Barito Renewables Dikabarkan Ajukan Penawaran Akuisisi Perusahaan Panas Bumi Terbesar Filipina Senilai US$5 Miliar

- Selasa, 21 Juli 2026 | 02:00 WIB
Barito Renewables Dikabarkan Ajukan Penawaran Akuisisi Perusahaan Panas Bumi Terbesar Filipina Senilai US$5 Miliar
PARADAPOS.COM - Langkah ekspansi bisnis energi terbarukan konglomerat Indonesia, Prajogo Pangestu, dikabarkan mulai merambah Filipina. Barito Renewables Energy, perusahaan di bawah kendalinya, disebut telah mengajukan penawaran untuk mengakuisisi Energy Development Corp. (EDC), perusahaan panas bumi terbesar di Filipina. Nilai transaksi potensial ini diperkirakan mencapai sekitar US$5 miliar. Informasi tersebut diungkapkan oleh First Gen Corp., pemegang saham utama EDC, dalam keterbukaan informasi yang disampaikan pada Selasa lalu. First Gen menyebut telah menerima proposal yang bersifat indikatif, tidak diminta sebelumnya, dan belum mengikat secara hukum. Penawaran itu, menurut mereka, masih bergantung penuh pada proses uji tuntas (due diligence) serta berbagai persetujuan regulasi yang diperlukan. Belum Ada Pembahasan Resmi First Gen menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada pembahasan resmi yang berlangsung maupun kesepakatan yang ditandatangani antara kedua belah pihak. Perusahaan juga menyatakan belum menunjuk penasihat keuangan untuk menangani potensi transaksi tersebut. "Kami ingin mengklarifikasi bahwa tidak ada diskusi formal atau perjanjian yang telah dibuat," demikian pernyataan resmi manajemen First Gen. Profil Energy Development Corp (EDC) EDC merupakan pemain utama di sektor energi panas bumi Filipina. Perusahaan yang diakuisisi grup Lopez dari pemerintah Filipina pada 2007 ini mengoperasikan 16 pembangkit listrik panas bumi dengan kapasitas terpasang mencapai 1.302,78 megawatt. Portofolio EDC tidak berhenti di situ; mereka juga memiliki pembangkit energi terbarukan lain, termasuk tenaga air, surya, dan angin, dengan total kapasitas hampir 300 megawatt. Strategi Ekspansi Energi Bersih Prajogo Minat Barito Renewables terhadap EDC sejalan dengan strategi ekspansi Prajogo Pangestu di sektor energi bersih dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, ia membawa Barito Renewables Energy melantai di bursa efek bersamaan dengan perusahaan tambangnya, Petrindo Jaya Kreasi. Melalui Star Energy Geothermal Group, Barito Renewables saat ini mengelola tiga proyek panas bumi di Jawa Barat dengan total kapasitas sekitar 886 megawatt. Capaian ini menjadikannya salah satu produsen listrik panas bumi terbesar di Indonesia. Ekspansi bisnis Prajogo juga merambah kerja sama regional. Pada 2024, Barito Renewables menggandeng perusahaan energi Filipina ACEN, yang dipimpin Jaime Augusto Zobel de Ayala, untuk mengembangkan proyek pembangkit listrik tenaga angin di Indonesia. Diversifikasi Bisnis di Singapura Di luar bisnis energi terbarukan, kelompok usaha Prajogo juga memperkuat posisinya di Singapura. Pada April 2025, perusahaan patungan Chandra Asri Pacific dan Glencore menuntaskan akuisisi aset kilang minyak serta petrokimia milik Shell di negara tersebut. Beberapa bulan kemudian, Chandra Asri kembali memperluas bisnisnya dengan mengambil alih jaringan SPBU Esso di Singapura. Profil Kekayaan dan Latar Belakang Berdasarkan data real-time Forbes, kekayaan Prajogo Pangestu mencapai sekitar US$15,4 miliar, menempatkannya sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. Kekayaannya berasal dari Barito Pacific, perusahaan yang awalnya bergerak di sektor kayu sebelum bertransformasi menjadi grup besar di bidang energi dan petrokimia. Sementara itu, keluarga Lopez merupakan salah satu klan bisnis terkemuka di Filipina. Selain memiliki kepentingan di sektor energi melalui First Gen dan EDC, mereka juga berbisnis di bidang properti dan media. Salah satu aset media mereka yang paling dikenal adalah ABS-CBN, yang sebelumnya merupakan jaringan televisi terbesar di Filipina sebelum izin siarannya tidak diperpanjang oleh Kongres pada 2020.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar