Pengamat: Pemilu 2029 Jadi Penentu Keberlanjutan Pengaruh Politik Keluarga Jokowi

- Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:25 WIB
Pengamat: Pemilu 2029 Jadi Penentu Keberlanjutan Pengaruh Politik Keluarga Jokowi

PARADAPOS.COM - Pengamat militer Selamat Ginting menilai keberadaan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di parlemen pada Pemilu 2029 menjadi salah satu faktor penting bagi keberlanjutan kekuatan politik keluarga Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Menurutnya, kontestasi lima tahun mendatang akan menjadi ujian penentu bagi pengaruh politik klan Jokowi pasca pergantian kekuasaan.

Pernyataan itu disampaikan Ginting di tengah diskusi yang disiarkan kanal YouTube Forum Keadilan, Kamis (20/8/2026). Ia menegaskan bahwa berbagai upaya akan dilakukan Jokowi demi memastikan PSI melampaui ambang batas parlemen. Kegagalan partai berlambang bunga mawar itu untuk duduk di Senayan, menurut dia, akan menjadi akhir dari perjalanan politik dinasti yang selama ini dibangun.

Momentum Penentu di 2029

Ginting menyebut Pemilu 2029 sebagai titik kulminasi. Seluruh pengaruh politik yang telah dibangun selama ini akan diuji dalam satu kontestasi serentak. “Jokowi, apa pun dia akan melakukan agar PSI segera masuk di dalam parlemen. Karena kalau tidak, wassalam,” katanya.

“Jadi 2029 menurut saya penentuan bagi klan Jokowi. Dari dinasti Jokowi itu akan ditentukan di 2029 ini,” ujarnya menambahkan. Ia menilai tidak ada ruang kompromi pada pemilu mendatang; semuanya berujung pada satu pertanyaan: apakah pengaruh itu bertahan atau runtuh.

Kekhawatiran Partai Menengah

Di sisi lain, Ginting mengungkapkan adanya kegelisahan yang mengemuka di sejumlah partai politik. Kehadiran PSI di parlemen dinilai berpotensi menggerus basis pemilih partai-partai lain yang selama ini sudah mapan. Fenomena ini, lanjutnya, menjadi momok tersendiri bagi partai berukuran menengah hingga besar.

“Partai-partai di bawah atau menengah tentu saja merasa bahwa mereka akan digerogoti, terutama seperti PDIP. Basis konstituennya hampir sama, juga NasDem, apalagi Golkar yang pragmatis pendukungnya,” jelasnya.

Ia mencontohkan bagaimana karakteristik pemilih yang cenderung pragmatis membuat peta persaingan menjadi semakin cair. Dalam situasi seperti ini, loyalitas partai bisa dengan mudah berpindah. “Artinya siapa yang memberi itu yang akan diambil,” tuturnya.

Dengan dinamika tersebut, Ginting melihat pertarungan menuju 2029 tidak hanya sekadar perebutan kursi. Lebih dari itu, ini adalah pertaruhan terakhir bagi pengaruh politik keluarga Jokowi untuk tetap relevan di panggung nasional.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar