Ibu Rumah Tangga Korban PHK Sukses Kembangkan Bisnis Kukis Berbahan Tepung Mocaf hingga Raup Investasi Rp60 Juta

- Senin, 20 Juli 2026 | 07:25 WIB
Ibu Rumah Tangga Korban PHK Sukses Kembangkan Bisnis Kukis Berbahan Tepung Mocaf hingga Raup Investasi Rp60 Juta
PARADAPOS.COM - Seorang ibu rumah tangga yang sempat mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) pada 2005 lalu berhasil merintis usaha kuliner dari dapur rumahnya. Dian Veronika, pendiri DVS Food, kini memasarkan produk andalannya, Kukis BrowMo, ke sejumlah kota seperti Bogor, Lampung, hingga Palembang. Kisah perjuangannya terungkap dalam ajang Juragan Jaman Now Season 5 di Metro TV, di mana ia bersama rekannya, Darryl, memaparkan perjalanan bisnis serta rencana pengembangan usaha melalui investasi.

Kukis BrowMo Hadir dengan Beragam Varian

Dian menceritakan bahwa produk pertamanya adalah Kukis BrowMo varian Dark Choco. Seiring waktu, ia mengembangkan varian lain untuk memperluas pangsa pasar. "Saya menciptakan Kukis BrowMo dengan varian yang pertama yaitu Dark Choco, lalu diikuti varian berikutnya Greentea Almond dan Jahe Gula Aren," jelas Dian dalam tayangan tersebut. Selain tiga varian itu, DVS Food juga menghadirkan rasa Jahe Merah dan Keju. Menurut Dian, keunggulan utama produknya terletak pada penggunaan tepung mocaf, bahan baku lokal yang mudah didapat. "Bahan bakunya lebih mudah didapat dibandingkan tepung lainnya yang juga bebas gluten. Karena terbuat dari singkong jadi petani Indonesia lebih banyak," katanya.

Permintaan Naik, Produksi Belum Mampu Mengimbangi

Dalam sesi presentasi, Darryl mengungkapkan bahwa permintaan Kukis BrowMo melonjak signifikan sepanjang tahun lalu. "Tahun 2025, Kukis BrowMo hanya memiliki kapasitas produksi sebesar 40 sampai 50 pcs per hari. Lalu sekarang karena permintaan toko meningkat menjadi 80 pcs per hari," ujar Darryl. Namun, lonjakan tersebut belum bisa diimbangi dengan kapasitas produksi yang ada. Akibatnya, pengiriman sering terlambat dan beberapa toko kehabisan stok. "Karena kapasitas produksi kita tidak memadai, maka kita jadi sering terlambat dalam pengiriman produk dan bahkan ada beberapa toko yang tidak terisi oleh produk kami," lanjutnya. Untuk mengatasi kendala ini, DVS Food berencana membeli oven, meja kerja, rak, dan troli produksi. Sebagian dana juga dialokasikan untuk memperkuat branding. Dalam ajang tersebut, DVS Food membuka peluang investasi sebesar Rp25 juta dengan imbal hasil 20 persen.

Panelis Nilai Margin Masih Besar

Saat sesi tanya jawab, panelis Rex Marindo menyoroti harga jual dan biaya produksi. Dian menjelaskan bahwa produk dalam kemasan toples dijual ke Michelle Bakery seharga Rp30.750 per toples. Sementara itu, Darryl menyebutkan biaya produksi untuk kemasan toples sekitar Rp10.000 dan Rp6.000 untuk kemasan pouch. Mendengar angka tersebut, Rex menilai DVS Food masih memiliki ruang keuntungan yang cukup besar. "Mungkin saya sedikit kasih solusi, kalau ada permintaan besar seperti itu sebetulnya masih bisa di-outsource kembali kerja sama dengan pemain yang lebih besar. Jadi jangan membatasi diri untuk berkembang karena kekurangan capex saat ini," saran Rex.

Kemasan Dinilai Perlu Menonjolkan Keunggulan Produk

Panelis lain, Dian Onno, memberikan masukan mengenai desain kemasan. Menurutnya, keunggulan produk berbahan tepung mocaf yang bebas gluten belum terlihat jelas di bagian depan kemasan. Hal ini dinilai berpotensi mengurangi daya tarik bagi konsumen yang mencari produk bebas gluten. Menanggapi hal itu, Dian menjelaskan bahwa pihaknya mengikuti ketentuan dari Dinas Kesehatan. "Jadi ini mengacu kepada peraturan dari Dinas Kesehatan bahwa kami tidak boleh mencantumkan kata sehat pada produk ataupun kata gluten free. Jadi saya mensiasatinya dengan menuliskan gluten free pada bahan baku di belakang komposisi," jelas Dian. Ke depan, DVS Food menargetkan peningkatan kapasitas produksi hingga 100 toples per hari. Seluruh produk akan dikirim melalui satu pintu menuju pabrik mitra di Kota Bogor sebelum didistribusikan ke berbagai wilayah.

Dapat Pujian dari Para Juragan

Presentasi Dian Veronika mendapat apresiasi hangat dari para panelis. Irwan Mussry mengaku terkesan dengan cara Dian menjawab setiap pertanyaan dengan tenang dan menunjukkan pemahaman yang matang terhadap bisnisnya. "Saya sangat terkesan dengan cara Ibu menjawab, the way you think sebelum menjawab. Itu sepertinya Ibu sudah secara tidak langsung melihat ini bisnis dari atas dari bird's eye view. Cost factor-nya, financial planning-nya dan sebagainya. Saya sangat terkesan," ujar Irwan. Senada dengan itu, mentor Tom MC Ifle menilai DVS Food memiliki fondasi bisnis yang kuat karena dikelola secara serius. "Bisnis ini dikelola dengan serius, berkualitas, dan ditunjukkan bahwa Ibu Dian memang mempelajari dalam sekali tentang bisnisnya sehingga semua pertanyaan bisa dijawab dengan baik dan dengan tegas," kata Tom MC Ifle. Dengan inovasi berbahan baku lokal, permintaan pasar yang terus meningkat, serta rencana ekspansi kapasitas produksi, DVS Food menjadi salah satu contoh UMKM yang berhasil mengubah tantangan menjadi peluang bisnis yang menjanjikan.

Dapat Investasi Rp60 Juta

Di akhir acara, DVS Food berhasil menarik minat para panelis untuk berinvestasi. Awalnya, Dian menawarkan investasi sebesar Rp25 juta dengan imbal hasil 20 persen saham. Namun, Reino Barack mengajukan negosiasi agar tiga juragan bisa ikut berinvestasi secara bersamaan. "Kalau misalnya kita bertiga masuk, bagaimana kalau masing-masing pegang 16 persen? Jadi totalnya 48 persen, Ibu masih pegang 52 persen," lanjutnya. Skema tersebut disepakati oleh Dian. Dengan demikian, tiga investor masing-masing memperoleh 16 persen saham, sehingga total kepemilikan investor menjadi 48 persen, sementara Dian sebagai pemilik usaha tetap menguasai 52 persen saham. Melalui kesepakatan tersebut, DVS Food berhasil memperoleh investasi senilai Rp60 juta untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi, pembelian peralatan, serta penguatan branding Kukis BrowMo.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar