PARADAPOS.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Selasa, 20 Juli 2026, menembus level 6.340. Berdasarkan data RTI, indeks melesat 108,240 poin atau setara 1,74 persen ke posisi 6.340,020 setelah dibuka di level 6.273. Sepanjang sesi, IHSG bergerak di rentang 6.247 hingga 6.340, dengan total volume saham yang diperdagangkan mencapai 51,063 miliar lembar senilai Rp21,501 triliun. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp11.069,356 triliun dengan frekuensi transaksi sebanyak 2.942.060 kali.
Mayoritas Saham Menguat, Investor Menanti Sinyal BI
Laju positif ini didorong oleh aksi beli yang cukup agresif. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 421 saham berhasil menguat. Sementara itu, 205 saham lainnya terpantau melemah, dan 169 saham stagnan. Pergerakan ini terjadi di tengah sikap pelaku pasar yang cenderung wait and see menjelang pengumuman kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).
"Diperkirakan IHSG berpotensi uji level resistance di 6.250-6.300, meskipun perlu diwaspadai potensi profit taking," ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, dalam kajiannya yang dikutip di Jakarta.
Rapat Dewan Gubernur BI Jadi Sorotan
Dari dalam negeri, fokus utama tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang digelar pada Selasa dan Rabu, 22 Juli 2026. Salah satu agenda krusialnya adalah menentukan arah BI-Rate yang saat ini masih bertahan di level 5,75 persen. Sepanjang tahun 2026, bank sentral telah menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali dengan total akumulasi 100 basis poin (bps).
Data terbaru dari Survei Perbankan BI menunjukkan adanya sinyal positif. Nilai saldo bersih tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru pada kuartal II 2026 mencapai 93,08 persen. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan posisi 38,74 persen pada kuartal sebelumnya, dan juga lebih tinggi dari 85,22 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Penyaluran kredit modal kerja mencatatkan SBT tertinggi sebesar 94,34 persen, diikuti kredit investasi 93,51 persen, dan kredit konsumsi 83,67 persen. Meski demikian, BI mencatat bahwa perbankan mulai menerapkan standar pemberian kredit yang lebih ketat pada kuartal II 2026. Kenaikan ini mengindikasikan aktivitas ekonomi masih ekspansif seiring dengan meningkatnya permintaan akan kredit.
Konflik Global dan Harga Minyak Membayangi
Dari mancanegara, eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran turut mewarnai pergerakan pasar. Ketegangan ini mendorong kenaikan harga minyak mentah global. Sentimen sempat membaik setelah juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran membangkitkan harapan akan adanya penyelesaian diplomatik.
Namun, meningkatnya konflik tersebut menambah ketidakpastian pasar. Kekhawatiran investor terhadap valuasi saham di sektor kecerdasan buatan (AI) juga masih membayangi.
"Jika harga minyak bertahan di level tinggi pada waktu yang lama, akan mendorong kenaikan kembali inflasi AS, serta meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed," jelas Ratna.
Editor: Clara Salsabila
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Kadin Kalteng Lantik Andri Aan Pimpin Komite Digitalisasi untuk Akselerasi Ekonomi Daerah
Menteri PU Andalkan Sistem Whistleblowing untuk Tindak Pelanggaran, dari Judi Online hingga Korupsi
Kementerian Kehutanan Mulai Modifikasi Cuaca 12 Hari di Sumsel untuk Redam Karhutla
Imigrasi Bongkar Praktik 10 WNA Pakistan dan Iran Pakai Izin Tinggal Investor Palsu untuk Transit ke Eropa