PARADAPOS.COM - Iran secara resmi mengumumkan gugurnya Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, dalam sebuah agresi militer yang ditudingkan kepada Amerika Serikat dan Israel. Pejabat senior yang berpengaruh itu dilaporkan tewas bersama putranya dan sejumlah pengawal dalam serangan yang terjadi pada Selasa malam waktu setempat, menurut pernyataan resmi pemerintah. Peristiwa ini semakin memanaskan ketegangan di kawasan yang sudah memanas akibat gelombang serangan dan balasan selama sebulan terakhir.
Pernyataan Resmi dan Gelar Kemartiran
Melalui sebuah pernyataan yang disiarkan oleh media pemerintah, Sekretariat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) mengonfirmasi kabar duka tersebut. Pernyataan itu tidak hanya menyampaikan fakta kematian, tetapi juga memberikan konteks politis dan simbolis yang mendalam, menggambarkan gugurnya Larijani sebagai pencapaian sebuah "impian lama".
“Ali Larijani gugur bersama putranya, Mortaza, wakil Sekretariat untuk keamanan, Alireza Bayat, dan sejumlah pengawal mereka,” jelas pernyataan resmi Sekretariat SNSC, seperti yang dikutip oleh jaringan televisi Press TV pada Rabu, 18 Maret 2026.
Dokumen itu lebih lanjut menekankan dedikasi seumur hidup Larijani terhadap negara dan Revolusi Islam. Pernyataan tersebut juga mencatat bahwa upaya dan nasihatnya untuk menjaga persatuan nasional terus berlanjut hingga detik-detik terakhir kehidupannya.
Profil dan Jejak Panjang Karier Politik
Ali Larijani bukanlah figur biasa dalam peta politik Iran. Kariernya menjulang tinggi melalui berbagai posisi kunci yang membentuk kebijakan dalam dan luar negeri Republik Islam. Sebelum memimpin SNSC, ia dikenal luas sebagai Ketua Parlemen (Majlis) selama periode yang cukup panjang, yakni 12 tahun, sebelum akhirnya digantikan oleh Mohammad-Baqer Qalibaf.
Jejaknya meliputi keanggotaan di Dewan Kebijakan serta peran sebagai penasihat senior bagi Pemimpin Tertinggi. Larijani juga pernah memegang kendali atas lembaga penyiaran nasional Iran dan beberapa kali turut serta dalam pemilihan presiden, yang menggambarkan pengaruh dan jaringan politiknya yang sangat luas. Gugurnya figur sekaliber ini tentu meninggalkan vakum signifikan dalam hierarki kekuasaan di Teheran.
Eskalasi Ketegangan dan Janji Pembalasan
Konteks di balik gugurnya Larijani tidak terlepas dari eskalasi militer yang telah berlangsung sejak akhir bulan sebelumnya. Menurut narasi yang disampaikan oleh pihak Iran, agresi AS-Israel ini telah memicu respons keras dan berulang dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Lembaga militer elite itu mengklaim telah melancarkan puluhan gelombang serangan balasan yang ditargetkan secara presisi terhadap aset-aset strategis Amerika dan Israel di wilayah tersebut. IRGC sendiri telah bersumpah untuk tidak mengendurkan tekanan, dengan komitmen untuk melanjutkan operasi pembalasan hingga mencapai apa yang mereka sebut sebagai "kekalahan total" musuh. Pernyataan resmi mengenai Larijani menegaskan bahwa kemartirannya justru akan mengokohkan tekad bangsa Iran untuk terus maju dalam menghadapi tekanan eksternal.
Dengan gugurnya seorang pentolan seperti Ali Larijani, dinamika konflik yang sudah rumit ini memasuki babak baru yang penuh ketidakpastian, di mana setiap perkembangan berpotensi membawa dampak yang lebih luas terhadap stabilitas regional.
Artikel Terkait
Ali Larijani Tewas Usai Serukan Persatuan Muslim Hadapi AS dan Israel
Iran Luncurkan Rudal ke Kompleks Pemerintahan Israel di Yerusalem
IRGC Peringatkan Serangan ke Fasilitas AS di Timur Tengah, Pecahan Rudal Jatuh di Yerusalem
Video Netanyahu Dituding Deepfake, Ahli Sebut Cincin Hilang Hanya Ilusi Optik