dan antusiasme warga menjadi bukti bahwa tradisi ini masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler