Investasi Hilirisasi Bauksit Melonjak 193 Persen, Geser Dominasi Nikel di Kuartal II 2026

- Selasa, 21 Juli 2026 | 04:25 WIB
Investasi Hilirisasi Bauksit Melonjak 193 Persen, Geser Dominasi Nikel di Kuartal II 2026
PARADAPOS.COM - Realisasi investasi hilirisasi bauksit melonjak 193 persen menjadi Rp40,1 triliun pada kuartal II 2026, dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar Rp13,7 triliun. Angka ini menjadikan bauksit sebagai komoditas dengan realisasi investasi hilirisasi terbesar pada periode tersebut, menggeser posisi nikel yang selama ini mendominasi sektor pengolahan mineral. Data tersebut disampaikan Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BKPM, Rosan Roeslani, dalam keterangan resmi di Jakarta pada Selasa, 21 Juli 2026.

Bauksit Geser Dominasi Nikel

Rosan menjelaskan bahwa pergeseran ini merupakan fenomena baru dalam lanskap investasi hilirisasi nasional. Sebelumnya, nikel selalu menjadi primadona dengan nilai investasi tertinggi. Kini, bauksit untuk pertama kalinya mengambil alih posisi teratas. "Kalau kita lihat, biasanya itu nikel selalu di nomor satu. Nah ini, ada shifting, bauksit menjadi nomor satu, karena memang ada beberapa pembangunan bauksit, baik yang dilakukan oleh dalam negeri maupun luar negeri, sehingga bauksit ini untuk pertama kali mengambil tempat nomor satu sesudah nikel," ujar Rosan. Nilai investasi bauksit tersebut melampaui investasi hilirisasi nikel yang tercatat sebesar Rp29,4 triliun. Disusul oleh tembaga dengan Rp16,7 triliun, besi baja Rp13,2 triliun, pasir silika Rp4 triliun, serta komoditas lainnya seperti timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal Buton, dan logam tanah jarang yang mencapai Rp4,7 triliun. Secara keseluruhan, realisasi investasi hilirisasi pada kuartal II 2026 mencapai Rp152,7 triliun. Angka ini meningkat 5,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sektor ini menyumbang 29,8 persen terhadap total realisasi investasi nasional yang mencapai Rp511,8 triliun.

Dukungan Pembangunan Smelter Bauksit

Menurut Rosan, lonjakan investasi ini tidak terlepas dari pembangunan sejumlah fasilitas pengolahan dan pemurnian alias smelter bauksit oleh investor dalam dan luar negeri. Ia menambahkan, pergeseran ini menandakan bahwa program hilirisasi nasional mulai menyebar lebih merata dan tidak lagi bertumpu pada satu komoditas saja. Peningkatan investasi ini, lanjut Rosan, tidak hanya menciptakan nilai tambah industri tetapi juga berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja. BKPM mencatat, realisasi investasi sepanjang Januari hingga Juni 2026 mampu menyerap 1.448.862 tenaga kerja. Jumlah itu meningkat sekitar 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. "Dan ini, kalau di triwulan kedua saja, penyerapan tenaga kerjanya 742.263 orang atau meningkat 5,1 persen," ungkap Rosan. Salah satu proyek yang menjadi tulang punggung pengembangan hilirisasi bauksit adalah Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek ini dikembangkan oleh Grup MIND ID melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) bersama PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi satu juta ton alumina per tahun dengan kebutuhan bahan baku sekitar 3,3 juta ton bauksit setiap tahun, guna memperkuat rantai pasok industri aluminium nasional.

Investasi Sektor Pengolahan Mineral Tumbuh

Anggota Komisi XII DPR, Eddy Soeparno, menyambut baik capaian ini. Menurutnya, peningkatan investasi hilirisasi bauksit menunjukkan bahwa sektor pengolahan mineral mulai berkembang di luar nikel. "Kami menyambut gembira capaian investasi di sektor hilirisasi bauksit melalui peningkatan tajam investasi smelter. Jika dilihat dari perkembangannya di masa lalu, kita memang menunggu lebih banyak lagi investasi di sektor smelter bauksit karena cenderung tertinggal dibandingkan investasi di sektor nikel," ucap Eddy. Eddy berharap pembangunan smelter tidak berhenti pada tahap pengolahan awal. Ia mendorong agar pengembangan berlanjut hingga ke industri hilir agar Indonesia bisa meraih nilai tambah yang lebih besar. "Oleh karena itu, kami berharap investasi smelter bauksit juga diikuti oleh pengembangan industri hilir dari bauksit lebih lanjut, agar negara dapat memaksimalkan nilai tambah dari produk hilir bauksit," tuturnya. Senada dengan Eddy, Anggota Komisi XII DPR lainnya, Syarif Fasha, juga mengapresiasi peningkatan investasi tersebut. Ia berharap tren pertumbuhan ini dapat dipertahankan secara berkelanjutan sehingga memberikan manfaat jangka panjang bagi perekonomian nasional. "Terkait capaian ini perlu diapresiasi. Meski begitu tren ini jangan hanya bersifat sementara tapi harus konsisten dan bila perlu bisa ditingkatkan," kata Syarif. Syarif juga menekankan bahwa keberhasilan hilirisasi harus dirasakan oleh daerah-daerah penghasil sumber daya alam. Ia meminta agar pembagian manfaat dilakukan secara adil sesuai dengan ketentuan yang berlaku. "Yang perlu diperhatikan pemerintah adalah kita perlu menjaga dengan baik daerah penghasil sumber daya dan para pengelolanya. Misalnya, dana bagi hasil untuk daerah jangan dipotong atau diutangi terus serta berikan hak daerah sesuai undang-undang yang berlaku," ujar dia.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar