Gempa M7,7 Guncang Flores: 71 Tewas, 59.000 Warga Mengungsi

- Jumat, 21 Agustus 2026 | 01:50 WIB
Gempa M7,7 Guncang Flores: 71 Tewas, 59.000 Warga Mengungsi

PARADAPOS.COM - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus lalu telah menimbulkan dampak besar. Bencana ini mengakibatkan sedikitnya 71 orang meninggal dunia, 759 orang luka-luka, dan memaksa lebih dari 59.000 warga mengungsi. Guncangan dangkal sedalam 15 kilometer itu juga memicu tsunami setinggi 1,6 meter di Pota, Manggarai Timur, serta memunculkan ribuan gempa susulan yang hingga kini masih berlangsung. Indonesia di Cincin Api Indonesia merupakan negara dengan aktivitas gunung api tertinggi di dunia karena berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api. Sabuk seismik ini membentang mengelilingi Samudra Pasifik, dimulai dari Amerika Selatan, melewati Alaska dan Jepang, kemudian masuk ke Indonesia, hingga berakhir di Selandia Baru. Di wilayah inilah hampir 90 persen gempa tektonik di dunia terjadi. Di dalam negeri, terdapat 127 gunung api aktif yang terbagi dalam tiga tipe. Tipe A mencakup 77 gunung yang pernah erupsi sejak tahun 1600, seperti Gunung Merapi, Semeru, dan Anak Krakatau. Tipe B meliputi 29 gunung yang tak tercatat erupsi sejak 1600 namun masih menunjukkan aktivitas vulkanik, contohnya Gunung Salak dan Patuha di Jawa Barat. Sementara tipe C mencakup 21 gunung tanpa catatan erupsi historis tetapi masih memiliki ciri vulkanik, seperti Kawah Ratu dan Gunung Pucuk Mandala. Klasifikasi A, B, C ini tidak menunjukkan tingkat bahaya secara langsung, melainkan pengelompokan berdasarkan riwayat erupsi dan aktivitas vulkanik. Kondisi inilah yang menjadikan Indonesia memiliki potensi tinggi terhadap aktivitas vulkanik dan gempa bumi, sehingga kesiapsiagaan dan mitigasi bencana menjadi hal yang mutlak diperlukan. Gempa M7,7 yang Mengguncang Flores Pada 15 Agustus pukul 4.58 WIB, saat matahari belum muncul di ufuk, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores. BMKG menjelaskan gempa ini tergolong dangkal dengan kedalaman sekitar 15 kilometer, dipicu oleh aktivitas tektonik pada Flores Back Arc dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault. Kekuatan gempa dan mekanisme pergerakannya sempat memicu peringatan dini tsunami. Sekitar pukul 7.30 WIB, tsunami terdeteksi di sejumlah lokasi dengan ketinggian bervariasi, dan yang tertinggi mencapai 1,6 meter di Pota, Manggarai Timur. Peringatan dini kemudian dicabut setelah situasi dinilai mulai kondusif. Ribuan Gempa Susulan Aktivitas seismik tidak berhenti setelah guncangan utama. BMKG mencatat hingga 19 Agustus telah terjadi 3.002 gempa susulan, dan jumlahnya bertambah menjadi 3.055 kali pada Rabu sore. Magnitudonya bervariasi, mulai dari 1,1 hingga 6,2. Dari ribuan gempa susulan tersebut, 25 di antaranya memiliki magnitudo di atas 5, dan 86 kali getaran dirasakan oleh masyarakat. Situasi yang fluktuatif ini membuat warga yang masih bertahan di pengungsian hidup dalam kekhawatiran, sambil menunggu bantuan yang belum sepenuhnya menjangkau mereka. Dampak dan Penanganan Bencana Dampak dari bencana ini sangat luas. Selain korban jiwa dan luka-luka, sebanyak 59.647 warga masih mengungsi karena rumah mereka rusak atau lingkungan tempat tinggalnya dinilai berisiko. Kerusakan terjadi pada rumah warga, fasilitas umum, dan infrastruktur di sejumlah wilayah. Petugas masih terus melakukan asesmen dan pendataan di lapangan, sehingga angka kerusakan diperkirakan masih akan bertambah. Rangkaian dampak yang ditimbulkan cukup kompleks, mulai dari guncangan gempa, korban jiwa, kerusakan bangunan, pengungsian, hingga tsunami. Penanganan bencana pun tidak berhenti setelah guncangan utama berakhir. Pemerintah terus melakukan upaya penanganan, termasuk mendirikan dapur umum untuk melayani kebutuhan korban di Manggarai Timur. Mengapa Flores Rawan Gempa? Pertanyaan tentang kerawanan gempa di Flores berkaitan erat dengan kondisi tektonik kawasan tersebut. Secara geologis, Pulau Flores berada di wilayah yang dipengaruhi zona subduksi, yaitu proses ketika satu lempeng tektonik bergerak menunjam ke bawah lempeng lainnya. Di kawasan ini, lempeng Australia bergerak dan menunjam ke bawah lempeng di bawah Indonesia. Pergerakan ini menimbulkan tekanan dan pelepasan energi dalam bentuk gempa bumi. Flores juga terletak di pertemuan lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia, yang melibatkan lempeng berukuran lebih besar. Selain subduksi, terdapat pula sesar aktif di sekitar Flores yang menjadi retakan atau zona patahan di kerak bumi yang masih bisa bergerak dan memicu gempa. Kondisi geologis inilah yang membuat Flores memiliki riwayat gempa dan tsunami yang panjang. Potensi gempa susulan pun harus terus diantisipasi. Kesiapsiagaan masyarakat, pemahaman soal jalur evakuasi, dan kepatuhan pada informasi resmi menjadi kunci untuk mengurangi dampak dan risiko. Masyarakat diminta untuk memastikan informasi yang diterima berasal dari jalur resmi dan tidak mudah menyebarkan hoaks. Sumber: Badan Geologi-KESDM/PVMBG/BMKG

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler