PARADAPOS.COM - Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkapkan analisisnya mengenai ketegangan geopolitik yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran. Dalam sebuah esai yang diunggah di akun media sosialnya pada Jumat malam, 27 Februari 2026, Yudhoyono menyoroti negosiasi nuklir kritis yang tengah berlangsung di Jenewa dan potensi dampak besarnya, mulai dari perdamaian hingga konflik berskala luas. Tulisan tersebut menggali dinamika kepemimpinan kedua negara serta pertimbangan strategis yang kompleks di balik pilihan untuk berdamai atau berperang.
Esai di Tengah Ketegangan Global
Esai bertajuk "HARI-HARI YANG MENENTUKAN SEJARAH AMERIKA DAN IRAN: PERANG ATAU DAMAI?" itu dipublikasikan SBY di platform X. Ia menggambarkan kota Jenewa, tempat perundingan tidak langsung antara AS dan Iran dilakukan melalui mediator, sebagai lokasi yang damai namun menyimpan ketegangan sejarah. Menurutnya, hasil dari pertemuan ini akan sangat ditunggu, khususnya oleh negara-negara di kawasan Timur Tengah, karena bisa menjadi titik balik yang menentukan.
Yudhoyono, yang kerap menyampaikan pandangan mengenai isu global, mengakui bahwa negosiasi menyangkut program nuklir Iran adalah proses yang sangat rumit. Kepentingan fundamental Washington dan Tehran, ujarnya, sangat berbeda dan berhadap-hadapan layaknya dua kekuatan yang siap bertempur.
Membaca Pikiran Dua Pemimpin
Analisis mantan presiden yang juga pernah bertugas sebagai menteri ini kemudian mengerucut pada karakteristik unik dua pemimpin utama. Ia menilai bahwa Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei sama-sama membawa ego, ambisi, dan kepentingan pribadi yang kuat ke dalam meja perundingan.
Dalam esainya, SBY menuliskan:
"Keduanya memiliki ego, ambisi dan juga 'personal interest'. Trump khawatir kalau sampai gagal, reputasi serta 'legacy' indah yang ingin diraih bisa hancur berantakan. Ali Khamenei juga khawatir kalau sengketa sengit dengan Amerika ini, jika nasibnya naas, bisa berakhir dengan pergantian rezim dan 'he must go'," tulisnya.
Ia menambahkan,
"Berarti, ini merupakan 'survival interest' buat pemimpin Iran itu," sebut SBY lagi.
Dilema antara Meja Perundingan dan Medan Tempur
Berdasarkan pengalamannya dalam resolusi konflik, SBY menyebut negosiasi semacam ini membutuhkan kesabaran, kecerdasan, dan kesiapan untuk berkompromi. Meski banyak prediksi yang menyatakan kegagalan perundingan akan langsung memicu perang, ia melihat skenario itu tidak mutlak. Menurutnya, baik Trump maupun Khamenei tidak akan gegabah memerintahkan perang karena risiko dan harga yang harus dibayar terlalu tinggi.
Pertimbangan rasional seorang panglima, lanjutnya, harus menjawab dua hal mendasar: apakah perang benar-benar suatu keharusan ("war of necessity") atau hanya pilihan ("war of choice"), serta apakah kalkulasi kemenangan dapat dijamin. Ia mengingatkan bahwa suara rakyat dan pertimbangan para jenderal di lapangan harus didengar, tidak boleh terkubur oleh ego pemimpin.
Pelajaran dari Sejarah dan Sebuah Pesan
Yudhoyono memberikan catatan khusus bagi Amerika Serikat, dengan mengajak untuk belajar dari pengalaman pahit di Vietnam, Irak, dan Afghanistan. "Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan," tulisnya, menyiratkan kompleksitas dan kekuatan yang berbeda dari negara Persia tersebut. Ia mempertanyakan kemudahan AS untuk mencapai kemenangan mutlak atau bahkan untuk keluar dari konflik jika perang benar-benar terjadi.
Di akhir esainya, SBY menyampaikan pesan personal yang dalam, tidak hanya untuk Trump dan Khamenei, tetapi untuk semua pemimpin dunia yang memegang kendali atas keputusan perang. Pesan itu berangkat dari pengalaman tiga dekadenya di dunia militer.
"Para perwira dan para prajurit itu juga punya jiwa, punya keyakinan, punya akal sehat, dan tentunya punya harapan. Kalau soal berkorban untuk nusa dan bangsa, tentara selalu siap mengorbankan jiwa dan raganya. Hal itu tidak perlu diragukan," ungkapnya.
Namun, ia menekankan bahwa semangat juang prajurit lahir dari pemahaman akan tujuan. SBY mengutip sebuah kalimat penting:
"'Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for' (Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati)."
Esai ini ditutup dengan tanda tangan ""SBY"", menegaskan otoritas dan tanggung jawab atas pandangan yang disampaikannya. Analisis tersebut muncul sebagai sebuah refleksi yang hati-hati di tengah situasi dunia yang mencemaskan, menawarkan perspektif dari seorang negarawan yang memahami betul beratnya beban keputusan di tingkat strategis tertinggi.
Artikel Terkait
Kekerasan terhadap Mahasiswi UIN Suska Riau Ungkap Dugaan Perselingkuhan
Video Kedekatan Mahasiswi UIN Riau dengan Terduga Pelaku Bacok Viral, Polisi Selidiki Motif
Kritik BEM UGM terhadap Program Pemerintah Soroti Peran Kontrol Mahasiswa dalam Demokrasi
Percakapan WhatsApp Ungkap Suasana Panik Saat Pembacokan di UIN Suska Riau