PARADAPOS.COM - Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan pesat transaksi pembayaran digital pada Februari 2026, didorong oleh perluasan penerimaan pembayaran nontunai di masyarakat. Gubernur BI Perry Warjiyo melaporkan volume transaksi digital mencapai 4,67 miliar transaksi, tumbuh 40,35 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Pertumbuhan Didukung Sistem yang Andal
Dalam paparannya, Perry Warjiyo menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan transaksi keuangan digital tetap tinggi. Kinerja ini, menurutnya, tidak lepas dari dukungan sistem pembayaran yang dirancang untuk aman, lancar, dan dapat diandalkan oleh seluruh pengguna.
"Volume transaksi pembayaran digital mencapai 4,67 miliar transaksi atau tumbuh 40,35 persen yoy pada Februari 2026 didukung oleh perluasan akseptasi pembayaran digital," jelasnya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI yang diselenggarakan secara daring dari Jakarta, Rabu (18/3/2026).
QRIS Jadi Penopang Utama
Dari berbagai saluran digital, transaksi melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) menunjukkan kinerja paling spektakuler dengan pertumbuhan melesat 133,2 persen yoy. Sementara itu, transaksi melalui aplikasi seluler dan internet juga tumbuh positif, masing-masing sebesar 9,49 persen dan 22,16 persen. Peningkatan jumlah pengguna dan pedagang yang bergabung dalam ekosistem digital menjadi faktor pendorong utama tren ini.
Infrastruktur Pembayaran Tunjukkan Kinerja Solid
Di sisi infrastruktur, sistem pembayaran ritel BI-FAST mencatatkan 434 juta transaksi dengan pertumbuhan 31,49 persen yoy. Nilai transaksi yang diproses melalui sistem ini pun signifikan, mencapai Rp1.092 triliun.
Sementara untuk transaksi bernilai besar, sistem BI-RTGS mencatat volume 0,76 juta transaksi. Meski volumenya sedikit melambat, nilai transaksi yang ditangani justru tumbuh 9,19 persen yoy menjadi Rp16.105 triliun, mengindikasikan nilai rata-rata per transaksi yang lebih tinggi.
Uang Kartal Beredar Masih Tumbuh
Meski transaksi digital meroket, peredaran uang tunai (Uang Kartal Yang Diedarkan/UYD) tetap menunjukkan ekspansi. Pada periode yang sama, UYD tercatat tumbuh 15,78 persen yoy menjadi Rp1.287 triliun.
"Dari sisi pengelolaan uang rupiah, Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) tumbuh 15,78 persen (yoy) menjadi Rp1.287 triliun pada Februari 2026," ungkap Perry Warjiyo. Data ini menggambarkan dualitas dalam sistem pembayaran Indonesia, di mana digitalisasi berjalan cepat tanpa sepenuhnya menggantikan penggunaan uang fisik.
Artikel Terkait
Baim Wong Jalani Ramadan Pertama sebagai Ayah Tunggal
Kemenkes Ingatkan Pentingnya Persiapan Mental Jelang Mudik Lebaran
Arus Mudik Lebaran 2026 Memuncak di Bakauheni, Antrean Kendaraan Membeludak
Mantan Penasihat Kontraterorisme Trump, Joe Kent, Bertarung ke Kongres Usung Isu Anti Perang Abadi