Kemenperin Utamakan IKI, Bukan PMI, untuk Ukur Kinerja Industri Manufaktur 2025
Kinerja sektor manufaktur Indonesia di awal kuartal IV 2025 menunjukkan sinyal positif, didorong oleh permintaan domestik yang kuat. Meski demikian, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) bukanlah patokan utama dalam menilai kondisi industri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan, data PMI dari S&P Global dianggap kurang detail karena hanya menyajikan gambaran makro dan tidak menjelaskan kinerja per subsektor industri secara mendalam. Sampel industri yang digunakan dalam PMI juga dinilai lebih sedikit.
Mengapa Kemenperin Lebih Percaya IKI?
Sebagai gantinya, Kemenperin menggunakan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang dianggap lebih komprehensif dan akurat. IKI memiliki sampel yang lebih banyak dari industri dalam negeri, sehingga diyakini lebih mampu mencerminkan kondisi riil manufaktur nasional. Data IKI inilah yang menjadi dasar Kemenperin dalam merumuskan berbagai kebijakan industri.
PMI Manufaktur Indonesia Tunjukkan Ekspansi
Berdasarkan rilis S&P Global, PMI Manufaktur Indonesia pada Oktober 2025 naik ke level 51,2 dari 50,4 di bulan sebelumnya. Angka ini menandai ekspansi tiga bulan berturut-turut. Beberapa komponen yang mengalami kenaikan signifikan adalah pesanan baru (new orders) dan tingkat ketenagakerjaan, yang mencerminkan peningkatan kepercayaan pasar dan kapasitas produksi.
Menteri Agus menyoroti peningkatan penyerapan tenaga kerja sebagai sinyal positif, sementara aktivitas produksi tetap stabil. Kekuatan konsumsi dalam negeri menjadi motor utama pertumbuhan, mengimbangi perlambatan ekspor akibat pelemahan permintaan dari pasar AS dan Eropa.
Daya Saing dan Prospek Industri Nasional
Di tengah inflasi harga input yang mencapai level tertinggi dalam delapan bulan, pelaku industri berhasil menahan kenaikan harga jual. Langkah ini menunjukkan upaya menjaga daya saing harga produk dan sekaligus menahan inflasi di tingkat konsumen.
Kemenperin optimistis sektor manufaktur akan tetap menjadi penggerak utama ekonomi nasional. Fokus ke depan adalah memastikan iklim usaha yang kondusif, memperkuat daya saing, serta mendorong transformasi menuju industri hijau dan berkelanjutan.
Artikel Terkait
Arus Mudik Lebaran di Pelabuhan Tenau Kupang Melonjak 247 Persen
Mudik Lebaran 2026 Dongkrak Ekonomi Daerah, Perputaran Uang Capai Ratusan Triliun
Pemerintah Tetapkan Tarif Listrik Tak Naik Jelang Idulfitri 2026
Flick Akui Tantangan Fisik Newcastle Jelang Laga Penentu di Camp Nou