Dolar AS Terperosok ke Level Terendah Tiga Bulan Imbas Intervensi Treasury dan Risalah The Fed

- Kamis, 20 Agustus 2026 | 01:50 WIB
Dolar AS Terperosok ke Level Terendah Tiga Bulan Imbas Intervensi Treasury dan Risalah The Fed

PARADAPOS.COM - Dolar Amerika Serikat (AS) melemah tajam pada perdagangan Rabu, 19 Agustus 2026, dan terperosok ke level terendahnya dalam lebih dari tiga bulan. Pelemahan ini terjadi setelah imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) merosot, menyusul intervensi Departemen Keuangan AS yang berupaya menopang pasar obligasi. Selain itu, pelaku pasar tengah mencermati risalah rapat Federal Reserve (The Fed) yang baru saja dirilis dan menunjukkan kekhawatiran serius terhadap tekanan inflasi. Indeks dolar AS, yang menjadi tolok ukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat ambles 0,9 persen ke posisi 98,80. Bahkan, indeks tersebut sempat menyentuh titik 98,77, sebuah level yang belum pernah terlihat sejak 14 Mei lalu. Penurunan ini menjadi sinyal kuat bahwa sentimen pasar terhadap dolar sedang melemah di tengah gejolak pasar keuangan global.

Langkah Buyback Treasury dan Dampaknya ke Pasar Obligasi

Katalis utama pelemahan dolar kali ini datang dari kebijakan Departemen Keuangan AS yang mengumumkan akan melipatgandakan operasi pembelian kembali (buyback) obligasi tenor panjang. Langkah ini diambil untuk menjaga likuiditas pasar yang sempat terganggu oleh aksi jual besar-besaran. Mulai 9 September mendatang, nilai operasi buyback untuk sekuritas bertenor 10-20 tahun dan 20-30 tahun akan dinaikkan secara signifikan, dari sebelumnya USD2 miliar menjadi USD4 miliar per operasi. Keputusan ini sontak memicu aksi beli di pasar obligasi dan menekan imbal hasil Treasury tenor panjang. Imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun langsung turun 7,2 basis poin ke level 5,213 persen. Padahal, sehari sebelumnya, yield tersebut sempat melonjak ke 5,337 persen, sebuah angka tertinggi yang tercatat sejak Juni 2007. Pasar tampak bernapas lega setelah pengumuman tersebut, meskipun tekanan jangka panjang masih membayangi. Sebelumnya, obligasi tenor panjang memang mengalami aksi jual yang cukup deras sejak keputusan suku bunga The Fed pada Juli lalu. Kondisi ini dipicu oleh kekhawatiran inflasi yang dipicu kenaikan harga minyak, serta meningkatnya penerbitan utang oleh perusahaan-perusahaan teknologi besar untuk membiayai pembangunan infrastruktur kecerdasan artifisial (AI). Di sisi lain, obligasi tenor pendek justru mencatatkan kinerja lebih baik, terbantu oleh data ekonomi terkini yang meredam ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.

Risalah The Fed: Kekhawatiran Inflasi dan Perbedaan Pendapat

Fokus pasar selanjutnya tertuju pada rilis risalah rapat The Fed yang digelar pada Juli lalu. Dokumen tersebut mengungkapkan bahwa sebagian besar pembuat kebijakan masih mendukung keputusan untuk mempertahankan suku bunga acuan. Namun, ada nada yang lebih hawkish di dalamnya. "Banyak peserta menilai kenaikan suku bunga dapat diperlukan apabila inflasi tidak kembali menurun," demikian bunyi risalah tersebut. Para pejabat The Fed juga menilai prospek inflasi masih sangat tidak pasti, dengan risiko yang cenderung mengarah ke atas. Salah satu faktor yang menjadi perhatian serius adalah konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Para pengambil kebijakan khawatir konflik tersebut berpotensi memperpanjang gangguan rantai pasok global dan pada akhirnya meningkatkan tekanan inflasi lebih lanjut. Menariknya, tiga presiden bank sentral regional sebelumnya telah menyatakan perbedaan pendapat terhadap keputusan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juli tersebut.

Mata Uang Asia dan Eropa Kompak Menguat

Pelemahan dolar AS kali ini memberikan angin segar bagi sejumlah mata uang utama dunia. Yen Jepang berhasil menguat, terlihat dari pasangan USD/JPY yang turun 0,9 persen ke level 158,21. Penguatan ini menjadi kabar baik bagi perekonomian Jepang yang selama ini berjuang melawan depresiasi mata uangnya. Di Eropa, euro mencatatkan performa impresif dengan melonjak 0,8 persen ke posisi USD1,1674, level tertingginya sejak 14 Mei. Poundsterling juga tak mau kalah, menguat 0,6 persen ke USD1,3606, yang merupakan level terbaik sejak 11 Mei. Sementara itu, di kawasan Asia, won Korea Selatan menjadi bintang dengan penguatan hampir 2 persen terhadap dolar AS. Pasangan USD/KRW turun 1,7 persen ke angka 1.389,02. Rupee India juga berhasil menghentikan tren pelemahannya, dengan pasangan USD/INR turun tipis 0,1 persen ke 95,568. Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap dolar AS bersifat luas dan menyeluruh di berbagai pasar.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler