Tentara Lebanon Mulai Dikerahkan ke Zawtar al-Gharbiyeh Usai Penarikan Israel, Warga Belum Bisa Kembali

- Selasa, 21 Juli 2026 | 22:50 WIB
Tentara Lebanon Mulai Dikerahkan ke Zawtar al-Gharbiyeh Usai Penarikan Israel, Warga Belum Bisa Kembali
PARADAPOS.COM - Tentara Lebanon mulai dikerahkan ke Kota Zawtar al-Gharbiyeh di Lebanon selatan pada Selasa, 21 Juli 2026, menyusul penarikan pasukan Israel dari wilayah tersebut. Pengerahan ini menjadi ujian pertama bagi kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat, yang mengatur penyitaan senjata Hizbullah dan penarikan bertahap pasukan Israel. Warga diminta tidak kembali ke kota tersebut hingga kondisi keamanan dinyatakan stabil oleh tim teknik militer yang masih menyisir kawasan untuk mencari bahan peledak.

Uji Coba Perdamaian di Lapangan

Langkah ini merupakan implementasi awal dari kesepakatan yang mengatur pengerahan tentara Lebanon untuk menyita senjata milik kelompok Hizbullah di sejumlah wilayah Lebanon selatan. Kesepakatan itu juga mencakup penarikan pasukan Israel secara bertahap. Militer Israel pada Senin menyatakan program yang disebut sebagai "pilot zone programme" telah dimulai, namun hingga Selasa pihaknya belum memberikan komentar lebih lanjut. Pemerintah Lebanon berharap langkah ini dapat membuka jalan bagi pemulihan kendali atas kawasan sedalam sekitar 10 kilometer di wilayah selatan yang masih diduduki pasukan Israel. Tentara Lebanon menyatakan pasukannya telah mulai memasuki Zawtar al-Gharbiyeh di wilayah Nabatieh. Namun, warga diminta tidak kembali ke kota tersebut hingga kondisi keamanan dinyatakan stabil. Seorang pejabat militer Lebanon mengatakan tim teknik militer masih menyisir kawasan itu untuk mencari bahan peledak yang belum meledak sebelum wilayah tersebut dinyatakan aman bagi penduduk. Proses ini menjadi krusial mengingat tingkat kerusakan yang parah di kota tersebut.

Kota Belum Layak Huni

Wali Kota Zawtar al-Gharbiyeh, Abed Ezzeddin, mengatakan tim teknik militer telah memasuki wilayah tersebut dan pemerintah daerah masih menunggu arahan lebih lanjut. "Kami akan memberi tahu warga setelah wilayah dipastikan aman dan berada di bawah kendali tentara," ujarnya. Ezzeddin menggambarkan tingkat kerusakan di kota itu sangat parah. Menurutnya, lebih dari separuh wilayah kota hancur, sementara bangunan yang masih berdiri mengalami kerusakan berat sehingga kawasan tersebut belum layak dihuni. Ia juga mempertanyakan keamanan warga untuk kembali karena pasukan Israel masih berada di kota tetangga, Zawtar al-Sharqiyeh, yang hanya berjarak sekitar lima menit berjalan kaki. "Bagaimana saya bisa yakin dapat memasuki Zawtar al-Gharbiyeh dengan aman? Bagaimana saya bisa berpikir untuk kembali menetap di sana sementara pasukan Israel masih berada tepat di sebelah kami di Zawtar al-Sharqiyeh?" katanya.

Prospek Perdamaian Israel-Lebanon

Militer Israel pada Senin mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah melakukan penataan ulang pengerahan pasukan sebagai bagian dari program percontohan tersebut. Seorang pejabat militer Israel mengatakan program itu menjadi uji kemampuan Angkatan Bersenjata Lebanon untuk menjalankan kedaulatan sebagai satu-satunya otoritas resmi yang berwenang membawa senjata di tiga desa percontohan. Sejumlah pejabat Israel sebelumnya menyatakan keraguan terhadap kemampuan Lebanon melucuti senjata Hizbullah. Meski demikian, Israel menilai kesepakatan yang dicapai bulan lalu merupakan langkah penting menuju perdamaian jangka panjang dengan Lebanon. Presiden Lebanon Joseph Aoun dijadwalkan bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington pada Selasa.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar