PARADAPOS.COM - Pemerintah Indonesia memastikan penanganan dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) akan mengandalkan kapasitas serta sumber daya nasional, sehingga bantuan asing dinilai belum diperlukan. Pernyataan ini disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Yvonne Mewengkang, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 20 Agustus 2026. Hingga 20 Agustus, BNPB mencatat 75 orang meninggal dunia, 907 orang luka-luka, 92.735 jiwa mengungsi, dan 36.163 unit rumah rusak akibat bencana tersebut.
Keputusan untuk memprioritaskan sumber daya dalam negeri ini bukan tanpa pertimbangan. Di tengah proses evakuasi dan pemenuhan kebutuhan dasar para penyintas yang masih berlangsung, pemerintah menilai langkah ini adalah yang paling cepat dan tepat. Fokus utama saat ini adalah memastikan logistik, layanan kesehatan, dan tempat tinggal sementara bagi warga terdampak dapat berjalan optimal.
Prioritas Penanganan dan Apresiasi Internasional
Yvonne Mewengkang menegaskan bahwa seluruh instansi terkait telah dikerahkan untuk mempercepat pemulihan. Ia menekankan bahwa kebutuhan masyarakat terdampak menjadi prioritas utama yang harus segera terpenuhi.
"Terkait bantuan, pemerintah RI saat ini fokus penanganan untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak itu dapat terpenuhi melalui kapasitas dan sumber daya nasional yang kita miliki," katanya dalam press briefing di Jakarta.
Meski menolak bantuan asing untuk saat ini, Indonesia tidak menutup mata terhadap dukungan moral yang datang dari berbagai negara. Gelombang simpati dan solidaritas internasional dinilai memberikan kekuatan tersendiri bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi masa sulit ini.
"Kami menyampaikan apresiasi yang tulus atas pesan duka cita, simpati, dan solidaritas dari negara-negara sahabat dan mitra kami menyusul gempa dahsyat di Nusa Tenggara Timur. Dukungan tersebut sangat berarti bagi kami dalam masa sulit ini," ujar Yvonne.
Sinyal dari Tiongkok dan Agenda Diplomasi
Di tengah situasi ini, perhatian juga tertuju pada kunjungan Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, ke Indonesia. Salah satu isu yang berpotensi dibahas dalam pertemuan bilateral tersebut adalah kemungkinan kerja sama penanganan bencana.
Tiongkok sendiri telah menjadi salah satu negara yang menyatakan kesiapan untuk memberikan bantuan, menyesuaikan dengan kebutuhan yang diajukan Indonesia. Namun, Yvonne mengungkapkan bahwa pihaknya masih akan membahas perihal ini lebih lanjut, mengisyaratkan belum ada pembahasan konkret terkait hal tersebut.
Pernyataan resmi dari Beijing pun turut disampaikan. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, menyampaikan duka mendalam atas bencana yang menimpa NTT.
"Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada para korban serta simpati tulus kepada keluarga korban yang meninggal dunia dan mereka yang terluka," ujar Lin.
Sementara itu, data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 20 Agustus 2026 menunjukkan skala dampak yang masih terus berkembang. Ribuan warga masih bertahan di lokasi pengungsian, dan proses pendataan kerusakan infrastruktur masih terus dilakukan di lapangan.
Artikel Terkait
Warga Ende Bertahan di Tenda Darurat Buatan Sendiri, Bantuan Logistik Pemerintah Belum Juga Tiba
Danantara Umumkan Langkah Awal Transformasi Transportasi Nasional, Target Tekan Biaya Logistik
Pencarian 3 Nelayan Hilang di Perairan Jember Hari Kedua, Tim SAR Perluas Area hingga Perbatasan Lumajang
Kabut Tebal Hambat Water Bombing, Pemadaman Karhutla Gunung Arjuno-Welirang Andalkan Tim Darat