PARADAPOS.COM - Iran mengonfirmasi pada Selasa, 17 Maret 2026, bahwa kepala keamanan nasionalnya, Ali Larijani, tewas dalam sebuah serangan yang ditargetkan oleh Israel. Pengumuman ini datang bersamaan dengan penolakan pemimpin tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Sayyed Mojtaba Khamenei, terhadap berbagai upaya de-eskalasi untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga pekan dan mengancam stabilitas kawasan serta ekonomi global.
Figur Kunci yang Jatuh
Ali Larijani bukanlah pejabat biasa. Ia merupakan salah satu tokoh paling senior dan berpengaruh di lingkaran kekuasaan Iran, yang dianggap sebagai orang kepercayaan mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta putra dan penerusnya, Mojtaba. Sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Larijani dikenal memiliki hubungan pragmatis dengan berbagai faksi dalam negeri maupun dengan diplomat asing. Kematiannya, bersama dengan putra dan wakilnya Alireza Bayat dalam serangan Senin malam, menandai pukulan strategis yang signifikan bagi rezim.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran secara resmi mengonfirmasi insiden tersebut dalam sebuah pernyataan.
Penolakan Keras terhadap Gencatan Senjata
Di tengah eskalasi, upaya diplomasi justru menemui jalan buntu. Seorang pejabat senior Iran yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa pemimpin baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, secara tegas menolak proposal de-eskalasi yang disampaikan oleh negara-negara perantara kepada Kementerian Luar Negeri Iran.
“Ini bukanlah waktu yang tepat untuk perdamaian sampai Amerika Serikat dan Israel bertekuk lutut, menerima kekalahan, dan membayar kompensasi,” ujar pejabat tersebut, mengutip pernyataan Khamenei dalam pertemuan kebijakan luar negeri pertamanya.
Pejabat itu tidak menjelaskan lebih detail apakah Khamenei, yang belum muncul secara publik sejak pengangkatannya, menghadiri pertemuan tersebut secara fisik atau virtual.
Dampak Regional dan Global yang Meluas
Konflik ini telah meluas jauh melampaui pertukaran serangan langsung antara pihak yang bertikai. Selat Hormuz, arteri vital bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, masih dalam kondisi terbatas akibat ancaman Iran. Situasi ini telah memicu lonjakan harga minyak mentah sekitar 45% sejak perang dimulai pada akhir Februari, memicu kekhawatiran akan inflasi global dan krisis pangan.
Kekhawatiran itu diungkapkan secara gamblang oleh Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas.
“Kita harus menemukan cara diplomatik untuk menjaga agar jalur ini tetap terbuka sehingga kita tidak mengalami krisis pangan, krisis pupuk, dan krisis energi juga,” tegas Kallas dalam sebuah wawancara.
Israel Klaim Kemenangan dan Lanjutkan Serangan
Di sisi lain, Israel tampaknya terus melanjutkan operasi militernya. Setelah serangan yang menewaskan Larijani, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu secara simbolis menunjukkan sebuah "kartu berlubang" berisi nama-nama target, menyatakan dua nama telah dihapus. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Gideon Saar menyatakan Israel "pada dasarnya telah memenangkan perang", meski tanpa merinci kapan konflik akan berakhir.
Di lapangan, sirene masih terus berbunyi di wilayah Tel Aviv menyusul serangan rudal Iran, sementara militer Israel mengklaim menargetkan infrastruktur Iran di Teheran dan pos-pos Hizbullah di Beirut. Korban jiwa di kedua pihak terus berjatuhan, dengan laporan menyebutkan lebih dari 3.000 orang tewas di Iran dan ratusan di Lebanon.
Serangkaian perkembangan ini mengindikasikan bahwa jalan menuju perdamaian masih sangat panjang. Dengan penolakan tegas dari pimpinan tertinggi Iran dan tekad Israel untuk melanjutkan tekanan militer, konflik yang telah menewaskan ribuan orang dan mengganggu pasokan energi global ini belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat.
Artikel Terkait
Serangan Rudal di Teheran Rusak Pusat Antariksa dan Infrastruktur Sipil
Iran Ancam Balas Serangan AS dengan Targetkan Seluruh Pelabuhan di Timur Tengah
Ali Larijani Tewas Usai Serukan Persatuan Muslim Hadapi AS dan Israel
Iran Umumkan Gugurnya Ali Larijani dalam Serangan yang Ditudingkan ke AS-Israel