PARADAPOS.COM - Iran kembali menegaskan keberhasilan operasi militernya dengan mengklaim telah menghancurkan tiga unit jet tempur siluman F-35 milik Amerika Serikat (AS) di Pangkalan Udara Al Azraq, Yordania. Serangan yang dilancarkan pada Sabtu pagi, 1 Agustus 2026, itu disebut menggunakan kombinasi rudal balistik dan drone, serta turut merusak tiga pesawat tempur lainnya yang tengah diparkir di area hanggar perbaikan. Klaim ini disampaikan langsung oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan dilaporkan oleh kantor berita resmi IRNA.
Serangan tersebut bukan yang pertama kali dideklarasikan Tehran. Pekan sebelumnya, tepatnya pada Kamis, IRGC juga mengaku telah melumpuhkan tiga jet F-35 lain di pangkalan yang sama. Eskalasi ini terjadi di tengah situasi yang tidak biasa: militer AS dikabarkan telah menghentikan gempuran mereka terhadap Iran, namun serangan balasan dari Tehran terhadap posisi-posisi AS di kawasan justru terus berlanjut.
Serangan Terarah ke Titik Vital Pangkalan
Berdasarkan laporan IRNA, operasi kali ini tidak menyasar area sembarangan. IRGC menyebutkan bahwa hanggar perbaikan dan zona parkir pesawat menjadi target utama. Pemilihan titik ini dinilai strategis karena F-35 merupakan aset paling canggih sekaligus paling mahal dalam inventaris Angkatan Udara AS, sehingga kerusakan di area tersebut memberikan dampak psikologis dan operasional yang signifikan.
"Angkatan Udara IRGC menyerang hanggar perbaikan dan area parkir F-35 di Pangkalan Udara Al Azraq menggunakan beberapa rudal balistik," demikian bunyi laporan yang dikutip dari IRNA. Klaim ini menunjukkan adanya upaya untuk melumpuhkan kemampuan logistik dan pemeliharaan pesawat, bukan sekadar serangan seremonial.
Rentetan Klaim dan Realitas di Lapangan
Pengamat militer mencatat bahwa klaim Iran mengenai penghancuran F-35 ini berulang kali muncul dalam beberapa pekan terakhir. Meski demikian, belum ada konfirmasi independen yang bisa memverifikasi tingkat kerusakan sebenarnya di pangkalan tersebut. Yang jelas, pola serangan Iran menunjukkan peningkatan frekuensi dan keberanian untuk menyerang aset-aset bernilai tinggi milik koalisi internasional.
Situasi ini menjadi semakin kompleks mengingat Yordania, Kuwait, dan Bahrain menjadi lokasi-lokasi yang kerap disebut Iran sebagai target operasi. Menariknya, serangan-serangan tersebut justru gencar dilakukan ketika Washington mengumumkan penghentian operasi ofensifnya terhadap Iran. Hal ini memunculkan pertanyaan besar mengenai strategi jangka panjang kedua negara di kawasan Timur Tengah yang sudah lama menjadi medan pertarungan pengaruh.
Dampak pada Stabilitas Kawasan
Jika klaim Iran ini benar, maka ini merupakan pukulan telak bagi dominasi udara AS di kawasan. F-35 bukan hanya sekadar pesawat tempur; ia adalah simbol supremasi teknologi militer Amerika. Kehilangan beberapa unit dalam waktu singkat tentu akan memaksa Pentagon untuk mengevaluasi ulang postur pasukannya di Timur Tengah.
Di sisi lain, serangan yang terus berlanjut ini juga menunjukkan bahwa Tehran tidak gentar menghadapi tekanan internasional. Mereka tampaknya berusaha menunjukkan bahwa kemampuan ofensif mereka tetap tajam dan mampu menjangkau target-target vital di luar perbatasan Iran. Bagi negara-negara tetangga yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, situasi ini tentu menempatkan mereka pada posisi yang sulit—terjebak di antara dua kekuatan besar yang sedang bersitegang.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak militer AS maupun pemerintah Yordania mengenai klaim serangan terbaru ini. Biasanya, Washington akan merilis pernyataan resmi setelah melakukan penilaian kerusakan internal. Namun, yang pasti, ketegangan di kawasan ini diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa pekan mendatang.
Editor: Clara Salsabila
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Pencarian Korban Gempa Kumamoto Dihentikan, 36 Tewas dan Tak Ada Lagi yang Hilang
100 Tentara Israel Tinggalkan Pangkalan Militer Akibat Hukuman Komandan atas Insiden Papan Tanda
YouTuber Thailand Hlun Solo Ditemukan Meninggal di Hotel Tbilisi, Polisi Georgia Selidiki Penyebab Kematian
Arab Saudi Rancang Koalisi Internasional Amankan Laut Merah dari Serangan Houthi