PARADAPOS.COM - Nilai Dolar Amerika Serikat tercatat melemah pada perdagangan Selasa, 17 Maret 2026, menginterupsi tren penguatannya yang berlangsung sejak eskalasi konflik di Iran. Pelemahan ini terjadi di tengah fokus pasar keuangan global pada serangkaian pertemuan bank sentral utama minggu ini, yang diharapkan memberikan pandangan terkait dampak geopolitik terhadap tekanan inflasi dunia.
Pergerakan Indeks dan Mata Uang Utama
Indeks Dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, tercatat turun tipis 0,1 persen ke level 99,57. Sementara itu, pasangan mata uang EUR/USD bergerak sedikit lebih rendah ke 1,1537. Di sisi lain, Poundsterling Inggris justru menguat terhadap Dolar AS, dengan GBP/USD berada di posisi 1,3355. Pergerakan ini mencerminkan kehati-hatian investor yang menunggu arahan kebijakan moneter baru.
Gejolak Minyak dan Tekanan di Selat Hormuz
Harga minyak mentah Brent masih bertahan di atas level psikologis USD 100 per barel. Kenaikan ini tidak lepas dari kekacauan logistik di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global. Ancaman Iran untuk menyerang kapal-kapal yang dianggap menguntungkan AS dan sekutunya telah memaksa banyak perusahaan pelayaran menghentikan operasi, memicu ketegangan pasokan.
Presiden Donald Trump mengecam sejumlah anggota NATO karena dinilai tidak memberikan bantuan yang memadai untuk menangani krisis di selat tersebut.
Meski Inggris dan Prancis menyatakan kesediaan berdiskusi dengan Washington, beberapa sekutu seperti Jerman dan Jepang dilaporkan menolak seruan bantuan langsung dari Trump. Padahal, sebelumnya Trump menyatakan AS tidak memerlukan bantuan untuk membuka kembali lalu lintas kapal tanker.
"Banyak negara telah mengatakan kepadanya mereka sedang dalam perjalanan untuk memberikan bantuan," ungkapnya mengenai situasi tersebut.
Respons Bank Sentral dan Prospek Suku Bunga
Membayangi pasar adalah kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi dapat memicu gelombang inflasi baru, yang berpotensi memaksa bank sentral untuk menunda atau bahkan membalikkan rencana penurunan suku bunga. Suku bunga yang lebih tinggi umumnya dapat mendukung apresiasi mata uang suatu negara dengan menarik arus modal asing.
Reserve Bank of Australia (RBA) telah bergerak lebih dulu dengan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam satu dekade pada Selasa itu, menyoroti risiko inflasi "material" dari konflik Timur Tengah. Keputusan ini membuat nilai Dolar Australia (AUD/USD) relatif stabil di 0,7102.
Pandangan dari pelaku pasar semakin memperjelas ekspektasi ini. Ahli strategi FX & suku bunga global di Macquarie, Thierry Wizman, memberikan analisis mendalam.
"Karena perang dan tarif impor, para pembuat kebijakan Fed ingin memberi sinyal jeda yang berkepanjangan untuk target suku bunga Fed Funds minggu ini," jelas Wizman.
Ia menambahkan proyeksi untuk bank sentral lainnya, "Kami pikir ada kemungkinan besar Bank Sentral Brasil membatalkan rencana pemotongan suku bunga agresif. Sementara Bank Sentral Kanada kemungkinan akan mempertahankan suku bunga kebijakannya di 2,25 persen. Mereka sudah mempertahankan opsi dua arah dalam prospek Januari, dan kemungkinan akan melakukannya lagi karena mereka menganggap dampak bersih dari harga minyak mentah yang tinggi sebagai inflasi."
Wizman juga menyebutkan bahwa Macquarie telah merevisi proyeksi akhir tahun untuk USD/BRL dan USD/CAD menyusul perkembangan terbaru ini.
Artikel Terkait
Gulkarmat Jakarta Timur Intensifkan Sosialisasi Pencegahan Kebakaran Jelang Mudik Lebaran
Pemerintah Pastikan Harga BBM Stabil hingga Akhir Tahun, Siapkan Strategi Hemat Energi
BI Pastikan Awasi Rupiah di Pasar Global Meski Libur Nyepi dan Lebaran
Gagal Penalti Emaxwell Souza Akhiri Harapan Kemenangan Persija atas Dewa United