Patung Figuratif Wanita di Pameran Desert X AlUla Picu Protes Publik Arab Saudi

- Selasa, 04 Agustus 2026 | 13:00 WIB
Patung Figuratif Wanita di Pameran Desert X AlUla Picu Protes Publik Arab Saudi

PARADAPOS.COM - Gelaran seni kontemporer berskala internasional, Desert X AlUla, yang tengah berlangsung di wilayah administrasi Madinah, Arab Saudi, baru-baru ini memicu gelombang protes keras dari publik. Perhelatan yang menampilkan instalasi seni berukuran raksasa di ruang terbuka itu menjadi sorotan tajam setelah memajang patung figuratif berupa sosok tubuh wanita secara terbuka. Langkah penyelenggara dinilai oleh banyak kalangan sebagai tindakan yang menabrak pakem dan nilai-nilai tradisi seni Islam yang telah lama dijunjung tinggi di kawasan Jazirah Arab.

Perdebatan sengit pun tak terhindarkan. Sebagian masyarakat menganggap kehadiran karya seni visual manusia tersebut sebagai bentuk pemaksaan modernisasi gaya Barat yang mengabaikan kesucian tradisi keagamaan lokal. Namun, di sisi lain, penyelenggara dan senimannya justru melihat hal ini sebagai sebuah terobosan besar dalam dialog antarbudaya.

Sosok 'Najma' dan Tudingan Menabrak Pakem Syariat

Mengutip laporan Art Net pada Selasa (4/8/2026), patung wanita berwarna biru elektrik yang diberi nama Najma tersebut merupakan karya seniman asal Santa Monica, Amerika Serikat (AS), Lita Albuquerque, yang berdarah Yahudi. Instalasi ini menggambarkan sosok wanita yang sedang duduk bermeditasi dalam posisi lotus, dipajang mencolok tepat di atas sebuah batuan besar di kawasan Wadi AlFann, AlUla.

Sensitivitas wujud patung tubuh wanita yang dipamerkan di wilayah yang dikenal religius ini dengan cepat memantik amarah kelompok masyarakat konservatif. Bagi mereka, instalasi seni tersebut bukan sekadar karya visual, melainkan sebuah provokasi yang mengabaikan norma-norma kesopanan dan kesucian tradisi yang telah berakar kuat.

Tabu Seribu Tahun yang Dinilai Terlanggar

Dalam tradisi seni rupa Islam, terdapat aturan ketat yang melarang pemuatan representasi figuratif makhluk bernyawa, terutama wujud tubuh wanita. Larangan ini dijaga ketat untuk memelihara nilai-nilai teologis serta menghindari praktik yang dianggap mengarah pada kemusyrikan. Oleh karena itu, kemunculan instalasi visual manusia di kawasan oasis kuno AlUla dinilai sebagai langkah yang sangat provokatif.

Publik menilai pameran ini telah melanggar tabu keagamaan yang telah terjaga rapi selama lebih dari seribu tahun di Jazirah Arab. Alih-alih menjadi ruang apresiasi seni, kehadiran patung tersebut justru dianggap sebagai pengingkaran terhadap identitas budaya dan sejarah panjang kawasan tersebut.

Pembelaan Seniman dan Dalih Dialog Budaya

Di tengah badai kritik dan guncangan opini publik, Lita Albuquerque justru pasang badan membela karyanya. Seniman berdarah Yahudi itu mengklaim bahwa pemajangan patung figuratif wanita ini merupakan sebuah terobosan besar yang berhasil diterima di Arab Saudi. Ia menjelaskan bahwa patung biru tersebut menggambarkan sosok astronaut fiktif yang turun ke bumi untuk menyebarkan pengetahuan serta pemahaman global.

Sementara itu, pihak penyelenggara pameran berargumen bahwa ke-14 instalasi raksasa di Desert X AlUla dihadirkan untuk membuka ruang dialog antarbudaya. Mereka juga menilai perhelatan ini dapat mendongkrak potensi ekonomi kawasan AlUla yang dikenal sebagai jalur perdagangan kuno.

"Ini adalah momen bersejarah. Pintu akhirnya terbuka untuk kolaborasi seperti ini yang menyatukan seniman internasional, Timur Tengah, dan Arab Saudi. Ini bersejarah, bukan hanya karena figur ini ditampilkan, tetapi karena karya ini diterima," ujar Albuquerque.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar