Strategi Hedging Arab Saudi: MBS vs Menhan dalam Menghadapi Ketegangan AS-Iran

- Minggu, 01 Februari 2026 | 12:25 WIB
Strategi Hedging Arab Saudi: MBS vs Menhan dalam Menghadapi Ketegangan AS-Iran
Politik Dua Kaki Saudi: MBS Serukan Solidaritas, Menhan Desak AS Serang Iran

Politik Dua Kaki Saudi: MBS Serukan Solidaritas Muslim, Menhan Desak AS Serang Iran

Media Axios melaporkan, Menteri Pertahanan Arab Saudi, Pangeran Khalid bin Salman (KBS), memberikan peringatan tertutup di Washington. Ia menyatakan Iran akan semakin kuat jika Presiden AS Donald Trump tidak menindaklanjuti ancaman serangan militernya. Peringatan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

Pernyataan KBS ini menarik karena berbeda dengan sikap resmi Kerajaan sebelumnya. Tiga pekan lalu, Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) justru dilaporkan mendesak Trump untuk menghindari aksi militer. Desakan itu disebut ikut mempengaruhi keputusan Trump untuk menunda serangan.

Pertemuan di Washington Tanpa Kejelasan Strategi

Kunjungan KBS ke Washington berlangsung saat AS meningkatkan kekuatan militernya di Teluk. Dalam pertemuan tertutup dengan pejabat senior AS, termasuk Menhan Pete Hegseth dan Menlu Marco Rubio, pembahasan difokuskan pada kemungkinan serangan AS terhadap Iran. Namun, KBS disebut meninggalkan pertemuan tanpa kejelasan mengenai strategi atau niat pemerintahan Trump.

Dalam pengarahan lain, Menhan Saudi itu menyatakan kegagalan AS bertindak militer justru akan memicu keberanian Iran. Sikap ini bertolak belakang dengan pernyataan terbuka pemerintah Saudi yang menegaskan penghormatan terhadap kedaulatan Iran dan preferensi pada solusi diplomatik.

Pernyataan Publik MBS: Tolak Gunakan Wilayah Saudi untuk Serang Iran

Secara terpisah, Putra Mahkota Mohammed bin Salman dalam percakapan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan sikap berbeda. MBS menyatakan Arab Saudi tidak akan mengizinkan penggunaan wilayah udara atau teritorialnya untuk aksi militer apa pun terhadap Iran oleh pihak mana pun.

Ia menekankan penghormatan terhadap kedaulatan Iran dan dukungan untuk penyelesaian perselisihan melalui dialog. Pernyataan ini dikeluarkan oleh Kantor Berita Saudi (SPA) sebagai sikap resmi kerajaan.

Sekutu AS di Teluk Juga Tidak Mendapat Kejelasan

Laporan Fox News yang dikutip RIA Novosti menyebutkan, AS belum memberi tahu rencana detail terkait Iran kepada sekutu-sekutunya di kawasan Teluk, termasuk Arab Saudi. Seorang pejabat GCC menyatakan para sekutu gagal memperoleh kejelasan penuh mengenai penilaian AS terhadap situasi di kawasan.

Analisis Pakar: Saudi Terapkan 'Strategi Hedging'

Pakar Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Dina Sulaeman, menyoroti sikap ganda Arab Saudi ini sebagai 'strategi hedging'. Di satu sisi, Saudi menyerukan solidaritas Muslim dan diplomasi di forum publik untuk menjaga stabilitas kawasan dan ekonominya sendiri yang bisa terguncang jika perang terjadi.

Di sisi lain, Saudi tetap memandang Iran sebagai rival struktural jangka panjang di kawasan. Kekhawatiran bahwa Iran yang kuat akan menggerus pengaruh Saudi membuat sebagian elite di Riyadh tetap mendorong tekanan terhadap Teheran.

Mengapa Iran Dinilai Sulit Diserang?

Pakar lain dari Unpad, Teuku Rezasyah, memaparkan beberapa alasan strategis mengapa Iran sulit dihancurkan oleh serangan militer, bahkan oleh AS:

  1. Kesadaran Sejarah dan Nasionalisme: Sebagai pusat peradaban awal, semangat menjaga marwah bangsa sangat kuat di Iran.
  2. Legitimasi Pemerintahan: Kepemimpinan relatif dihormati karena dianggap menunjukkan keteladanan ideologis dan kemandirian.
  3. Kekuatan Militer Mandiri: Iran memiliki teknologi pertahanan yang dikembangkan dalam negeri, termasuk rudal dengan berbagai jangkauan.
  4. Kemampuan Membalas Dendam Strategis: Iran berpotensi memblokade Selat Hormuz, yang akan mengguncang pasokan energi global.
  5. Dukungan NATO yang Minim: Negara-negara NATO dianggap enggan mendukung serangan langsung terhadap Iran.
  6. Kemampuan Intelijen yang Kuat: Iran memiliki jaringan intelijen yang efektif untuk mendeteksi dan menindak ancaman.

Dengan pertimbangan kompleks ini, politik dua kaki Arab Saudi mencerminkan upaya Riyadh untuk mengamankan kepentingannya di tengah ketegangan antara dua kekuatan yang sulit diprediksi: Amerika Serikat dan Iran.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar