Dolar AS Menguat Terdorong Ketegangan AS-Iran, Euro dan Pound Tertekan

- Selasa, 21 Juli 2026 | 01:25 WIB
Dolar AS Menguat Terdorong Ketegangan AS-Iran, Euro dan Pound Tertekan
PARADAPOS.COM - Dolar Amerika Serikat menguat pada perdagangan Senin waktu setempat, terdorong oleh lonjakan permintaan terhadap aset aman di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran. Indeks dolar (DXY) naik 0,19 persen ke posisi 100,957, mengukur penguatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia. Sentimen ini dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menegaskan Iran akan “membayar” atas tewasnya tiga personel militer AS. Penguatan dolar terjadi di saat euro melemah ke USD1,1415, poundsterling turun ke USD1,3436, dan yen Jepang melemah ke 162,50 yen per dolar. Di pasar valuta asing New York, tekanan jual terhadap mata uang utama lainnya juga terlihat jelas. Dolar AS menguat terhadap franc Swiss menjadi 0,8100 franc dari 0,8075 franc sebelumnya. Tak hanya itu, dolar Kanada melemah ke 1,4059 per dolar AS, sementara krona Swedia turun ke 9,6856. Pergerakan ini mencerminkan peralihan modal investor ke aset berbasis dolar AS sebagai respons terhadap risiko geopolitik yang meningkat.

Konflik Timur Tengah Jadi Penopang Dolar

Para pelaku pasar menilai eskalasi di Timur Tengah menjadi katalis utama yang menopang penguatan dolar AS. Faktor ini semakin dominan mengingat agenda data ekonomi Amerika Serikat yang relatif minim pekan ini. Selain itu, para pejabat Federal Reserve memasuki periode blackout menjelang rapat kebijakan, sehingga isu geopolitik menjadi sorotan utama. Sebelumnya, dolar sempat tertekan pada pekan lalu setelah data inflasi AS menunjukkan perlambatan. Hal ini memicu penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga dalam jangka pendek. Data ekonomi terbaru mengonfirmasi moderasi indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI). Penjualan ritel di sektor SPBU juga menurun secara bulanan, sementara survei Universitas Michigan mencatat sentimen konsumen pada Juli mencapai level tertinggi sejak Februari, disertai penurunan ekspektasi inflasi satu tahun ke depan. Kondisi ini memberi ruang bagi Federal Reserve untuk tidak terburu-buru memperketat kebijakan moneternya. Namun, ketegangan baru di Timur Tengah kembali mengubah kalkulasi risiko di pasar.

Ekspektasi Suku Bunga The Fed Menurun

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada akhir Juli turun drastis menjadi sekitar 16 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan hampir 42 persen pada awal bulan. Pasar kini lebih skeptis terhadap langkah agresif The Fed. Meski demikian, risiko inflasi kembali menjadi perhatian setelah harga minyak melonjak akibat memburuknya hubungan AS dan Iran. Sebelumnya, perlambatan inflasi pada Juni banyak dipengaruhi oleh penurunan harga energi setelah kedua negara mencapai kesepakatan damai sementara. Kini, dinamika tersebut berpotensi berbalik arah. Sejumlah pejabat Federal Reserve tetap pada pendirian bahwa perjuangan menekan inflasi belum usai. Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dan Presiden Federal Reserve Dallas Lorie Logan menegaskan kebijakan moneter masih perlu dijaga ketat. “Kebijakan moneter masih perlu dijaga ketat, termasuk mempertahankan suku bunga pada level yang relatif tinggi,” ujar Warsh dalam pernyataannya. Di sisi lain, investor juga menantikan keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) yang dijadwalkan pada Kamis. Pasar memperkirakan ECB akan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, bank sentral tersebut diperkirakan tetap menyampaikan sikap hawkish, dengan menegaskan bahwa arah kebijakan selanjutnya akan bergantung pada perkembangan data ekonomi dan inflasi.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar