PARADAPOS.COM - Di tengah percepatan pembangunan infrastruktur fisik di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Nusa Tenggara Barat, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) justru memperkuat komitmennya terhadap pariwisata berkelanjutan. Langkah nyata itu diwujudkan melalui pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga sebagai infrastruktur ekologis. Direktur Komersial dan Marketing ITDC, Febrina Mediana, menyampaikan hal ini di Lombok Tengah pada Jumat, 15 Mei 2026, menegaskan bahwa keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan menjadi prioritas utama.
RTH Bukan Sekadar Lanskap, Melainkan Infrastruktur Ekologis
Menurut Febrina, RTH memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas dan daya saing kawasan pariwisata. Baginya, area hijau ini bukan sekadar penghias lanskap. Lebih dari itu, RTH merupakan infrastruktur ekologis yang berkontribusi nyata terhadap kualitas udara, pengendalian suhu mikro, hingga upaya mitigasi perubahan iklim.
"Pengembangan destinasi pariwisata tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada harmoni lingkungan dan peningkatan kualitas hidup jangka panjang," ujar Febrina di sela-sela kegiatan.
Ia kemudian menambahkan, penguatan RTH di The Mandalika diarahkan untuk menghadirkan ekosistem destinasi yang sehat, nyaman, dan berkelanjutan, tidak hanya indah secara visual. Pendekatan ini, lanjutnya, menjadi fondasi bagi pengalaman wisata yang lebih bermakna.
Mendorong Gaya Hidup Sehat Melalui Wisata Alam
Pengembangan wisata berbasis alam menjadi salah satu strategi utama yang diusung. Aktivitas luar ruangan, wellness tourism, dan rekreasi pesisir dirancang untuk mendorong gaya hidup sehat bagi wisatawan. Konsep ini tidak hanya menarik minat pengunjung, tetapi juga memperkuat posisi pariwisata Indonesia di panggung internasional.
Dari total lahan seluas 1.175 hektare di The Mandalika, ITDC mengalokasikan 363 hektare atau sekitar 30 persen sebagai RTH. Angka ini menunjukkan keseriusan pengelola dalam menyeimbangkan pembangunan fisik dengan ruang terbuka hijau.
"Dari jumlah tersebut, sekitar 19 persen telah dikelola secara aktif sebagai bagian dari upaya konservasi dan peningkatan kualitas lingkungan kawasan," ungkap Febrina.
Rehabilitasi Lingkungan dan Target Ambisius Mangrove
Komitmen terhadap lingkungan juga diwujudkan melalui program rehabilitasi. Sepanjang tahun 2025, ITDC mencatat telah menanam lebih dari 10.400 pohon di kawasan tersebut. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti nyata dari upaya pemulihan ekosistem yang terus berjalan.
Memasuki tahun 2026, target penanaman ditingkatkan menjadi 15.000 pohon mangrove di kawasan pesisir. Langkah ini diambil untuk memperkuat perlindungan alami terhadap abrasi dan memperbaiki habitat pesisir yang menjadi penopang kehidupan biota laut.
"Pengembangan kawasan The Mandalika juga mengintegrasikan konsep green space dan blue space, yaitu perpaduan antara ruang vegetasi dan elemen air seperti pantai, laguna, serta area konservasi," pungkas Febrina.
Artikel Terkait
Berkas Dugaan Ijazah Palsu Jokowi Dinyatakan Lengkap, Kubu Roy Suryo Pertanyakan Transparansi
Tiga Girl Group HYBE, LE SSERAFIM, ILLIT, dan KATSEYE, Umumkan Single Kolaborasi “ICONIC BY MISTAKE”
TAUD Sesalkan Vonis Ringan Kasus Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS, Nilai Perkuat Impunitas TNI
Indonesia U-19 Tantang Australia di Semifinal Piala AFF, Nova Arianto Minta Pemain Tak Gentar