Pria di Surabaya Raup Omzet Rp18 Juta per Bulan dari Ternak Burung Blackthroat di Pekarangan Rumah

- Selasa, 21 Juli 2026 | 23:00 WIB
Pria di Surabaya Raup Omzet Rp18 Juta per Bulan dari Ternak Burung Blackthroat di Pekarangan Rumah
PARADAPOS.COM - Seorang pria di Surabaya membuktikan bahwa hobi memelihara burung bisa berubah menjadi ladang cuan yang menggiurkan. Murdopo, warga Dupak Masigit, Kota Surabaya, Jawa Timur, sukses mengantongi omzet hingga Rp18 juta per bulan hanya dari beternak burung Blackthroat di rumahnya. Berawal dari kegemaran pribadi, kini budidaya burung kicau mungil asal Afrika itu menjadi sumber penghasilan utama keluarganya.

Dari Hobi ke Sumber Penghasilan Utama

Awalnya, Murdopo hanya menekuni dunia burung kicau sebagai pelepas penat di waktu senggang. Namun, ketekunannya membuahkan hasil yang tak terduga. Kini, tanpa perlu lahan luas, ia mampu mendatangkan pendapatan belasan juta rupiah setiap bulannya hanya dari pekarangan rumah. Di balik ukuran tubuhnya yang mungil, burung Blackthroat ternyata menyimpan nilai ekonomi yang fantastis. Menangkar burung ini tidak membutuhkan kandang besar atau lahan khusus. Cukup dengan sangkar kecil atau sistem pok-pokan, siapa pun bisa memulainya.

Tantangan Terberat: Proses Penjodohan

Meski terlihat mudah, ada satu fase yang menjadi momok bagi para peternak Blackthroat. Murdopo mengungkapkan bahwa proses terberat dalam budidaya burung ini justru terletak pada masa penjodohan atau breeding. "Proses terberat itu saat menjodohkan. Pasangan burung butuh waktu sekitar satu minggu atau lebih agar mau menyatu dan berkembang biak. Kuncinya harus tenang. Kalau ada suara bising atau gangguan, mereka bisa gagal kawin, bahkan indukan bisa memecahkan telurnya sendiri karena stres," tutur Murdopo, Selasa (21/7/2026). Sensitivitas burung terhadap kebisingan dan gangguan lingkungan menjadi tantangan tersendiri. Suasana yang tidak kondusif bisa membuat pasangan gagal kawin, atau yang lebih parah, indukan memecahkan telurnya sendiri akibat stres.

Harga Stabil Berkat Tingkat Kesulitan Tinggi

Tingkat kesulitan dalam penjodohan dan sifat sensitif burung inilah yang membuat harga jual Blackthroat di pasaran tetap tinggi dan stabil. Pasokan yang terbatas dan proses breeding yang rumit menjadi faktor utama mahalnya harga burung ini. Untuk jenis Boswana yang berusia dua bulan, Murdopo menjualnya dengan harga Rp750.000 hingga Rp800.000 per ekor. Setiap bulan, ia mampu menjual 9 hingga 10 ekor. Sementara itu, jenis Somerini dengan usia yang sama dibanderol Rp1.500.000 per ekor, dengan penjualan mencapai 4 hingga 7 ekor per bulan.

Strategi Pemasaran: Dari Medsos hingga Gantangan

Untuk menjangkau pembeli dari berbagai daerah, Murdopo tidak hanya mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut. Ia memanfaatkan media sosial, khususnya Facebook, sebagai etalase digital bisnisnya. Lewat platform itu, ia bisa memperkenalkan hasil ternaknya ke calon pembeli di luar Surabaya. Selain pemasaran daring, ada jalur lain yang tak kalah menguntungkan. Burung-burung Blackthroat hasil penangkaran Murdopo kerap menorehkan prestasi di ajang perlombaan kicau atau gantangan. Begitu menjadi juara, para kolektor dan sesama penghobi langsung membeli burung tersebut di tempat dengan harga yang fantastis.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar