PARADAPOS.COM - Mantan Menteri Luar Negeri RI Hassan Wirajuda mendesak ASEAN untuk memperkuat kerja sama regional di bidang ketahanan energi dan pangan sebagai respons terhadap meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Pernyataan ini disampaikan usai menghadiri Jakarta Forum 2026 di Sekretariat ASEAN, Jakarta, pada Senin, 22 Juni 2026. Menurut Hassan, konflik berkepanjangan di Timur Tengah, termasuk yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat, telah mengganggu pasokan minyak, gas, dan komoditas strategis, sehingga membangun ketahanan kawasan menjadi krusial agar negara-negara ASEAN tidak rentan terhadap guncangan eksternal.
Membangun Ketahanan Melalui Power Grid
Hassan menekankan bahwa keamanan energi tidak lagi bisa dipandang sebagai isu nasional semata. Ia mencontohkan gangguan pasokan akibat konflik di kawasan Teluk sebagai alarm bagi negara-negara di Asia Tenggara. “Karena itu ada mulai dibicarakan kerja sama antarnegara ASEAN untuk berbagi apa yang disebut power grid. Negara yang surplus bisa berbagi atau sama-sama menciptakan pasokan produksi yang memadai untuk masing-masing dan semua,” jelasnya kepada awak media.
Dalam pandangannya, pengembangan konektivitas listrik kawasan melalui skema ini dapat menjadi bantalan saat terjadi krisis pasokan akibat konflik internasional. Ia menilai ASEAN memiliki potensi besar untuk tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga ketahanan pangan melalui kerja sama yang lebih erat di antara para anggotanya. “Jadi kita punya potensi untuk food security maupun energy security dalam arti luas, termasuk electricity, untuk bisa lebih self-sufficient dan resilient. Itu pelajaran yang bisa kita tarik,” tuturnya.
Tatanan Global yang Melemah
Di luar isu energi dan pangan, Hassan menyoroti kondisi tatanan internasional yang semakin rapuh. Ia menilai dunia saat ini tengah menghadapi perubahan besar yang membuat berbagai mekanisme global sulit bekerja secara efektif. Konflik yang terus muncul di kawasan strategis penghasil energi, mulai dari Timur Tengah hingga Amerika Latin, dinilainya berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi dunia.
“Dunianya memang tatanannya sedang amburadul. World order is no longer effective,” ujarnya dengan nada tegas.
Menurut Hassan, situasi ini menunjukkan bahwa negara-negara tidak bisa lagi sepenuhnya bergantung pada sistem internasional yang selama ini menjadi penyangga stabilitas. Karena itu, ia mendorong ASEAN untuk memperkuat kerja sama regional sebagai langkah antisipatif. “Kalau kita pandai membaca apa yang terjadi di dunia sekarang, world order is weakening dan tidak lagi efektif. Obat penawarnya, antidote-nya, adalah kerja sama regional kita majukan, antara kita dan mitra-mitra dialog kita,” pungkasnya.
Suasana di Sekretariat ASEAN sore itu terasa hening saat Hassan menyampaikan pesan tersebut, seolah mengingatkan para hadirin bahwa di tengah ketidakpastian, solidaritas kawasan menjadi satu-satunya jaring pengaman yang tersisa.
Artikel Terkait
Inter Milan Kalahkan Juventus 2-1 di Derby dItalia, Diouf Cetak Gol Penentu
Jenderal AS Diam-diam Cari Jalan Damai dengan Iran di Tengah Klaim Trump soal Perang Segera Berakhir
Sidang Perdana Bos PT DSI Digelar, Kerugian Investasi Syariah Fiktif Capai Rp1,38 Triliun
Operasi Gabungan Gagalkan Penyelundupan 1,3 Ton Ketamin di Perairan Bintan, Delapan ABK Diamankan